
Juara sudah dikantongi, pak Dhiaz dan Aisyah pun segera berkendara. Meninggalkan provinsi Sulawesi Barat menuju ke provinsi Sulawesi Selatan.
Kelelahan melanda, mereka menonaktifkan gawai setibanya di rumah masing-masing. Mereka tak ingin ada distraksi saat beristirahat.
Hingga pagi menyelimuti malam yang datar. Tampak mentari melenggang keluar dari peraduannya. Membawa secercah asa untuk penghuni daratan dan samudra.
Hari ini keberuntungan berpihak pada Aisyah, dia tidak harus ke kampus karena tidak ada kelas. Berbeda dengan pak Dhiaz yang harus tetap masuk ngajar.
Meski begitu, kelelahan kemarin tidak melunturkan aura coolnya. Seperti biasa, dia berjalan dengan begitu percaya diri memasuki kampus. Tapi semua berubah, ketika pak rektor menyerang.
Sebuah panggilan dari penguasa kampus itu berhasil menembus gawainya. “Tolong ke ruanganku sekarang,” perintahnya yang tak ingin berbasa-basi.
Pak Dhiaz tersenyum, dia pikir pak rektor memanggilnya untuk memberikan pujian atas kemenangan Aisyah di lomba debat kemarin. Sayangnya, harapan itu berbanding terbalik dengan keadaan sebenarnya.
“Apa sebenarnya yang terjadi di Sulbar?” selidik pak rektor.
“Maksud bapak?” tanya pak Dhiaz yang tidak mengerti plot pembicaraan lawan bicaranya itu.
“Sebaiknya kamu buka sosmed. Berita tentang kamu dan Aisyah yang tidur sekamar sudah menyebar dimana-mana.”
“Aku dan Aisyah memang sekamar, tapi kami tidak melakukan apa pun pak. Kami terpaksa sekamar karena malam itu cuman ada satu vacant room. Sementara kami tiba di Sulbar sudah sangat larut. Mau cari hotel lain tapi kami sudah capek sekali.”
“Aku percaya kamu dan Aisyah tidak berbuat yang macam-macam. Tapi tidak dengan publik, mereka sudah terlanjur percaya pada isu itu. Aku tidak akan memecat kamu, tapi kamu harus menikahi Aisyah untuk mengembalikan citra baik kampus ini.”
“Tidak bisa pak. Aku sudah bertunangan dengan perempuan lain, sebentar lagi kami akan menikah.”
__ADS_1
“Pihak kampus tidak mau tau itu. Kamu harus cepat menikah dengan Aisyah. Itu satu-satunya cara mengembalikan nama baik kampus ini.”
Percakapan singkat itu pak rektor akhiri begitu saja. Keputusannya sudah mutlak, tidak boleh ada bantahan untuk itu.
Pak Dhiaz melangkah keluar dengan membawa beban berat. Dia sungguh tidak menyangka, hal yang awalnya dia anggap remeh kini malah menjadi musibah yang besar.
Tiga keluarga terpaksa harus berkumpul untuk menyelesaikan masalah itu. Anggota keluarga Jusma dan Aisyah sudah tiba di rumah pak Dhiaz.
“Kamu tega sekali mengkhianati anakku,” kata ibu Jusma pada pak Dhiaz.
“Aku tidak mengkhianati Jusma, kalau tidak percaya tanya saja ke Aisyah tentang apa yang sebenarnya terjadi.”
“Benar kata pak Dhiaz. Malam itu cuman ada satu kamar kosong, makanya kami sekamar. Tapi kami tidak berbuat yang macam-macam kok. Kamu harus percaya Jus,” bela Aisyah.
Jusma tidak tahan lagi mendengar penjelasan itu, dia turut angkat bicara. “Selalu ada Hikmah di balik kejadian. Kalau tidak, mungkin ada Aisyah.”
“Waktu itu kamu bilang, semua sovenir yang kak Dhiaz beli ada nama kak Dhiaz kan?” tanya Jusma pada Aisyah.
“Iya.”
Jusma menyodorkan sovenir perahu sandeq ke Aisyah. “Ini nama kamu, bukan nama kak Dhiaz. Satu lagi, hijab sama baju yang kamu pakai sekarang persis seperti yang dipakai perempuan di profil Instagram kak Dhiaz.”
“Mampus, itu memang foto Aisyah. Mana belum kuganti lagi,” monolog pak Dhiaz dalam hati.
“Itu foto di rumah. Waktu itu Aisyah dan Dhiaz berpura-pura jadi pasangan untuk menyenangkanku,” balas nenek.
__ADS_1
“Iya betul, kalau tidak percaya cek saja sendiri. Banyak kok foto-foto yang lain.” Saking gugupnya, pak Dhiaz menyerahkan gawainya ke Jusma.
“Sandinya?”
“Biar aku yang buka.”
“Sebutkan saja kak!” paksa Jusma.
“Dua satu nol delapan dua nol nol satu.”
Jusma mengernyitkan alisnya. “Kak Dhiaz lahir tanggal 21 Agustus?”
“Tidak,” balasnya pasrah.
“Semuanya jadi semakin jelas. 21 Agustus 2001 itu tanggal lahir Aisyah,” ucap Jusma sembari menekan angka-angka itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Semoga masih betah ya