Hipotesis Cinta

Hipotesis Cinta
Eps 20


__ADS_3

“Mama perhatikan, semenjak kamu jadi asisten dosen Ilham tidak pernah lagi ke rumah? Biasanya dia selalu datang cari kamu. Kalian ada masalah ya?”


“Ilham jadian sama Keysya ma, makanya dia tidak pernah ke sini lagi.”


“Cieee, kak Ai ditikung sahabat sendiri. Makanya dengar kata kak Nisa, jangan pacar-pacaran!”


“Helleh, bocah prik sok tahu. Siapa juga yang pacar-pacaran?”


“Oh, jadi itu penyebabnya kamu nangis kejer waktu itu. Kalau Ilham sama Keysya, kamu sama pak Dhiaz saja. Mama yakin pak Dhiaz suka sama kamu. Ilham yang suka PHP itu buang saja ke laut, biar jadi bulu babi sekalian.”


“Mama mah sok tahu, yang tahu perasaannya pak Dhiaz itu pak Dhiaz sendiri. Bukan mama, jadi tidak usah menebak-nebak dia suka sama aku.”


“Mama juga pernah muda Ai. Papamu juga dulu waktu PDKT ke mama, suka perhatian seperti pak Dhiaz.”


Aisyah kini diam saja, percuma juga ia membela diri. Apa pun yang ia katakan, bu Arni pasti punya sanggahan untuk membantahnya.


“Perahunya cantik kak. Secantik kakak,” ucap Wahdah sembari memegangi sandeq mini pemberian pak Dhiaz.


“Kamu labil sekali, tadi ngatain. Sekarang malah balik memuji.”


“Kalau berkaitan dengan Ilham, kakak buruk. Tapi kalau berkaitan dengan pak Dhiaz, kakak baik sebaik-baiknya.”


Aisyah duduk dengan wajah muram. “Dari tadi pembahasannya pak Dhiaz terus, bikin bete saja.”


“Mau bahas apa lagi? Tidak mungkin kan kita bahas Omicron kalau kawin dengan Delta bisa menghasilkan virus rekombinan. Mending bahas kakak kawin dengan pak Dhiaz, ha ha ha.”


“Iiihhh, Wahdah mulutnya.”


“Tanduknya kak Ai keluar,” ujar Wahdah lalu berlari.


Aisyah ikut berlari, ia mencoba menangkap Wahdah. Ia sudah tak sabar untuk mencubit adik nakalnya itu.


“Kalian ini sudah besar. Jangan kejar-kejaran di dalam rumah. Barang-barang bisa jatuh semua nanti. Ya ampun, anak-anak ini tidak mau mendengar.”


Wahdah dengan cepat berlari ke kamar. Ia mempercepat langkah, perasaannya mulai tidak karuan saat melihat Aisyah semakin dekat darinya.


Wahdah cepat-cepat masuk kamar lalu mengunci pintu. “Selamat,” ucapnya ngos-ngosan.


Besoknya, “Hari ini bukan tugas piketmu. Kenapa berangkat sekolah pagi sekali?” tanya bu Arni pada Wahdah.”


“Sengaja ma, biar tidak dicubit kakak. Assalamu ‘alaykum.” Wahdah menyalami ibunya lalu berangkat.


“Wa ‘alaykumussalam warahmatullah.”


Sepulangnya dari jogging, Aisyah segera ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Kulitnya terasa benar-benar lengket oleh banyaknya peluh yang keluar dari pori-pori tubuhnya.


Sementara di rumah pak Dhiaz, pak Putra membawakan dua pakaian untuk tour guide IMYP di sana.


Pak Dhiaz berterima kasih untuk itu. Tak lupa ia memberikan baje’ yang dibelinya di Sulbar saat pak Putra pamit pulang.


Hari ini pak Dhiaz memutuskan untuk tidak mengajar dulu. Seharian menyetir kemarin sungguh menguras tenaganya. Jadi dia mau istirahat total dulu untuk memulihkan tenaganya.

__ADS_1


Di sore hari, “Mau kemana?” tanya bu Rahma pada anaknya yang bersiap untuk keluar rumah.


“Mau ke rumah Aisyah ma,” tutur pak Dhiaz sembari memegangi baju IMYP yang dibawa Putra tadi pagi.


“Suruh dia saja yang ke sini. Mama penasaran mau lihat calon istrimu itu.”


“Iya, papa juga penasaran.” Pak Abdul menimpali ucapan istrinya.


“Mama dan papa kan sudah lihat fotonya.”


“Tapi beda Dhiaz. Kami mau lihat langsung.”


“Baiklah, aku telepon Aisyah dulu untuk datang ke sini.”


Pak Dhiaz terpaksa duduk kembali. Hadiah untuk Aisyah ia letakkan di meja.


“Loudspeaker, mama mau dengar semesra apa kamu dengan Aisyah di telepon.”


“Halo sayang,” ucap pak Dhiaz ragu-ragu.


“Tamatlah riwayatku kalau Aisyah membalasku sejutek biasanya,” batinnya.


“Iya, ada apa sayang?” balas Aisyah romantis. Ia yakin pak Dhiaz pasti sedang berpura-pura.


“Baju IMYP untuk kamu dan Ismi sudah pak Putra bawa ke sini sayang. Mau kubawakan ke rumahmu, tapi aku masih capek sudah menyetir seharian kemarin. Kamu yang ke sini ya sayang.”


“Okay, sayang.”


Berbekal google map, ia mencari alamat rumah pak Dhiaz. Beruntung Iqnya bagus, jadi dia tidak kesulitan menemukan rumah pak Dhiaz.


Aisyah sudah tiba di depan rumah pak Dhiaz.


“Ayo masuk sayang,” canda pak Dhiaz saat menyambutnya.


“Iya sayang.”


Aisyah dan pak Dhiaz lalu tertawa keras.


Setelah beberapa menit, “Ayo masuk, mama dan papaku sudah tidak sabar mau lihat kamu.”


Mereka berdua masuk, Aisyah menyalami bu Rahma sebelum duduk.


“Dimakan nak.” Bu Rahma menyodorkan makanan yang pak Dhiaz bawa dari Sulbar.


“Iya tante,” jawab Aisyah sedikit canggung.


Ia hanya acting, tapi berasa seperti berhadapan dengan calon mertua beneran. Padahal waktu di rumah nenek, Aisyah begitu percaya diri.


Entah kenapa, nyalinya seketika ciut di hadapan bu Rahma dan pak Abdul.


Aisyah menyantap makanan yang disajikan bu Rahma. Setelah itu, ia diajak ke kamar pak Dhiaz. “Yang ini kamar Dhiaz, kamar kamu juga nanti.”

__ADS_1


Aisyah mengangguk, bu Rahma mengajaknya lagi ke kamar yang lain. Di kamar itu, ia mengambil album keluarga. Kemudian memperlihatkan foto-foto lama pak Dhiaz.


Foto yang memperlihatkan fisik purbakala sang dosen idola kampus. Pak Dhiaz terlihat gemuk dengan kulit hitam legamnya.


“Bagaimana menurut kamu nak? Dhiaz dulu jelek sekali ya?”


“Ganteng kok tante,” jawab Aisyah datar.


“Kamu jujur saja nak, tidak apa-apa. Dhiaz yang dulu memang jelek, tidak setampan sekarang kan?”


“Sama saja tante, bedanya cuman di berat badan dan warna kulit.”


Bu Rahma merasa lega sekali mendengar balasan Aisyah. Ia memang menginginkan menantu seperti Aisyah, yang bisa menerima masa lalu anaknya.


Bu Rahma kembali mengajak Aisyah keliling rumah, kali ini ia membawa Aisyah ke tempat Dhiaz sering ngegym.


“Dhiaz tiap hari olahraga. Kalau bangun pagi dia tidak di kamar, itu berarti dia sedang olahraga di sini.”


Aisyah manggut-manggut lagi. Ia tak habis pikir, yang awalnya cuman iseng malah terlibat lebih jauh.


Lagi, bu Rahma mengajak Aisyah ke dapur. “Yang ini kursinya Dhiaz. Oh ya, Dhiaz itu sangat suka makan daging merah. Kamu tahu kan daging merah yang mana saja?”


“Setahu saya daging merah itu seperti daging sapi, kerbau, domba, kambing, dan kuda tante.”


Bu Rahma bermonolog dalam hati. “Pantas saja Dhiaz suka anak ini. Selain namanya yang mirip, Aisyah juga tidak kalah cerdas dari Aisyah Munaf.”


“Setelah menikah nanti, kamu juga akan dimakan setiap hari.” Bu Rahma tertawa renyah sekali.


Aisyah hanya bisa tersenyum kecut. Ia dan pak Dhiaz hanya berpura-pura, tapi bu Rahma sudah seserius itu menanggapi acting mereka.


Seusai itu, mereka kembali ke ruang tamu.


“Aku pamit dulu ya om, tante. Sudah mau magrib ini.”


“Iya nak. Dhiaz, antar Aisyah pulang sayang.”


“Iya ma.”


Bu Rahma dan pak Abdul terus membuntuti mereka sampai luar. Terpaksa Aisyah harus duduk di depan bersama pak Dhiaz.


“I am afraid kalau acting kita ini berakhir ke pelaminan sir.”


“Kamu tenang saja Aisyah! Aku pasti akan cari cara nanti. Lagian aku juga tidak mau kamu terpaksa menikah denganku.”


“Okay sir.”


Sesampainya di rumah Aisyah, “Kamu lupa baju IMYPnya.” Pak Dhiaz menyodorkannya ke Aisyah.


“Oh iya, terima kasih sir.”


“Sama-sama.” Pak Dhiaz lalu balik ke rumahnya.

__ADS_1


Jangan lupa dilike ya readers 🤭🤭


__ADS_2