
“Kenapa belum tidur?” tanya pak Dhiaz setelah melahap habis snack pemberian Aisyah.
“I am not sleepy. Bagaimana kepala sir? Masih pusing?”
“Tidak usah mengkhawatirkanku, itu bukan tugasmu lagi.”
“Dari tadi pembahasannya itu terus. Mau nikah ya nikah saja sir, tidak usah mengaitkanku terus. Segitunya ya sir mau melihat aku menyesal untuk penolakan malam itu.”
“Ya, segitunya. Kau memang selalu secerdas itu Aisyah.”
“Terus apa untungnya bagi sir kalau aku menyesal?”
“Untungnya? Aku akan merasa sangat puas,” jawab pak Dhiaz tanpa rasa bersalah sama sekali. Dia bahkan bergegas tidur setelahnya.
Karena ucapannya itu, Aisyah menangis dalam diam. Anehnya, meski telah menangis lama, dia tetap tidak mengantuk. Jadi dia memutuskan untuk bermain game.
Pak Dhiaz menegurnya, “Kenapa tidak tidur?” tanyanya yang ternyata juga insomnia malam ini.
“Sudah kubilang aku tidak mengantuk,” jawab Aisyah tanpa mengalihkan pandangan dari layar gawainya.
“Jangan bergadang, kamu bisa mengantuk di lomba besok.”
“Tidak usah mengkhawatirkanku, itu bukan tugasmu lagi sir.”
__ADS_1
“Okay, but I am curious. Lagi apa sih?” tanya pak Dhiaz seraya mendekati Aisyah.
“Aku lagi main game,” jawab Aisyah cepat agar pak Dhiaz tidak mendekatinya.
“Game apa?”
“Gardenscapes.”
Pak Dhiaz tidak bertanya lagi. Dengan cekatan dia membuka Play Store untuk mendownload aplikasi itu. “Ini anjingnya dikasih nama apa ya?” tanyanya setelah agak lama bermain.
“Terserah,” jawab Aisyah ketus.
Tanpa aba-aba, pak Dhiaz merampas gawai Aisyah. Dia ingin tahu nama apa yang Aisyah kasih untuk anjing di aplikasi itu.
“Kenapa harus marah? Nama Dhiaz kan banyak, bukan cuman sir.”
Dengan muka yang memerah, pak Dhiaz mendekati Aisyah. Mereka menjadi sangat dekat sekarang.
“Sir mau apa?” tanya Aisyah dengan dugaan buruk di otaknya.
“Kenapa tidak mengoceh lagi? Dari tadi kamu bicara seenaknya. Ayo, rendahkan aku lagi sayang. Biar kubungkam bibir siletmu ini.”
Pak Dhiaz menyentuh bibir ranum Aisyah. Seakan bersiap untuk me-lu-mat bibir tak terjamah mahasiswa di hadapannya itu.
__ADS_1
Dengan perasaan yang teramat takut, Aisyah meraih bantal di belakangnya. Dengan cekatan dia menutupi wajahnya dengan bantal itu.
“Ampun sir, aku janji tidak akan bicara seenaknya lagi.”
“Bagus, sekarang kamu tidur. Kalau tidak, aku akan menjilati mukamu seperti anjing.”
“Iya sir.”
Saking takutnya, Aisyah menarik selimut, lalu bersembunyi di dalamnya. Saat ini dia benar-benar tidak berani menatap pak Dhiaz.
Pak Dhiaz kembali ke tepi ranjang. “Hampir saja aku khilaf,” batinnya. Dia kembali bermain game Gardenscapes hingga ketiduran.
Besoknya, Aisyah dan pak Dhiaz keluar dari kamar hotel itu.
“Itu kan Dhiaz dan pacarnya. Berani juga ya mereka sekamar, padahal belum menikah. Ini saatnya aku balas dendam ke dia. Siapa suruh, karena kedatangannya di pernikahan Dirga, istriku jadi sering membanding-bandingkanku dengan dia," tutur Aris.
Ia segera mengeluarkan gawainya, dengan sigap dia mengambil gambar Aisyah dan pak Dhiaz yang sedang berdiri di depan kamar hotel.
“Sebentar lagi istriku akan berhenti memujimu. Dia akan berbalik membencimu. Bukan hanya dia, tapi semua orang yang mengenalmu Dhiaz.”
Aris tertawa licik kemudian.
Pak Dhiaz dan Aisyah ke gedung tempat lomba debat diadakan. Di saat yang bersamaan, Aris membuat akun bodong. Lalu dengan senang hati dia mengunggah foto Aisyah dan pak Dhiaz menggunakan akun itu.
__ADS_1
Untungnya pak Dhiaz dan Aisyah tidak mengoperasikan gawainya di saat lomba berlangsung. Jadi mereka bisa fokus mengurusi lomba itu tanpa terdistraksi oleh fitnahan Aris.