
Pak Dhiaz dan Aisyah sudah berada di dalam mobil. Seperti yang pak Dhiaz katakan ke pak Putra tadi. Pak Dhiaz mulai memberitahukan Aisyah tentang hal penting yang ia maksud.
“Sepekan nanti aku akan tinggal di Sulbar untuk mendampingi peserta debat. Tolong kamu gantikan aku mengajar ya.”
“Katanya bebas tugas selama sepekan. You are a liar sir,” balas Aisyah dengan memanyunkan bibirnya.
Ia sungguh tak terima pak Dhiaz mengingkari janjinya.
“Pantas saja Ilham berpaling ke Keysya, kamu suka marah-marah sih. Jadi dia tidak betah sama kamu.”
“Katanya mau bantu aku move on. Tapi justru sir yang mengungkit-ungkit tentang mereka lagi,” ucap Aisyah dengan nada kesal.
“Jangan marah-marah terus. Nanti jadi perawan tua, tau rasa kamu.”
“Biarin. Kalau aku beneran jadi perawan tua, sir harus menikahiku. Siapa suruh suka menyumpahi yang tidak baik.”
“Tenang saja Aisyah, aku akan nikahi kamu. Kamu kan memang calon istriku.” Pak Dhiaz terkekeh sejenak setelahnya.
“Hello, just kidding sir. No baper-baper ya antara kita!”
“Siapa juga yang baper? Tidak usah kePDan yah kira aku baper. Lihat sendiri kan aku ketawa? It means, aku juga bercanda sepertimu.”
__ADS_1
Balasan pak Dhiaz berhasil membuat Aisyah membisu. Pak Dhiaz memang terlalu cerdas untuk ia jadikan lawan berargumen.
Suasana di dalam mobil menjadi hening setelah percekcokan antara dosen dan mahasiswa itu. Pak Dhiaz lalu menyetel lagu, untuk memecah keheningan yang berkepanjangan di dalam mobil itu.
Kamu begitu indah begitu cantik, begitu istimewa. Mungkinkah kamu jadi milikku selalu. Karena ku tak istimewa.
Lagu dari T.R.I.A.D itu pak Dhiaz setel berulang hingga tiba di rumah Aisyah. Bahkan Aisyah yang baru pertama kali mendengar lagu itu sampai hafal separuh liriknya.
Sudah tiba, Aisyah membuka pintu mobil pak Dhiaz. “Terima kasih atas tumpangannya sir.”
“Tunggu dulu,” pinta pak Dhiaz. Aisyah kemudian menghentikan langkahnya.
“Ada apa lagi sir?” Aisyah mulai kesal, ia sudah sangat mengantuk. Tapi pak Dhiaz sepertinya akan memberikannya tugas baru lagi.
“Untuk apa sir?”
“Terserah kamu mau apakan uang ini. Yang jelasnya ini gaji kamu untuk menggantikanku mengajar sepekan nanti.”
Aisyah lalu menghitung nominal keseluruhan uang yang diberikan pak Dhiaz. “What? Ini kebanyakan sir,” tuturnya sembari mengembalikan uang itu.
“It is okay, ambil saja. It is worthed for you. Untuk jadwal ngajarnya, nanti kukirim ke WhatsAppmu.”
__ADS_1
Aisyah menarik kedua ujung bibirnya. “Okay, kalau begitu deal. Sering-sering ke luar kota ya sir,” ucapnya lalu berjalan ke rumahnya.
“Dasar perempuan, giliran uang langsung semangat empat lima.” Setelah berkata seperti itu, pak Dhiaz langsung melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.
Sebelum masuk ke kamarnya, Aisyah singgah dulu di ruang keluarga. Ia kemudian duduk di samping ibunya yang tengah asyik menonton Amanah Wali 5.
Uang pemberian pak Dhiaz tadi Aisyah serahkan ke ibunya. Bukannya bahagia diberi uang, bu Arni justru merasa cemas melihatnya.
“Darimana kamu dapat uang ini nak?” tanyanya.
“Dikasih sama pak Dhiaz ma.”
“Dikasih? Kenapa dia kasih kamu uang sebanyak ini? Kamu tidak jual diri kan?”
“Astaghfirullah, tidak ma. Pak Dhiaz kasih ini untuk gaji menggantikan dia mengajar sepekan nanti.”
“Kenapa diganti?” tanya bu Arni yang masih belum percaya sepenuhnya pada penjelasan Aisyah.
“Pak Dhiaz tidak masuk mengajar karena mau ke Sulbar ma. Disuruh pak rektor mendampingi peserta debat.”
“Oh begitu, baiklah. Uangnya akan mama simpan. Sekarang kamu tidur, sudah larut malam ini. Besok harus ke kampus lagi kan?”
__ADS_1
“Iya ma,” balasnya lalu ke kamar tidur untuk membaringkan tubuh mungilnya.