
Aisyah mengambil tasnya yang berisi buku mengajar dari pak Dhiaz. Ia lalu keluar kelas dengan perasaan yang masih kesal.
Sepanjang pagi ini, ia telah bergelut di kampus. Menggantikan pak Dhiaz mengajar ternyata sangat menguras waktu, tenaga, juga pikirannya.
Setibanya ia di depan, “Kak Aisyah,” teriak Sissy dengan penuh semangat.
“Hey Sammy, ngapain kamu di sini dek?” tanya Aisyah seraya berjalan dengan cepat mendekati pelatih cucoknya itu.
“Cari kak Ai, sekalian mau lihat-lihat kampus ini. Rencananya eike mau lanjut di sini kalau sudah lulus SMA nanti. Sengaja, biar eike bisa lihat kak Dhiaz terus.”
Aisyah seketika terkekeh mendengar celetukan Sissy. “Kamu ada-ada saja dek.”
“Cieee yang berteman dengan lelaki melambai. Sampai segitunya ya pengen punya teman. Sampai yang belok begitu pun ditemani,” ledek Ilham pada mereka berdua.
“Diana sepoong kak? Orang gila ya?” Sissy menatap sinis pada Ilham.
“Teman kelasku dek, kayaknya lagi mabok. Jadi bicaranya ngelantur gitu. Ayo pulang, kita mau belajar kan?”
“Ayo kak. Hari ini kita belajar di rumah akika.”
“Akika? Si Akika ini siapanya kamu? Rumahnya dekat kan?”
“Tuh kan, kak Ai mulai lagi deh salah pahamnya. Akika itu artinya aku kak.”
“Oh, gitu ya? Berarti akika dan eike, sama-sama artinya aku. Baru paham sekarang aku dek.”
“Woy bencong, ngomong apa sih? Bahasamu itu loh ciinn. Aneh pake banget,” teriak Ilham lalu tertawa keras. Diikuti tawa Keysya dan Ainur.
Telinga Sissy memerah mendengar celaan itu. Aisyah menahannya, tapi Sissy yang sudah di ambang batas kesabaran tidak menghiraukannya lagi.
Sissy mendekat ke Ilham dengan mengepalkan tangannya. “Mau apa kamu shayyy? Iihhh takut,” ledek Ilham dengan tawa yang semakin menggelegar.
Sissy diam, pukulannya lah yang membalas hinaan Ilham. Satu pukulan kerasnya kini mendarat dengan cepat di wajah Ilham. Pukulan itu mengakibatkan Ilham terpental jauh ke belakang.
Mahasiswa yang berada di situ menertawakan Ilham, karena dengan mudahnya ia dikalahkan oleh lelaki kemayu. Wajah Ilham memerah seketika karena ditertawakan.
Dengan cepat ia bangkit untuk melakukan
pembalasan. Tapi belum juga memukul, Sissy sudah berhasil memegangi leher baju Ilham.
Ia mengangkatnya cukup lama hanya dengan menggunakan satu tangan. Ia kemudian membantingnya dengan keras.
Bukannya menyerah dan meminta maaf, Ilham justru semakin tersulut emosi. Ia kembali berdiri untuk memukul Sissy, tapi Sissy sudah lebih dulu mencekiknya.
“Sam, sudah dek. Lepaskan dia,” pinta Aisyah dengan lirih.
Sissy akhirnya melepaskan cengkeramannya dari leher Ilham. “Aku melepaskanmu karena diminta kak Aisyah,” kata Sissy dengan memakai suara aslinya.
Sissy dan Aisyah pun meninggalkan Ilham, dengan rasa malu yang tak akan pernah Ilham lupakan.
Mereka berdua sudah tiba di rumah Sissy. “Hari ini kita belajar bela diri saja kak Ai. Kak Ai juga pasti tidak bawa peralatan make up kan?”
“Iya dek.”
Aisyah masih tidak berani boros bicara. Ia tahu betul, kalau Sissy pasti masih kesal karena kejadian barusan.
“Sekarang kita belajar menyikut leher dan dagu. Caranya, pertama-tama genggam tangan lawan. Terus gunakan sikut untuk menekan lehernya. Dengan begitu lawan akan kehilangan keseimbangan.”
__ADS_1
Meski sedang kesal, Sissy tetap mengajari Aisyah dengan serius. Mereka terus belajar selama dua jam.
Sementara di Sulbar, lomba debat sudah berakhir. Pak Dhiaz bersiap-siap untuk kembali ke Sulsel besok.
That is why, sore ini ia pergi membeli cenderamata khas Sulbar.
Pak Dhiaz berangkat ke toko oleh-oleh bersama dengan Acha dan bu Nadia. Di sepanjang perjalanan, mata mereka dimanjakan dengan indahnya pemandangan sekitar.
Persawahan di tepi jalan, pepohonan nan rindang, gunung menjulang yang tampak dari kejauhan, juga tak kalah menakjubkan.
Mereka terbuai dengan keindahan alam Sulbar, hingga tak terasa mereka ternyata sudah sampai di toko oleh-oleh.
Mereka kini memasuki toko oleh-oleh Sulbar. Baru saja masuk, mata pak Dhiaz sudah tertuju pada perahu sandeq mini yang terpajang di situ.
Pada pandangan pertama, pak Dhiaz langsung jatuh hati pada souvenir perahu sandeq mini itu. Pak Dhiaz lalu mengambil satu.
Tiba-tiba saja ia teringat pada Aisyah. Ia lalu mengambil satu lagi, untuk diberikan ke asisten super cerewetnya itu.
“Perahunya tidak mau ditulisi dek? Cuman sepuluh ribu untuk sekali menulis,” tawar penjualnya ke pak Dhiaz.
“Berarti dua puluh ribu untuk dua perahu ya? Boleh.”
“Mau ditulisi apa dek?”
“Yang ini Dhiaz Alfahrezi, yang ini Aisyah. Jangan lupa kasih simbol hati ya pak,” titah pak Dhiaz dengan disaksikan langsung oleh Acha dan bu Nadia.
Muka bu Nadia jadi murung seketika, mengetahui sovenir yang pak Dhiaz beli ditujukan untuk Aisyah.
Bu Nadia bermonolog dalam hati. “Bertahun-tahun aku akrab dengan Dhiaz, baru kali ini kulihat dia romantis ke cewek. Sayangnya dia melakukan ini ke Aisyah, bukan ke aku. Padahal aku yang selama ini sangat mencintainya, bukan Aisyah.”
Bu Nadia tersenyum kecut demi menutupi gundahnya. “Aku mau keliling-keliling dulu ya Dhiaz, nanti kita ketemu di parkiran.”
“Aku ikut ma’am,” tukas Acha. Ia tidak ingin berdua saja dengan pak Dhiaz yang dingin.
Setelah beberapa menit menunggu, si penjual sovenir akhirnya bicara lagi. “Semuanya sembilan puluh satu ribu pak.”
“Wow, hasilnya bagus sekali pak. Tulisan bapak cantik sekali, secantik yang punya.” Pak Dhiaz lalu memberikan uang seratus ribu rupiah ke bapak penjual.
“Alhamdulillah kalau adek suka. Beruntung sekali Aisyah ini, dicintai lelaki yang perhatian seperti kamu dek.”
Bapak penjual memberikan selembar uang lima ribu, dan dua lembar uang dua ribu ke pak Dhiaz.
“Ambil saja lebihnya pak. Tolong bantu doakan supaya aku dan Aisyah berjodoh ya pak.”
“Alhamdulillah rezeki, terima kasih ya dek. Aku pasti doakan supaya adek dan perempuan beruntung yang bernama Aisyah itu berjodoh.”
“Sama-sama pak.” Pak Dhiaz tersenyum, lalu meninggalkan lapak si bapak penjual perahu sandeq mini.
Pak Dhiaz kembali berkeliling-keliling untuk melihat-lihat sovenir yang lain. Sebelum akhirnya kembali ke parkiran dengan cepat, karena tak menemukan sovenir yang sreg untuk ia pinang.
Bu Nadia dan Acha sudah kembali ke mobil dengan menenteng banyak belanjaan. Pak Dhiaz yang sedari tadi menunggu, langsung saja melajukan mobilnya ke hotel.
Keesokan paginya, tajam mentari menembus tirai kamar pak Dhiaz dengan perlahan. Ruangan yang berpenyejuk udara itu menjadi sedikit hangat karenanya.
Dengan semangat empat lima, pak Dhiaz bersiap-siap. Akhirnya, setelah sepekan berlalu. Ia akan melajukan mobilnya untuk pulang ke Sulsel hari ini.
Di perjalanan, ia kembali teringat pada Aisyah saat melihat banyak kuliner khas Sulbar dijajakan di sepanjang jalan.
__ADS_1
Ia pun memarkirkan mobilnya ke tepi, lalu turun. Acha dan bu Nadia ikut turun, mereka berdua langsung merogoh kantong.
Sementara pak Dhiaz, ia mengambil gawainya. Panggilannya sudah berhasil menembus nomor telepon seluler Aisyah.
“Apa lagi sih sir?” tanya Aisyah yang kelelahan setelah melakukan aktivitas padat seharian.
“Bukan apa-apa Aisyah. Aku cuman mau tanya, kamu suka makanan yang manis atau asin?”
“Malah ditanya, suka dua-duanya lah sir.”
“Yang paling kamu suka Aisyah,” ucap pak Dhiaz dengan memberikan penekanan pada intonasi suaranya.
“Lebih suka yang asin siiiiiiiir.”
“Okay Aisyaaaaah.” Pak Dhiaz langsung mengakhiri panggilannya.
“Dihhh, dimatiin. Dasar pak Dhiaz ga’je. Untuk apa coba dia menelepon kalau cuman mau tanya rasa makanan kesukaanku? Efek kelamaan membujang ini mah. Otaknya jadi rada-rada gitu.”
Karena Aisyah lebih suka makanan asin, maka pak Dhiaz membelikannya banyak sambusa. Makanan yang mirip dengan samosa, makanan kesukaan Motu.
Jika samosa berisi kentang rebus dan rempah, maka sambusa berisikan daging ikan tuna dan irisan daun bawang.
Pak Dhiaz juga membeli bolu paranggi untuk ibunya. Bolu paranggi memiliki tekstur yang mirip dengan bolu kukus.
Bolu paranggi adalah salah satu jenis kue manis yang terbuat dari campuran tepung terigu dan gula aren.
Tak lupa, pak Dhiaz juga membeli makanan yang tahan lama untuk diberikan ke rekan kerjanya. Agar tidak basi saat dibagi-bagikan di kampus nanti.
Baje’, kue yang terbuat dari perpaduan beras ketan, kelapa parut, dan gula merah. Kue tahan lama ini dibungkus menggunakan daun pisang kering.
Setelah itu, pak Dhiaz kembali ke mobil. Ia menunggu agak lama seperti kemarin, karena bu Nadia dan Acha masih begitu sibuk memborong kuliner khas Sulbar.
“Ma’am, Aisyah itu siapa sih?” tanya Acha mumpung pak Dhiaz ada di mobil.
“Kenapa kamu tanyakan itu?” tanya bu Nadia balik dengan mengernyitkan alis kirinya.
“He he, cuman penasaran ma’am. Aisyah itu pacarnya pak Dhiaz yah ma'am? Soalnya kemarin pak Dhiaz belikan dia sovenir. Bahkan tadi sampai meneleponnya untuk tanya makanan kesukaannya.”
“Aisyah itu asistennya. Juniormu di kampus,” jawab bu Nadia dengan nada ketus.
“Jadi penasaran mau lihat muka Aisyah. Seberapa menarik sih dia, sampai pak Dhiaz yang killer berhasil ia taklukkan.”
“Kamu kira pak Dhiaz Konstantinopel, ditaklukkan.”
“Pak Dhiaz memang seperti Konstantinopel ma’am. Hanya orang-orang istimewa dan terpilih saja yang bisa menaklukkannya. Makanya aku sangat penasaran dengan Aisyah. Pasti Aisyah orangnya sangat menarik.”
“Hush, jangan bahas itu lagi. Bisa berabe kalau pak Dhiaz dengar kita sedang membicarakannya.”
“He he, okay ma’am.”
Bu Nadia dan Acha kini menghampiri pak Dhiaz di mobil. Mereka duduk di jok tengah, karena pak Dhiaz si manusia es tidak membiarkan perempuan selain perempuan dari keluarganya untuk duduk di sampingnya.
Tanpa menunggu aba-aba dari bu Nadia dan Acha, pak Dhiaz langsung melajukan mobil ke kota kelahirannya.
Sejam berlalu, tapi lagu yang pak Dhiaz setel hanya satu lagu. Yakni Aisyah Istri Rasulullah yang dipopulerkan Syakir Daulay.
“Sejak kapan kamu suka lagu-lagu Islami? Biasanya juga kamu putar lagunya Jamrud, Slank, atau Ahmad Dani. Sudah sejam loh ini putar lagu Aisyah terus, ganti lagu yang lain dong. Bosan tau dengar lagu itu terus,” tegur bu Nadia.
__ADS_1
“Aku mencium bau-bau cinta segitiga. Besok, aku harus cari tahu tentang Aisyah. Demi dia pak Dhiaz sampai mengabaikan bu Nadia. I can’t stand curious like this,” batin Acha.
Terima kasih masih setia membaca hingga di bab ini. Sehat terus ya readers, bagi yang sakit semoga lekas sembuh. Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers, love you so bad.