Hipotesis Cinta

Hipotesis Cinta
Eps 26


__ADS_3

Di pagi yang indah, mentari mulai keluar dari peraduannya. Misinya pagi ini adalah menghangatkan kuntum yang cantik.


Secantik perempuan yang tengah mengemasi gamis juga sepatu pemberian dosennya. Aisyah sudah memutuskan untuk berhenti jadi asisten dosen sekaligus calon istri pura-puranya pak Dhiaz.


Ia tak ingin terlibat terlalu jauh dalam permainan dosennya itu. Jadi hari ini, ia akan mengembalikan barang-barang pemberian pak Dhiaz sebelum kelas dimulai.


Aisyah mengetuk pintu ruangan pak Dhiaz dengan ketukan sedang. “Silakan masuk calon istri,” ucap si pemilik ruangan.


Tanpa melihat terlebih dahulu, pak Dhiaz sudah tahu itu pasti Aisyah. Mana ada orang yang berani mengusiknya di pagi hari selain Aisyah.


“Ini baju dan sepatu yang sir kasih. Seperti yang kukatakan tadi malam, I am done dari jabatan asisten. Done dari persetujuan pribadi kita juga.”


“Kamu tidak bisa seenaknya memutuskan secara sepihak,” balas pak Dhiaz lalu dengan cepat memegangi tangan Aisyah dengan erat.


“Are you mad sir? Lepaskan tanganku!” tegur Aisyah seraya meronta.


“Nope.” Bukannya melepaskan, pak Dhiaz justru memegangi kedua tangan Aisyah.


“Lepaskan sir, kalau ada yang lihat kita bisa disalahpahami.”

__ADS_1


“Bagus dong kalau ada yang salah paham, kamu langsung kunikahi.”


“Lepaskan sir! It is not funny at all.” Bulir-bulir bening pun menggelinding dari netra Aisyah.


“Okay, kamu akan kulepaskan. Asal kamu mau berjanji untuk jadi asistenku lagi. Kamu juga harus terus berpura-pura jadi calon istriku, deal?”


“What a wicked man you are. Mencari kesempatan dalam kesempitan.”


“Ide bagus itu, mencari kesempatan dalam kesempitan. Benar juga katamu, menyentuh tangan saja kurang greget. Menyentuh ini sepertinya lebih greget.”


Pak Dhiaz mengarahkan pandangannya pada two mountains Aisyah yang tertutupi hijab. Menyebabkan Aisyah jadi begitu risih pada pak Dhiaz.


“Okay deal, aku jadi asisten sir lagi.”


“Yang satu lagi belum kamu sebutkan.” Pak Dhiaz masih memegangi tangan Aisyah.


“Juga berjanji untuk berpura-pura menjadi calon istri sir.” Barulah pak Dhiaz melepaskan Aisyah.


“Dari tadi dong, harus pakai drama dulu kan jadinya. Coba saja kamu tidak ingkar janji, kamu tidak akan kuperlakukan seperti ini Aisyah.”

__ADS_1


Aisyah tidak berkata apa-apa lagi. Saking marahnya, ia sampai lupa mengambil kembali pakaian dan sepatu saat meninggalkan ruangan pak Dhiaz.


“Dasar dosen cabul, penampilannya saja yang cool. Kasihan sekali perempuan yang mengidolakan dia. Belum tahu saja pak Dhiaz itu aslinya seperti apa,” batin Aisyah saat melangkah ke kelas.


Raut muka Aisyah tampak sedang tidak baik-baik saja. Ismi mendekatinya, “Tumben pagi-pagi mukamu kusut begitu. Ada masalah? I meant, mungkin ada yang bisa kubantu.”


“I am okay Is.” Aisyah sedang tak ingin berbagi cerita.


“Mulutmu bilang okay, tapi mukamu tidak. Kalau kamu mau cerita atau butuh bantuan, just tell me. Sebisa mungkin akan kubantu.”


Aisyah hanya mengangguk, perasaannya mulai membaik. Tapi tak berlangsung lama, karena kedatangan pak Dhiaz.


“Kumpulkan semua tas kalian ke depan, handphone juga.” Semua mahasiswa terheran-heran dengan perintah pak Dhiaz.


“Nice, thank you atas kerja samanya. I just wanna tell you, hari ini uji pemahaman materi yang lalu dengan ujian lisan.”


“Kenapa tiba-tiba sir?” keluh Ilham.


“I have told you at the first meeting about my class rules, kalau sewaktu-waktu akan ada tes dadakan. Makanya kalian harus terus mengulangi materi di rumah.”

__ADS_1


Mahasiswa hanya bisa terpotek. Karena pak Dhiaz tetaplah pak Dhiaz, si dosen killer. Tak ada belas kasihan dalam kamusnya.


__ADS_2