
Sepekan berlalu, Aisyah mendatangi pak Dhiaz di ruangannya.
“Mau apa?” tanya dosen sekaligus suaminya tersebut.
“Konsul proposal sir.”
“Boleh, follow me.”
Pak Dhiaz kemudian keluar dari ruangan, diikuti Aisyah. Rupanya, ia berjalan ke parkiran. “Masuk!”
Aisyah mengernyitkan satu alisnya. “Kita mau kemana sir?”
“Ke rumah.”
“Hah? Aku cuman mau konsul.”
“I knew, kamu konsul di rumah.”
Aisyah masih tidak bergerak, dia enggan ikut bersama pak Dhiaz. “Mama dan papa sir bisa marah nanti,” ucapnya.
“Anaknya bu Surya menikah, jadi mama sama papa ikut dia pulkam. Katanya sih sampai lima hari. Selama mereka pergi, kamu temani aku di rumah ya.”
“Kenapa tidak suruh Jus?”
“Dia belum jadi istriku. Apa kata tetangga kalau kami tinggal serumah?”
“Justru bagus kalau tetangga sir tahu. Sir dan Jus langsung dinikahkan, persis kayak kita dulu.”
“Aku bisa dipecat kalau buat kasus lagi. Ayo cepat masuk! Mau hujan ini.”
“Aku konsul lain kali saja sir.”
__ADS_1
“Kalau tidak konsul hari ini, kamu akan kupersulit untuk maju ujian proposal.”
“Jangan dong sir! Okay, aku ikut.” Aisyah cepat-cepat masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di rumah, pak Dhiaz ke kamar dan berbaring. “Pijat aku dulu,” perintahnya.
Aisyah pun memijatnya.
“Pijat Aisyah, bukan pukul.”
Aisyah akhirnya memijat pak Dhiaz dengan pelan, tapi pak Dhiaz malah tidur. “Aish, gagal konsul lagi,” umpatnya.
Aisyah jadi bertambah kesal saat perutnya keroncongan. Dia ke dapur, hanya ada mie instant. Dia beralih membuka kulkas, bahan makanan yang ada di kulkas itu pun dia sulap.
Aroma masakan Aisyah tercium oleh pak Dhiaz. Dia yang kelaparan segera bangkit dan menuju dapur. Ia mendapati Aisyah sudah memasak beberapa menu.
“Istri yang baik,” ucapnya lalu duduk. Dia segera melahap makanan yang dibuat Aisyah.
“Aku sudah baik hati memasak untuk sir. So, proposalku langsung diACC ya.”
“Kalau begitu cepat dicek sir.”
“Nanti malam saja, kalau otakku sudah fresh. Masakanmu ternyata enak ya. Kamu harus sering-sering masak untukku.”
“Boleh, asal konsulku berjalan lancar.”
“Bisa diatur.”
Malamnya...
Aisyah masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Tapi saat dia keluar, kamar jadi sangat gelap. “Sir, jangan bercanda dong.”
__ADS_1
Tiba-tiba lampu hidup. Tapi di depannya ada sosok yang mengerikan. Spontan Aisyah membaca ayat kursi untuk mengusir mahluk terkutuk itu.
Ayat kursi sudah selesai dia bacakan, tapi makhluk itu tidak beranjak sama sekali.
“Sir, where are you?” teriaknya sambil menutup muka dengan tangannya.
Pak Dhiaz melepaskan topengnya, dia tertawa terbahak-bahak. “Hafalan ayat kursimu boleh juga.”
“Tidak lucu sir,” hardik Aisyah.
“Mau kemana?” tanya pak Dhiaz padanya.
“Dapur, aku lapar habis dikerjai.”
“Tapi semua makanannya sudah kuhabiskan. Cuman ada mie instant.”
“Aku mau masak mie,” cetus Aisyah yang masih tersulut emosi.
Meski sedang marah, dia tetap berbesar hati untuk memasakkan pak Dhiaz juga.
“Makan yang banyak sir, biar lebih semangat mengerjaiku.”
“Maaf untuk tadi, aku janji tidak akan mengulanginya lagi.”
Aisyah hanya bergeming dan mulai melahap mie itu.
“Enak juga ya punya istri. Ada yang masakkan.”
“Bilang apa sir?”
“Terima kasih istriku sayang.”
__ADS_1
“What the, simpan saja kata sayang itu untuk Jus.”
Selesai makan, mereka kembali ke kamar. Aisyah yang terlanjur takut, terpaksa harus tidur di kamar pak Dhiaz.