Hipotesis Cinta

Hipotesis Cinta
Eps 41


__ADS_3

Keesokan harinya, Aisyah menghampiri pak Dhiaz yang baru saja keluar dari kelas B. “Maaf mengganggu sir, mau tanya. Apa sir punya waktu luang hari ini? Aku mau konsul proposal sir.”


“Hari ini aku sibuk. Lain kali saja,” jawab pak Dhiaz judes.


“Jadi kapan kira-kira aku bisa konsul sir?”


“Mungkin pekan depan. Tau sendiri kan pekan ini aku sibuk mengurusi pernikahanku.”


“Oh, iya. Maaf mengganggu sir, terima kasih sebelumnya.”


“Okay, sama-sama.” Pak Dhiaz lalu berjalan dengan begitu entengnya meninggalkan Aisyah.


Aisyah kembali ke kelas, proposalnya dia letakkan di atas meja. Beberapa menit kemudian, “Bukannya kamu mau konsul yah Ai?” tanya Ismi yang baru saja datang dari kantin.


“Iya, mau. Tapi pak Dhiaz bilang hari ini sampai pekan depan dia sibuk. Jadi aku belum bisa konsul.”


“Hah? Sibuk? Masa’ sih pak Dhiaz sibuk? Info darimana Ai?” tanya Ismi keheranan.


“Pak Dhiaz sendiri tadi yang bilang ke aku.”


“Tapi banyak kok senior yang konsul ke dia.”


“Serius Is?” tanya Aisyah tidak percaya.

__ADS_1


“Iya Ai, tiga rius. Kalau tidak percaya cek saja sendiri di kantin!”


Cepat-cepat Aisyah berdiri, dia kemudian melangkahkan kakinya ke kantin. “Apa sebenci itu pak Dhiaz ke aku? Sampai-sampai urusanku dipersulit terus,” batinnya setelah menyaksikan langsung kebenaran ucapan Ismi tadi.


Dengan perasaan hancur, Aisyah kembali ke kelas. “Benar kan yang kubilang?” sambut Ismi.


“Iya,” jawab Aisyah dengan ekspresi datar.


Dia buru-buru mengambil tasnya. Pikirannya kacau, dan dia butuh healing. Jadi dia memutuskan untuk ke taman tepi danau sekarang juga.


Sementara di kantin, gawai pak Dhiaz bergetar. Dia segera mengangkat panggilan telepon yang berasal dari pak rektor. “Iya, ada apa pak?”


“Tolong ke ruanganku sekarang,” tutur pak rektor lalu mengakhiri panggilannya.


“Konsulnya lain kali saja ya,” ujar pak Dhiaz pada mahasiswa yang ada di situ.


“Jadi begini pak Dhiaz. Besok siang ada lomba debat se-SulSelBar. Tempatnya masih sama dengan yang kemarin, tolong dihandle ya.”


“Baik pak,” jawab pak Dhiaz dengan terpaksa.


“Sebentar lagi menikah, tapi masih harus mengemban tugas melintas provinsi. Mana bu Nadia dan yang lain pelatihan lagi. Mau tidak mau aku harus berangkat berdua saja dengan Acha,” batinnya saat keluar dari ruangan pak rektor.


Dia kembali mengoperasikan gawainya untuk menghubungi Acha. “Halo. Assalamu ‘alaykum.”

__ADS_1


“Wa ‘alaykumsalam sir,” balas Acha dengan suara parau.


Pak Dhiaz jadi khawatir mendengarnya. “Kamu sakit ya?”


“Iya sir.”


“Gosh, padahal besok ada lomba debat di Sulbar. Kamu masih bisa ikut kan?”


“Tidak bisa sir, aku sedang diinfus di rumah sakit. Kata dokter, tiga hari lagi baru bisa keluar.”


“Okay then. Cepat sembuh yah Acha.”


“Iya sir, terima kasih atas doanya.


Pak Dhiaz mengakhiri panggilannya. “Kalau Acha sakit, terus siapa yang akan ikut lomba debatnya?” monolognya frustasi.


Pak Dhiaz berpikir sejenak. Hingga muncullah satu nama di otaknya. “Adifa, aku harus menghubunginya sekarang.”


Dia mengarahkan jari-jemarinya ke fitur kontak, karena dia akan menghubungi Adifa. Tapi tidak jadi, karena ada panggilan telepon dari bu Reka.


“Bukannya bu Reka pelatihan ya?” gumamnya.


“Aku cuman punya waktu sepuluh menit untuk menelepon. Tadi pak rektor menghubungiku, katanya ada lomba debat. Aku sudah menghubungi Acha untuk ikut lombanya. Tapi ternyata dia sakit, dan orang yang paling cocok untuk menggantikannya adalah Aisyah.”

__ADS_1


“Kenapa harus Aisyah? Adifa saja kak.”


“Pemaparan fakta Aisyah lebih tajam dari Adifa. Kuakui Adifa memang mahir berargumen, tapi dia lemah di sumber. Sudah ya, aku akan hubungi Aisyah sekarang.”


__ADS_2