Hipotesis Cinta

Hipotesis Cinta
Eps 37


__ADS_3

“Tapi kak Dhiaz tidak cuek. Malam itu dia cerewet sekali waktu cerita sama kamu.”


“Karena aku asistennya Jus. Sudah sering ketemu, makanya dia cerewet.” Untuk ke sekian kalinya Aisyah terpaksa berbohong.


“Di sovenir ini ada nama kak Dhiaz. Apa benar kalian hanya sebatas dosen dan mahasiswa?”


“Iya Jus. Aku cuman asistennya, tidak lebih. Lagian pak Dhiaz juga kasih sovenir begini ke banyak orang kok. Bukan cuman ke aku,” jawab Aisyah asal.


“Ok. Terus apa lagi yang kamu tahu tentang kak Dhiaz?”


“Kata mamanya dia suka makan daging merah. Dia suka ngegym pagi. Apa lagi ya? Emm, anu, dia suka makan coklat.”


“Kamu seakrab itu ya sama mamanya kak Dhiaz.”


“Iya,” jawab Aisyah lugas. “Eh. Maksud aku mamanya memang seramah itu,” lanjutnya dengan harapan Jusma tidak akan curiga.


“Alhamdulillah kalau begitu.”


“Iya, betul itu. Alhamdulillah kalau mamanya ramah,” tukas Aisyah yang panik. “Kamu mau nomor teleponnya pak Dhiaz? Atau mungkin mau saling follow di Instagram,” lanjutnya saking saltingnya.

__ADS_1


“Ide bagus Ai.”


“Aku sudah send kontaknya ke WA kamu. Kalau IGnya lihat saja di IGku. Kami saling follow kok,” ujar Aisyah sembari menatap Jusma.


Netra Jusma seakan memintanya untuk mengklarifikasi itu. “Jangan salah paham dulu! Kami saling follow hanya karena tugas kampus,” lanjut Aisyah cepat.


“Ok, terima kasih ya Ai. Aku pulang dulu, sudah tidak sabar mau login Wi-Fi di rumah. Biar bisa chat dan follow kak Dhiaz.”


“Iya, sama-sama Jus.”


“Assalamu ‘alaykum.”


Dengan langkah cepat Jusma pulang. Wajahnya dipenuhi rona kebahagiaan. Dia tampak seperti kuncup yang baru saja mekar.


Sementara Aisyah, dia bersusah payah melangkah ke kamar. Tulang-tulangnya terasa lunak, setelah tahu bahwa Jusma lah perempuan yang telah dijodohkan dengan pak Dhiaz.


Dalam sekejap, kamarnya penuh dengan tisu bekas air mata. Rasa kantuk seketika menyerangnya, hingga tak disadari sudah ambruk di atas ranjang.


Adzan dzuhur membangunkan Aisyah dari tidurnya. Dia bergegas mengambil air wudhu untuk shalat.

__ADS_1


Semua permasalahan yang tengah dia hadapi telah dia adukan dalam doa. Dengan begitu perasaannya membaik. Dia bahkan sudah mulai menerima kenyataan pahit bahwa sebentar lagi Jusma dan pak Dhiaz akan menikah.


Aisyah pun menyimpan mukenanya, lalu memungut tisu yang berserakan. Gawainya yang dinonaktifkan selama beberapa jam tadi, kini sudah dia aktifkan lagi.


Aisyah membuka WhatsApp. Grup Pembimbing Akademik tampak ramai, Aisyah segera membukanya.


Melalui grup itu, bu Reka menyampaikan kepada mahasiswa bimbingannya untuk segera konsul judul skripsi.


Tak ingin berlarut-larut pada masalah yang sama, Aisyah akhirnya memiliki aktivitas untuk menyibukkan diri dari mengingat pak Dhiaz terus.


Dia membuka buku, lalu menuliskan semua ide yang ada di kepalanya. Hingga terciptalah dua judul skripsi yang akan dia ajukan ke bu Reka.


Besoknya, Aisyah menghampiri bu Reka dengan membawa dua judul yang telah dia kantongi sejak kemarin sore.


“Error Analysis of Preposition Use in Recount Text for the Second Year Students of SMAN 5 Pinrang. Increasing Grammar Skills by Watching Indonesian Fairy Tales Channel for the Second Year Students of SMAN 5 Pinrang. Bagus semua, kamu lebih suka yang mana?”


“Yang kedua miss,” jawab Aisyah cepat.


“Kenapa pilih yang kedua?”

__ADS_1


“Karena judul yang kedua untuk penelitian kuantitatif. Aku bisa bebas dari pak Dhiaz kalau meneliti itu,” monolog Aisyah dalam hati.


__ADS_2