
“Kamu sakit ya Ai? Kalau sakit istirahat di rumah saja,” pinta Jusma.
“Aku sehat kok Jus.”
“Tapi matamu bengkak Ai.”
“Biasalah mahasiswa tingkat akhir. Lagi sibuk-sibuknya cari judul skripsi. Sering bergadang, kurang tidur. Jadi mata bengkak,” balas Aisyah seraya tersenyum getir.
“Sering-sering minum susu beruang Ai. Ngomong-ngomong, ini apa sih banyak begini?” tanya Jusma dengan pandangan fokus ke tas dan kotak yang Aisyah bawa.
“Kemarin pak Dhiaz kasih aku uang, dia suruh aku belikan kamu baju dan sepatu.”
“Kenapa pak Dhiaz suruh kamu?” tanya Jusma yang tengah ragu.
“Mungkin karena aku asistennya. Mungkin juga karena body kita sama. Kalau cocok di aku berarti cocok di kamu juga. Makanya pak Dhiaz suruh aku yang belikan kamu.”
Balasan Aisyah terdengar logis di rungu Jusma. Dengan sigap dia membuka tas dan kotaknya. “Cantik sekali Ai. Kak Dhiaz ternyata so sweet sekali.”
“Iya so sweet. Aku pulang dulu ya Jus.”
“Kenapa buru-buru Ai? Aku belum buatin minum.”
“Tidak usah repot-repot Jus. Aku harus cepat pulang, mau menyusun proposal.”
“Tapi ini hujan Ai. Aku ambilkan payung ya.”
“Tidak usah Jus. Kalau efek hujan begini doang aku sudah kebal kok.” Bibir Aisyah masih membentuk bulan sabit.
Tapi di luar, di bawah rintik hujan. Bulan sabit itu berubah menjadi perahu yang terbalik. Perlahan, suara isak tangis mulai lolos dari mulutnya.
__ADS_1
Hujan turun semakin lebat, tapi langkah Aisyah justru semakin lambat. Perasaan sakit di hatinya lebih terasa dari dinginnya guyuran hujan di sore ini.
Besoknya, “Butuh bantuan?” tanya Ilham saat melihat Aisyah berjalan ke gerbang kampus dengan membawa banyak buku.
“Tidak, aku bisa sendiri.”
“Jangan keras kepala Aisyah! Nanti kamu kewalahan bawanya.”
“Apa urusanmu kalau aku keras kepala, aku kewalahan? Kenapa kamu jadi peduli padaku? Apa secepat itu kamu lupa pada pengkhianatanmu ke aku?”
Luka karena pengkhianatan Ilham dan Keysya, pedih karena penghinaan Adifa, dan sesak atas pertunangan pak Dhiaz, semuanya menyatu di relung hati Aisyah.
Kepedihan itu memang telah lama dia pendam, hingga menumpuk. Akhirnya meledak dalam bentuk umpatan yang keluar dari mulut Aisyah saat ini.
“Maaf aku tidak bermaksud,” tutur Aisyah lalu meninggalkan Ilham.
Dengan bersusah payah, Aisyah mengangkat buku-buku pak Dhiaz seorang diri. Seperti biasa, Aisyah mengetuk pintu terlebih dahulu.
Aisyah masuk dan meletakkan buku-buku itu di atas meja pak Dhiaz.
“Terima kasih sudah menyenangkan hati calon istriku,” ujar pak Dhiaz padanya.
“Maksud sir apa ya?”
“Jusma sangat suka baju dan sepatunya.”
“Oh, yang itu. Sama-sama.”
Aisyah bergegas keluar. Dia melangkah ke kelas untuk belajar.
__ADS_1
Seusai kuliah, “Ada yang mau kubicarakan,” kata Keysya padanya.
“Silakan,” jawab Aisyah judes.
“Tapi jangan di sini.”
“Terus mau kamu dimana?”
“Di taman tempat kita biasa ngumpul.”
Aisyah dan Keysya lalu ke taman dekat danau itu. Mereka berdua duduk di sudut kursi taman. Tampak jelas, sorot mata mereka memudar. Seakan menyimpan duka yang mendalam.
“Sekarang kamu puas kan Ai? Kamu sudah berhasil membalaskan dendammu sekarang,” ucap Keysya dengan berlinang air mata.
“To the point saja Key. Apa sebenarnya yang mau kamu bilang?”
“Kamu pasti senang kan? Sekarang Ilham mengabaikan aku demi kamu.”
“Lihat mukaku! Apa menurutmu aku sedang senang?”
Keysya berbalik ke kanan, menatap Aisyah yang juga berlinang air mata.
“Bukan cuman kamu yang diabaikan orang yang kamu cintai Key. Aku juga, tapi aku tidak pernah menyalahkan siapa-siapa seperti kamu. Harusnya kamu sadar setelah diabaikan, bukan malah berjuang sendirian. Kalau seseorang benar-benar mencintai kamu, dia tidak akan meninggalkan kamu. Apalagi hanya karena tergoda oleh yang lain.”
Dua perempuan yang tengah terluka itu membisu lama. Mereka membiarkan air matanya berurai dalam diam.
Langit mulai memerah.
“Aku pulang dulu Ai,” pamit Keysya.
__ADS_1
“Hati-hati di jalan!” balas Aisyah yang masih kalut.