
Keesokan harinya di dalam ruangan, pak Dhiaz merasa gabut. Jadi ia membuka sosmed, ia menemukan sebuah postingan lucu tentang aplikasi Get Contact.
Pak Dhiaz jadi penasaran ingin mencoba juga. Ia mulai memutuskan untuk mendownload aplikasi Get Contact juga.
Setelah menginstal aplikasi itu. Ia menemukan nama di nomor umumnya disimpan dengan nama yang biasa saja.
Berbeda saat ia membuka nomor khusus. Ia terpingkal-pingkal karena salah satu kontak menamainya Dosen Killer.
Siapa lagi kalau bukan Aisyah, hanya dia saja mahasiswa yang memiliki kontaknya. Pak Dhiaz tertawa agak lama.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Hari ini ia harus bertanding futsal. Pertandingan futsal antara dosen dan mahasiswa memang sudah menjadi rutinitas di kampus tempat ia mengajar di setiap semesternya.
Pikiran pak Dhiaz kini flashback ke pekan lalu. Saat beberapa tante girang merayunya karena duduk tanpa pasangan.
Kalau Aisyah ikut, tante-tante girang itu tidak akan mengganggunya lagi. Selain karena dikira pasangannya, juga karena Aisyah yang blak-blakan bisa membelanya seperti saat di rumah Aisyah Munaf.
Di tengah-tengah pikiran itu, gawainya berdering. Rupanya si penelepon berhasil mengembalikan senyumnya.
“Halo, assalamu ‘alaykum sir.”
“Wa ‘alaykum salam. Ada apa yah Aisyah?”
“Terima kasih yah sir, sudah kirim Sammy ke rumah.”
“Sammy siapa?”
“Sammy perias itu loh, yang sir suruh dia ajar aku bela diri juga.”
“Oh yang itu. Namanya Sissy, bukan Sammy.”
“Nama aslinya Sammy, sir. Terima kasih yah sir, nanti kalau aku sudah punya uang, uang sir akan aku ganti secepatnya.”
“Tidak usah dikembalikan. Oh ya Aisyah, kamu siap-siap ya. Aku akan jemput kamu nanti sore, ada tugas lagi.”
“Bisa tidak tugasnya ditunda besok saja. Aku capek baru pulang kuliah sir. Understand me please!”
“Habis mengerjakan tugasnya, aku bawa kamu jalan-jalan deh. Kamu pilih saja tempatnya, aku janji akan temani kamu ke sana. Please Aisyah, cuman kamu yang bisa bantu aku menyelesaikan tugas ini.”
Aisyah diam saja, membuat pak Dhiaz terpuruk. Pak Dhiaz kini memutar otak. “Aku bebaskan kamu dari tugas asisten selama sepekan.”
“Janji yah sir selama sepekan.”
“Iya, janji. Aku ke situ nanti ya. Kamu siap-siap, dandan seperti yang Sissy ajarkan ke kamu. Tidak usah pakai heels, kali ini kamu bebas pakai flat shoes.”
__ADS_1
“What? Baru kemarin loh Sissy ajar make up. Belum mahir aku sir.”
“Ya sudah kalau begitu tidak usah dandan.”
“Okay, sir." Aisyah lalu memutuskan panggilan telepon dari pak Dhiaz.
“Yes. Bisa bebas dari belenggu pak Dhiaz selama sepekan,” ucapnya lalu ke kamar mandi.
Setelah mandi, Aisyah pun memakai salah satu gamis yang diberikan pak Dhiaz.
Pak Dhiaz sudah siap, tanpa berlama-lama ia langsung melajukan mobilnya ke rumah Aisyah. Tak lama, pak Dhiaz tiba di rumah asistennya itu.
Seperti biasa, Aisyah duduk di jok tengah. Pak Dhiaz sebagai pengemudi pun langsung melajukan mobilnya ke stadion tempat pertandingan futsal diadakan.
“Padahal sudah pakai kaos oblong. Tapi aura dosen killernya tetap terpancar,” pikir Aisyah setelah memasuki mobil.
Mereka kini tiba di stadion. Beberapa mahasiswa dan dosen yang ikut menyaksikan pertandingan futsal tersebut, terus menyorakkan nama pak Dhiaz yang cakap dalam bermain futsal.
Pertandingan pun berlangsung, skor sementara dalah 1-2. Tim dosenlah yang memimpin pertandingan itu.
“Sialan, dua hari yang lalu aku dipermalukan di kampus. Masa’ dipermalukan juga di sini,” batin Ilham sebagai lawan main tim pak Dhiaz.
Peluit sang wasit akhirnya menjerit panjang dan nyaring. Ilham sudah berusaha keras, tapi ia tetap kalah hingga pertandingan selesai.
“Selamat ya,” pak Dhiaz menyalami Ilham dengan memperlihatkan senyuman mengejeknya.
“Ini nih yang aku suka dari kamu Key. Sudah cantik suka menyemangati pula. Terima kasih ya sayang.” Ilham lalu memeluk Keysya.
Sementara pak Dhiaz, ia dikerumuni penggemarnya untuk meminta foto. Mungkin karena pak Dhiaz terlihat sangat macho saat berkeringat.
Keringat yang membasahi tubuhnya, menampakkan roti sobeknya. Pak Dhiaz jadi terlihat sangat seksi karena itu.
Jangankan perempuan tulen, kaum pelangi seperti Sissy saja melabeli pak Dhiaz seksi.
“Ganteng-ganteng single, seharusnya sih dia sudah menikah di umurnya yang kepala tiga. Supaya tidak diganggu banyak perempuan lagi,” batin Aisyah saat menyaksikan fenomena Dhiaz lovers.
Pak Dhiaz hanya melayani beberapa fans. Ia yang kehausan langsung saja mengambil minuman dingin di tangan Aisyah, lalu meneguknya.
“Sir, itu sisaku.”
“Duh, sorry sorry. Nanti kuganti ya.”
“Bukan masalah gantinya sir. I just feel kek mahasiswa durhaka. Masa’ iya dosen minum sisa mahasiswanya.”
__ADS_1
“Baru sadar ya kamu mahasiswa durhaka?”
“Ya iya lah, aku kan mahasiswa teladan.”
“Mahasiswa teladan dari Hongkong. Diajak ke sini saja harus dikasih bebas tugas dulu selama sepekan baru mau.”
“Namanya juga simbiosis mutualisme. Kalau cuman nemenin tanpa dikasih bebas tugas, itu namanya simbiosis parasitisme sir.”
“Tetap mutualisme lah, karena kamu pasti senang kan lihat Ilham kalah. So, berterima kasihlah pada dosenmu ini.”
“Yang ada sir itu yang harus berterima kasih ke aku. Berkatku, tante-tante itu tidak mau lagi ganggu sir.”
Pak Dhiaz mengarahkan pandangannya ke arah Aisyah memandang. “Memangnya ada apa dengan tante-tante itu?”
“Sok amnesia ya sir. Tiba-tiba langsung lupa dengan fans akutnya.”
“Ha ha, okay tell me. What happened?”
“Tante-tante itu tanya-tanya aku apanya sir. Karena aku sangat baik, I said I am your calon istri. Mereka langsung kek patah hati gitu. I am sure mereka tidak akan ganggu sir lagi setelah ini.”
“Nice aid Aisyah. Sebagai tanda terima, kasih aku akan traktir kamu makan ice cream sepuasnya.”
“Boleh, ice cream buatan abang-abang yang di taman saja sir. Rasanya numero uno.”
Keluarnya dari stadion, pak Dhiaz menepati janjinya. Di jalan pulang, ia memberhentikan mobil saat melihat ada penjual ice cream di taman.
Mereka berdua melahap ice cream yang dipesannya. Delicious, Aisyah minta lagi. Dilahapnya ice cream kedua.
Ia tiba-tiba berhenti, saat netranya menangkap Keysya dan Ilham tengah bercanda ria di taman. Ice cream yang tadinya manis, berubah rasa menjadi sedikit hambar. Meski begitu tetap ia habiskan karena tak ingin mubadzir.
Aisyah membatin kala melihat mereka. “Suatu hari nanti, kalian akan merasakan sakit yang kurasakan.”
Di malam hari, primadona kampus menghubungi Keysya. “Key, kamu kenal tidak perempuan yang menemani pak Dhiaz di stadion tadi?” kirim Adifa via pesan WhatsApp.
“Dia teman kelasku Fa, kenapa tanya-tanya tentang dia?”
“Just curious sih. Cantikan aku kan daripada dia?”
“Ya jelas cantikan kamu lah sist, jauh banget malah bedanya. Seperti langit dan bumi malah.”
“Kamu bisa aja mujinya,” kirim Adifa dengan menyertakan emoticon malu.
“Bukan memuji, tapi memang faktanya begitu.”
__ADS_1
Mereka terus berbincang-bincang. Hingga tak terasa, mangga sudah menjadi rujak buah. Buah asam yang dibumbui rasa pedas, asin, juga manis di saat yang bersamaan.
Jangan lupa kasih dukungannya ya readers, ma kasih sudah mampir di novel author...