
International Maritime Youth Program berakhir dengan kepuasan para peserta. Karena itulah mereka semua memberi kesan dan pesan positif terkait program tersebut.
Sebelum bubar, salah satu peserta asal Rusia menghampiri Aisyah. “Excuse me sister, I just wanna tell you that my friend likes you. He asked me to say this to you, coz he is a shy.”
Lelaki itu berbalik untuk menunjukkan temannya yang katanya menyukai Aisyah. Ismi dan Aisyah pun memandang ke arah lelaki yang pria Rusia itu maksud.
Seorang lelaki tampan berkulit putih, berbadan tinggi, sedang berdiri di sana. Dia tersenyum manis ke arah mereka bertiga.
Lelaki itu menyodorkan gawainya pada Aisyah. “If you don’t mind, please give him your phone number.”
Aisyah menyambut hangat permintaan lelaki itu. Dengan senang hati dia menuliskan dua belas digit angka ponsel. Dari kejauhan, pak Dhiaz kesal sekali melihat lelaki itu mendekati Aisyah.
“Thank you so much,” ucap sang lelaki.
“Most welcome brother,” balas Aisyah.
“Mentang-mentang lelaki Rusia itu ganteng, kamu gampang sekali kasih nomor handphone ke dia. Biasanya juga kamu susaaah sekali kasih nomor ke lelaki.” Ismi menyenggol pelan Aisyah.
“Gantengan lelaki itu atau pak Putra?” tanya Aisyah.
“Gantengan lelaki itu lah, pak Putra mah kalah jauh.”
“What do you feel kalau lelaki itu menghubungimu? Kamu akan senang atau marah?”
“Ya senang lah Aisyah, masa’ mau marah. Kapan lagi dichat bule tampan.” Ismi terkekeh, tangannya memukul bahu Aisyah.
“Alhamdulillah kalau kamu senang,” tutur Aisyah dengan perasaan lapang.
“Alhamdulillah kenapa Ai?” Ismi menatap tajam pada Aisyah. Ucapan Aisyah barusan membangkitkan rasa penasarannya.
“Nomor yang kusimpan di handphone lelaki tadi itu nomor handphone kamu.” Aisyah terkekeh setelah mengungkap kebenarannya.
“Ya ampun Aisyah, usil banget sih. Untung lelaki Rusia itu ganteng. Lain kali jangan begitu lagi Ai,” ujar Ismi sembari mencubit Aisyah dengan pelan untuk memberikan efek jera.
Aisyah berusaha menghindari cubitan Ismi, hingga tak sadar dia menabrak seseorang di belakang. Aisyah berbalik dengan cepat, rupanya yang dia tabrak adalah pak Dhiaz.
“Astaghfirullah, maaf sir aku tidak sengaja.”
__ADS_1
“It is okay Aisyah. Anyway, aku akan antar kalian berdua pulang.” Pak Dhiaz tujukan ucapan itu pada Aisyah dan Ismi yang berdiri dekat darinya.
“Serius sir?” tanya Ismi dengan rona bahagia yang terpancar dari wajahnya. Sejurus kemudian, pak Dhiaz menganggukkan kepala atas pertanyaannya.
“Terima kasih sir,” ucap Ismi lagi. Pak Dhiaz pun menganggukkan kepalanya untuk kedua kalinya.
“Kamu saja Is yang pulang sama pak Dhiaz. Aku tetap akan naik angkot.”
“Kalau kamu naik angkot saya juga naik angkot saja Ai,” balas Ismi.
“Terima kasih sebelumnya untuk tawarannya sir. Aku sangat senang sir mau menawarkan tumpangan ke kami. Tapi kalau Aisyah tidak mau naik mobilnya sir aku juga tidak mau,” lanjutnya.
Aisyah dan Ismi meninggalkan pak Dhiaz, mereka mulai melangkah ke jalan raya dengan membawa koper besarnya.
Pak Dhiaz menyusul mereka dengan mobil. “Cepat naik!” perintahnya setelah memberhentikan mobil di dekat mereka.
“Duluan saja sir, kami tetap mau naik angkot.” Senyum tak luput dari paras Ismi saat mengucapkan kalimat itu.
Pak Dhiaz turun dari mobil. “Kamu ini keras kepala sekali ya, gara-gara kamu Ismi jadi ikut-ikutan. Kamu jangan keras kepala, ini sudah sore. Sangat jarang ada angkot yang lewat jam segini.”
“Kalau terjadi apa-apa pada kamu dan Ismi di jalan, pihak kampus juga yang akan disalahkan. Kamu jangan egois begitu,” bentaknya.
“Kenapa baru sekarang bawa-bawa nama kampus sir? Pekan lalu kami minta nebeng sir tidak mau. Giliran sekarang, kami tidak mau nebeng malah dipaksa.”
Bu Nadia yang menyaksikan mereka dari dalam mobil pak Dhiaz turut angkat bicara. “Aisyah cepat masuk!”
Aisyah memperhatikan mobil pak Dhiaz, di dalam ternyata ada bu Nadia dan tour guide yang lain.
Tak ingin mencari masalah, Aisyah terpaksa menurut saja. Dia dan Ismi mendekat ke mobil. Hanya tersisa dua jok, di depan dan di tengah.
“Kalian berdua masuk saja! Tidak apa-apa kita sempit-sempitan di sini.”
Bu Nadia berkata seperti itu karena dia sudah tahu betul habit pak Dhiaz, yang tidak akan membiarkan perempuan non keluarganya duduk di jok depan.
“Di sini masih kosong. Aisyah maju ke depan!” perintah pak Dhiaz.
“Kamu saja Is yang ke depan!”
__ADS_1
“Kamu saja Ai,” tolak Ismi.
Aisyah terpaksa duduk di depan. Ini sudah kedua kalinya dia duduk di samping pak Dhiaz. Tapi tetap saja dia deg-degan.
Setibanya di rumah, Aisyah melangkah ke spot yang paling dia senangi. Yah kamarnya, dia masuk lalu membaringkan tubuh di atas ranjang berbalut sprei Kintakun D’luxe itu.
Karena terlalu lelah, Aisyah pun tertidur. Tapi di saat dia sudah mulai terlelap, gawainya berdering.
Berdering satu kali, Aisyah mengabaikannya. Gawai itu pun berdering tanpa henti. Dia jadi kesal sekali dengan kondisi yang tidak bersahabat itu. Dia terpaksa bangun karena tak tahan usikan si penelepon tanpa etika.
“Aisyah kamu siap-siap ya, aku akan ke situ sebentar lagi. Jangan lupa pakai make up, kita akan ke acara nikahan.”
“Aku capek sir, mengerti sedikit dong.”
“Bukan cuman kamu yang capek, aku juga capek. Ingat, kita sudah menyetujui perjanjiannya. Kamu jangan seenaknya ingkar janji.”
“Perjanjian kita adalah saling mendukung satu sama lain. Aku berpura-pura jadi calon istri sir, dengan syarat sir bantu aku untuk membalas dendam. But the fact, kehadiran sir justru membuatku jadi lebih terpuruk.”
“Maksud kamu apa? Kapan aku bikin kamu terpuruk? As I know, I always give the best for you.”
“Selama mengikuti program IMYP, you never care to me sir. Sir juga tega meninggalkan aku dan Ismi, padahal malamnya aku chat untuk nebeng.”
“Okay, aku mengaku salah. Maaf untuk itu, but let me tell you the truth. Hari itu aku ke rumahmu, tapi kamu dan Ismi sudah pergi. Kalau tidak percaya tanyakan saja ke ibumu.”
“Okay, aku maafkan. Tapi maaf juga, mulai detik ini aku mengundurkan diri dari misi kita.”
“Tunggu, tunggu, tunggu. Bagaimana dengan nenek dan kakek? Mereka akan kecewa karena keputusan kamu ini.”
“It is easy sir, bilang saja ke mereka kalau kita sudah putus.” Tak ingin bertikai lebih lanjut, Aisyah langsung memutuskan panggilan dari pak Dhiaz.
Seperti yang pak Dhiaz lakukan pekan lalu, Aisyah mengimitasinya. Dia menonaktifkan gawainya saat pak Dhiaz masih sangat ingin bicara.
Setelah menyimpan gawainya, Aisyah kembali berbaring. Bersiap untuk melanjutkan mimpinya yang sempat tertunda karena gangguan pak Dhiaz tadi.
Sayangnya keinginannya itu juga harus dia tunda, kala ibunya mengingatkan tentang pernikahan kakaknya Jusma. Cepat-cepat Aisyah bangun, lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Mau tanya dong, alur ceritaku makin jelek ya? Kulihat jumlah likenya menurun drastis 🤧🤧
__ADS_1