Hipotesis Cinta

Hipotesis Cinta
Eps 14


__ADS_3

Pak Putra membatin saat mendengarkan Aisyah berbicara. “Asyik juga ya anak ini diajak cerita, bahas apa pun nyambung. Benar kata Dhiaz, Aisyah ini cerdas. Makanya dia menarik, karena wawasannya luas. Mukanya juga cantik, walau tak secantik Adifa sih. Kalau tidak hijaban, mungkin bodynya juga seseksi Adifa.”


Tatapan pak Putra ke Aisyah membuat pak Dhiaz yang melihatnya jadi risih. Ia pun mencari cara agar Aisyah bisa berjauhan dengan pak Putra.


“Aisyah tolong ambilkan HPku. Sepertinya casnya sudah penuh,” perintahnya.


Aisyah mengambil gawai pak Dhiaz. Charger miliknya ia masukkan kembali ke dalam tas.


“Ini sir,” ucapnya seraya mengembalikan gawai mahal pak Dhiaz.


“Lain kali jangan cerita kalau ada yang sedang bawa materi. Tidak sopan,” pinta pak Dhiaz dengan sedikit menggertak. Aisyah mengangguki ucapan pak Dhiaz.


“Mau kemana?” tanya pak Dhiaz pada Aisyah yang akan kembali ke tempat duduknya tadi.


Aisyah berbalik, “mau duduk sir.”


“Kenapa harus ke situ? Di sini kan banyak kursi kosong. Jangan sampai kamu cerita lagi dengan pak Putra. Ingat, kamu itu sudah senior Aisyah. Seharusnya kamu kasih contoh yang baik ke juniormu.”


Aisyah terpaksa duduk kembali. Ia duduk di kursi yang dekat dari pak Dhiaz. Pak Putra yang masih ingin berbincang-bincang dengan Aisyah, beranjak meninggalkan kursinya. Ia lalu mendekat, untuk duduk di samping Aisyah.


Melihat itu, pak Dhiaz kembali memanggil Aisyah. Aisyah kemudian menghampirinya.


“Apa lagi sir?” tanya Aisyah yang sedang berusaha menahan emosinya agar tidak meledak.


“Ganti panitianya, bilang aku yang suruh.”


Aisyah mendekati panitia yang pak Dhiaz maksud, yang tak lain adalah Adifa. “Maaf sista, pak Dhiaz menyuruhku untuk gantikan kamu di sini.”


Sebenarnya Adifa sengaja mengambil tugas itu, supaya ia bisa dekat dengan pak Dhiaz. Tapi apa boleh buat, pak Dhiaz sendirilah yang menyuruh Aisyah untuk menggantikannya.


Terpaksa Adifa harus berdiri dari duduknya.


Aisyah kini menggantikan Adifa untuk duduk di depan laptop pak Dhiaz. Itu membuatnya tak bisa lagi bercerita dengan pak Putra.


Ia harus terus fokus memindahkan slide yang sudah dibahas pak Dhiaz. Kalau ia bercerita, proses pemaparan materi pak Dhiaz akan terganggu.


Pemaparan materi pak Dhiaz berakhir pada pukul sebelas lewat. Dengan begitu, Aisyah sebagai moderator sudah boleh pulang, karena tugasnya sebagai moderator juga sudah selesai.


“Aisyah, kamu pulang sama siapa?” tanya pak Putra setelah pemaparan materi itu berakhir.

__ADS_1


“Belum tahu sir, mungkin diantar panitia. Kenapa sir?”


“Pulang bareng aku aja. Lagian kan sekarang sedang hujan, kalau diantar panitia pakai motor kamu bisa flu nanti.”


Pak Dhiaz yang menyaksikan itu, kembali bertindak untuk menggagalkan upaya pak Putra.


“Aisyah pulang bersamaku pak. Ada hal penting seputar kampus yang mau kami bicarakan.”


“Oh, okay. Then see you tomorrow kalau gitu.”


Pak Putra merasa sedikit terganggu dengan sikap pak Dhiaz. Entah kenapa dari tadi ia merasa, kolleganya itu seperti tak membiarkan dirinya untuk mendekati Aisyah.


“Pak Putra,” panggil seseorang dari arah belakang padanya.


Pak Putra berbalik, dengan harapan yang memanggilnya adalah Aisyah. Tapi gayung tidak bersambut, ternyata yang memanggilnya adalah pak Sakti.


“Iya, ada apa bree?”


“Aku nebeng ya di mobilmu, mobilku rusak. Masih ada di bengkel, kata montirnya besok baru boleh diambil.”


“Okay, why not?”


“Kenapa? Namanya juga dosen. Kalau bisa membantu mahasiswa, kenapa tidak?”


“Omonganmu, you can’t lie to me bro. Kita sudah lama bersama dan aku tahu betul sikapmu bagaimana. Kamu suka kan sama Aisyah?”


Pak Putra cengengesan. Pipinya jadi mengembang, layaknya perasaannya ke Aisyah saat ini.


“Bukannya kamu juga suka sama Adifa? Kenapa sekarang kamu berpindah ke lain hati?” tanya pak Sakti lagi.


“Itu dulu, waktu belum ketemu Aisyah. Tapi setelah ketemu Aisyah, I just realized kalau Adifa ternyata tidak memenuhi semua kategori calon istri idamanku. Dia memang lebih cantik dari Aisyah, tapi mengobrol dengannya tidak seasyik saat mengobrol dengan Aisyah.”


Pak Sakti menarik kedua sudut bibirnya. “Baguslah kalau begitu, akhirnya saingan terberatku dari kalangan dosen berkurang.”


“Memangnya masih ada saingan beratmu selain aku?”


“Ada lah, dosen ini bukan hanya sainganku bro. Dia juga sainganmu.”


“Siapa?” Pak Putra benar-benar dibuat penasaran oleh kata-kata pak Sakti.

__ADS_1


“Siapa lagi kalau bukan Dhiaz.”


“Maksud kamu Dhiaz suka sama Aisyah dan Adifa? Wow, mencintai dua wanita sekaligus. Serakah juga ya dia.”


“Bukan begitu, bro. Jadi begini, aku suka Adifa. But Adifa suka sama Dhiaz. Sementara Dhiaz suka sama Aisyah. Nah yang terakhir ini yang sulit ditebak, I don’t know Aisyah sukanya ke siapa.”


“Bagus dong kalau kamu belum tahu Aisyah sukanya ke siapa, itu berarti aku masih punya kesempatan untuk mendekatinya. Tapi kalau saingannya Dhiaz, uhh berat bree. Anyway bagaimana kamu tahu kalau Dhiaz suka sama Aisyah?”


“Aku perhatikan, dia tidak membiarkan kamu dekat dengan Aisyah. Itu pasti karena dia tidak mau Aisyah dekat dengan lelaki lain.”


“Iya, kamu benar bree. I can feel that, Dhiaz seperti sengaja menjauhkan Aisyah dariku. Then how do you know kalau Dhiaz tidak suka sama Adifa? Masalah charger itu? Belum bisa dijadikan patokan suka bree.”


“Adifa perhatian ke Dhiaz, padahal dia sudah diabaikan masalah charger. Tapi dia masih mau membantu Dhiaz saat pemaparan materi. It is clear enough bro.”


“Ternyata kamu diam-diam suka membaca situasi ya, hebat kamu bree.”


“Tidak hebat kalau belum bisa mendapatkan hati Adifa. Kamu juga tidak hebat kalau belum bisa meluluhkan hati Aisyah.”


Mereka terus mengobrol hingga tiba di rumah pak Sakti. Sementara di kampus, Adifa curhat-curhatan lagi dengan Keysya.


Adifa memulai obrolan. “Perasaan Aisyah biasa saja, tapi pak Dhiaz kok kelihatan care banget ya ke dia? Baru kali ini loh ada lelaki yang mencampakkanku demi perempuan lain. Emang bangsat tuh dosen.”


“You are right Fa. Bukan hanya pak Dhiaz yang care ke dia, tapi pak Putra juga . Mereka sampai rebutan mau antar Aisyah pulang. Padahal mah Aisyah biasa saja, bahkan dulu dia jelek sekali.”


“Hah? Aisyah pernah jelek? Masa’ sih?”


“Iya, tunggu kucarikan foto lamanya. Supaya kamu lihat sendiri seberapa buruk rupanya Aisyah yang dulu.”


Keysya menggeser-geserkan jari-jemarinya secara bergantian di atas layar gawai. Ia mengarahkan jari-jarinya untuk membuka galeri.


Beberapa foto lama Aisyah terpampang nyata di galeri gawainya. Ia lalu memperlihatkannya pada Adifa.


Adifa mengambil gawai Keysya, lalu memperhatikan foto Aisyah lekat-lekat. “Astaga, ternyata Aisyah sejelek ini ya dulu. Kacamatanya itu loh, sumpah iyyuh beut.”


“Emang pak Dhiaz dan pak Putra aja yang goblok mau memperebutkan perempuan jelek sepertinya,” balas Keysya.


Dan masih banyak lagi komentar buruk yang mereka lontarkan saat membuka satu per satu foto lama Aisyah.


Hi readers yg budiman, terima kasih sudah mampir ya. Jangan lupa kasih dukungannya. Have a nice day for us...

__ADS_1


__ADS_2