
Di hari ketiga, pembuatan ikan asin. Tak kapok akan kejadian kemarin, Adifa kembali berulah. Dia melempar garam ke wajah Ismi.
Aisyah melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri. Kali ini, emosinya sudah tak terkontrol lagi. “Kamu benar-benar keterlaluan,” ucapnya lalu menampar muka Adifa.
Kesempatan itu Adifa gunakan untuk menjatuhkan Aisyah. Adifa berpura-pura menangis, seolah dialah yang menjadi korban di sini.
Dengan begitu, dia akan mudah menarik simpati yang lain. Termasuk pak Dhiaz, Adifa berharap pak Dhiaz akan berbalik membenci Aisyah.
Betapa senangnya hati Adifa, saat actingnya berhasil membuat pak Sakti menghampirinya. “What happened?” tanyanya.
“Aisyah menampar saya sir,” serunya dengan memegangi pipinya yang memerah.
“Kamu sebenarnya ada masalah apa dengan Adifa?” bentak pak Sakti yang tak terima perempuan yang dia cintai terluka.
“Adifa duluan yang memulai sir. Dia melempar garam ke wajah Ismi,” balas Aisyah yang tak berani memandangi wajah pak Sakti.
“Is that true guys?”
“Yes sir,” balas Ismi dengan air mata yang menggelinding di pipinya. Tangis itu tercipta oleh ulah garam yang masuk ke matanya.
Adifa bersiasat, “Saya tidak sengaja sir. Tadinya mau menggarami ikannya, malah kena muka Ismi. Maaf yah Ismi.”
Hanya dengan berpura-pura meminta maaf, masalah itu dianggap selesai oleh pak Sakti. Padahal jelas-jelas Adifa bersalah, tapi pak Sakti menutup matanya untuk itu. Seperti halnya Ainur, Keysya, dan Ilham.
Diskriminasi semakin terlihat di hari keempat. Saat peserta dan tour guide yang lain panas-panasan menanam mangrove, para anggota kubu Adifa malah enak-enakan berteduh.
Tampak Ilham dan Keysya asyik bermesraan di bawah pohon nyiur di tepi laut. Sementara Adifa, dia bercengkrama dengan pak Sakti.
Pak Dhiaz yang teramat asyik menanam pohon bersama gadis asal Malaysia, acuh akan hal itu. Hatinya tidak tergerak sama sekali untuk menegur mereka.
Pak Putra sebagai koordinator acara juga tidak berani menegur pak Sakti, dia ikut-ikutan acuh.
“Daripada sibuk memikirkan mereka, lebih baik aku sibuk PDKT ke Aisyah.”
__ADS_1
Dia berjalan mendekati Aisyah yang tengah menanam pohon bersama Ismi. Alih-alih akrab dengan pak Putra, Ismi justru terluka melihat sikap manis dosen idolanya itu ke Aisyah.
Tanpa tahu kalau Aisyah juga sebenarnya berada di posisi yang sama dengannya. Dia sedikit terluka karena sikap manis pak Dhiaz ke perempuan lain.
Perasaan yang sulit didefinisikan olehnya, dia mengaku tidak mencintai pak Dhiaz. Tapi dia juga terluka melihat sang dosen dekat dengan perempuan lain.
Sakit saat pak Dhiaz yang biasanya possessive padanya, kini dekat dengan perempuan cantik negeri jiran itu.
Sakit saat pak Dhiaz yang kemarin peduli, tiba-tiba menjadi acuh hari ini. Hubungannya dengan pak Dhiaz yang kemarin akrab, tiba-tiba menjadi renggang hari ini.
Jika Aisyah bisa memilih, lebih baik baginya tak pernah akrab dengan pak Dhiaz. Daripada akhirnya terluka karena perubahan sikap pak Dhiaz padanya. Yang kemarin intim, tiba-tiba jadi asing hari ini.
Hari ke lima, kunjungan wisata. Peserta diajak jalan-jalan ke tempat wisata terbaik yang ada di Sulsel.
Pertama, mereka ke Pantai Losari. Tempat pengambilan video clip lagu Sumpah Benang Emas oleh bunda Elvy Sukaesih. Setelah itu, mereka menginap di pulau Samalona.
Di Pantai Losari, pak Dhiaz sengaja berlayar menggunakan perahu bersama peserta dari Malaysia tersebut.
Dari kemarin, pak Dhiaz sebenarnya sengaja mendekati peserta dari Malaysia itu. Dia ingin melihat reaksi Aisyah seperti apa kalau dia dekat dengan perempuan lain.
“Otak-otaknya sudah habis, piringnya mau kamu makan juga?” tanya Ismi pada Aisyah yang tak beranjak dari duduknya.
“Lihat apa sih Ai?” tanyanya lagi.
“Itu, cewek yang sama pak Dhiaz cantik ya?”
“Iya, cantik. Jangan-jangan kamu cemburu ya melihat pak Dhiaz dekat-dekat dengan perempuan itu? Ciee, cieee, yang cemburu.”
“Hushh, Ismi jangan teriak-teriak. Nanti kalau ada yang dengar, mereka bisa salah paham seperti kamu.”
“Salah paham atau benar paham? Lelaki secool pak Dhiaz pasti banyak yang suka Ai. Cewek negeri jiran itu saja kecantol, ha ha. Kamu harus bersaing dengan banyak perempuan dulu untuk mendapatkan hati pak Dhiaz.”
“Siapa juga yang mau mendapatkan hati manusia es seperti pak Dhiaz? Iyyuhh,” balas Aisyah lalu beranjak untuk membayar otak-otak ikan tenggiri yang telah disantapnya.
__ADS_1
“Tunggu dulu Ai, I wanna ask something to you.”
“Tanya saja Is, dengan senang hati aku akan menjawabnya.”
“How if pak Putra suka sama kamu. Will you accept his love?”
“NO, I do not like him at all. Pak Putra kan punyamu,” canda Aisyah.
Mereka berdua berujung terkekeh karena itu. Sementara di perahu, “Boleh foto tak?” tanya gadis Malaysia itu ke pak Dhiaz.
“Tak boleh foto berdua je, pasal I ni dah punya fiancee. I takut dia merajuk after tengok foto kita berdua. Now, awak tengok perempuan tu. Dialah fiancee I,” tunjuk pak Dhiaz pada Aisyah yang tengah berjalan bersama Ismi.
“Amboi, sorry sir. I tak tahu. Rupa-rupanya awak ni dah punya fiancee.”
Semenjak itu, sang gadis Malaysia tak mau lagi dekat-dekat dengan pak Dhiaz. Di pulau Samalona itu, ia menciptakan jarak dengan pak Dhiaz.
Sang gadis tak ingin Aisyah menganggapnya perusak hubungan orang. Sementara Aisyah, ia kebingungan melihat pak Dhiaz dan gadis itu. Yang tadinya lengket bak perangko, sekarang malah seperti Sabang dan Merauke.
Pulau Samalona, wisata bahari yang banyak dikunjungi wisatawan. Karang-karang laut yang dihuni oleh beraneka ragam ikan tropis dan biota laut, membuat wisatawan tergiur untuk menyelaminya. Seperti halnya peserta dan tour guide IMYP dari kampus Aisyah.
Keysya yang benci Aisyah, ikut-ikutan benci semua orang yang akrab dengan Aisyah. “Tidak usah dekat-dekat, yang boleh ke sini itu cuman penyelam. While you, duhhh ngaca dong! Bodymu terlalu gemuk untuk ikutan menyelam,” hinanya pada Ismi.
“Bangga amat neng punya body bagus. Yang dibutuhkan saat menyelam itu modal bisa berenang, bukan modal body bagus. Ismi ke sini mau menyelam, bukan ngel*nte.”
“Kita makan saja Ai.”
Ismi melangkah ke warung makanan yang menyediakan seafood segar, dengan ditemani Aisyah di sampingnya. Ia sudah tidak mood lagi untuk menyelam.
Tak terasa, sudah sore. Mereka semua ke penginapan sederhana yang berbentuk rumah panggung.
Laki-laki ke penginapan khusus untuk peserta laki-laki. Perempuan ke penginapan khusus untuk peserta perempuan, yang telah diatur oleh pihak kampus.
Di hari keenam, peserta berdiskusi dengan masyarakat lokal. Sekaligus belajar mengenai budaya kehidupan masyarakat pulau Samalona.
__ADS_1
Setelah diskusi itu, peserta diminta untuk mengumpulkan hasil penelitian selama sepekan ini. Para peserta juga diminta untuk mempresentasikannya pada tour guide yang ada.
Likenya ya kak, silakan digerakkan jari jemarinya untuk meninggalkan jejak pada novel author silver yang selalu berharap bisa segera jadi author gold ini🤣🤣