Hipotesis Cinta

Hipotesis Cinta
Eps 38


__ADS_3

“Aku tertarik meneliti tentang grammar ma’am.”


“Preposition kan juga bagian dari grammar. Malah lebih bagus kalau kamu bahas preposition, materinya bisa lebih spesifik. Kamu ambil penelitian pertama saja, biar aku bisa jadi pembimbingmu juga. Fixed ya, kamu ambil penelitian kualitatif ini. Aku yang jadi pembimbing satumu.”


“Pembimbing duanya siapa ma’am?”


“Pak Dhiaz, tapi pak Dhiaz tidak bisa ke kampus hari ini. Katanya lagi ada acara keluarga. Kalau tidak ditandatangani pak Dhiaz hari ini, kamu baru bisa menyusun proposal di bulan Juni. Karena besok sampai 28 Juni nanti aku harus ikut pelatihan. Otomatis aku tidak bisa menandatangani lembaran ini kalau sudah pelatihan nanti.”


“Apa tidak ada solusi lain ma’am?” tanya Aisyah dengan raut muka sedih.


“Begini saja, sekarang kamu ke rumah pak Dhiaz untuk minta tanda tangannya. Bilang saja aku yang suruh. Kamu lihat rumahnya kan?”


“Iya lihat ma’am. Terima kasih banyak ma’am.”


“Okay, sama-sama.”


Aisyah bergegas keluar dari ruangan bu Reka. Dengan langkah cepat dia membawa lembar usulan judul skripsi ke rumah pak Dhiaz.


Seperti yang bu Reka katakan, di rumah pak Dhiaz memang terlihat ramai. Aisyah sebenarnya tidak enak hati untuk masuk, tapi dia harus dapat tanda tangan pak Dhiaz hari ini juga.


Dengan langkah pelan dan kepala sedikit menunduk, dia memasuki rumah pak Dhiaz. Ternyata di dalam sedang berlangsung acara tunangan pak Dhiaz dan Jusma.

__ADS_1


“Hey Aisyah,” sapa Jusma ramah. Rona kebahagiaan senantiasa melekat di wajahnya. Dia juga terlihat sangat cantik hari ini.


“Hi Jus,” balas Aisyah sembari tersenyum getir.


“Kalian kenal?” tanya nenek penasaran.


“Iya nek, Aisyah ini tetanggaku.”


“Mau apa ke sini?” tanya pak Dhiaz ketus.


“Minta tanda tangan sir,” balas Aisyah dengan intonasi pelan.


“Ngotak sedikit dong kamu jadi mahasiswa. Lihat sendiri kan ada acara? Masih nekat saja minta tanda tangan di saat seperti ini.”


“Itu bukan urusanku,” jawab pak Dhiaz yang enggan meladeni Aisyah.


Aisyah berpaling, rintik-rintik tangis mulai berjatuhan dari matanya yang sendu.


Menyedihkan memang melihat pak Dhiaz menikah dengan tetangganya sendiri. Tapi lebih menyedihkan lagi kala mendapati pak Dhiaz tidak peduli lagi padanya.


“Aisyah kemari nak,” panggil nenek.

__ADS_1


“Iya, kenapa nek?” tanya Aisyah sembari menunduk.


Nenek mengambil lembaran usulan judul skripsi. “Tanda tangani sekarang!” perintahnya pada cucunya.


“Pulpen.” Pak Dhiaz menadahkan tangannya ke Aisyah.


Aisyah menyodorkan pulpen bertinta hitam ke pak Dhiaz. Kini tanda tangan pak Dhiaz sudah ada di lembar usulan judul miliknya.


“Terima kasih sir,” balas Aisyah cepat.


Aisyah kembali ke kampus.


“Kamu sudah boleh menyusun proposal. Tapi konsul di pak Dhiaz saja ya. Nanti kalau menyusun skripsi baru konsul ke aku,” titah bu Reka setelah menandatangani lembar judul Aisyah.


Terlalu lelah, Aisyah langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang setelah tiba di rumah. Dia tertidur sebentar.


Saat bangun tubuhnya sudah fresh lagi. Dia bangkit untuk mengambil semua pakaian yang diberikan pak Dhiaz dulu.


Pakaian itu dia lipat rapi, lalu dimasukkan ke dalam tas. Dua sepatu pemberian pak Dhiaz juga telah dia amankan di dalam kotak.


Baju dan sepatu itu akan dia berikan ke Jusma nanti sore. Aisyah merasa tidak pantas untuk mengenakan itu, karena dia bukan asisten pak Dhiaz lagi.

__ADS_1


Jual bawang


__ADS_2