Hipotesis Cinta

Hipotesis Cinta
Eps 48


__ADS_3

“Kita mau kemana sir?”


“Ke rumah lah. Mau kemana lagi?”


“Tapi kita sudah janji tidak akan tinggal serumah.”


“Jusma tidak akan tahu kalau kamu tidak cerita.”


“What? Antar aku ke rumah nenek saja sir.”


“Malas ke rumah nenek. I am tired Aisyah, aku mau cepat istirahat. Perutku juga sudah keroncongan ini.”


“Nanti mama dan papa marah,” cemas Aisyah.


Pak Dhiaz tersenyum lalu berkata, “Mama dan papa? Kamu mengakui orang tuaku sebagai mertuamu?”


Aisyah spontan menggigit bibir bawahnya. “Maksud aku mama dan papa sir.”


Setibanya di rumah.


“Aku pinjam kamar sir ya,” pinta Aisyah sebelum pak Dhiaz menuju dapur.


“Okay, boleh.”


Aisyah bergegas ke kamar pak Dhiaz. Dia langsung masuk kamar mandi untuk berendam di bath ub.


Belum selesai dengan aktivitas berendamnya, pak Dhiaz malah masuk.


“Aaaaa, what are you doing sir?” teriak Aisyah seraya menyilangkan tangannya untuk melindungi dua gundukan yang sangat berharga baginya.


“Sorry, aku lupa kalau kamu ada di sini.”

__ADS_1


Pak Dhiaz beranjak keluar, pipinya mengembang. Ada rona merah jambu di kedua pipinya. “Gunungnya Aisyah cantik sekali,” batinnya.


Aisyah bergegas berpakaian lengkap sebelum keluar.


“Masih pakai hijab? Aku kan sudah jadi mahrammu sekarang,” ucap pak Dhiaz.


“Iya, tapi aku sudah janji ke Jus untuk tidak memperlakukan sir sebagai suami.” Setelah berkata seperti itu, Aisyah langsung ke kamar tamu yang sudah dibuka bu Rahma untuknya.


Aisyah yang kelelahan akhirnya terlelap, dan pak Dhiaz yang akhlakless masuk begitu saja di kamar itu.


Dia mendapati Aisyah sedang tidur tanpa mengenakan hijab. Dia mengguncang tubuh Aisyah sambil berkata, “Bangun!”


Aisyah cepat-cepat mengenakan hijabnya. “Mau apa lagi sih sir?” tanyanya kesal .


“Follow me,” perintah pak Dhiaz.


Aisyah terpaksa mengikutinya.


“Bantu aku periksa tugas ini,” lanjut pak Dhiaz setelah tiba di kamar.


Aisyah berbaring setelah memeriksa separuh tugas. “Kenapa berhenti? Tugas-tugas ini belum kamu periksa semua.”


“Tunggu sebentar sir, aku stretching dulu.”


Aisyah yang awalnya berniat baring sebentar, malah keterusan tidur.


“Malam pertama yang menyebalkan,” keluh pak Dhiaz sebelum akhirnya memeriksa tugas yang belum diperiksa Aisyah.


“Beres juga akhirnya,” ujar pak Dhiaz seraya meminggirkan tugas-tugas itu.


Ia lalu tidur di samping Aisyah yang juga sudah terlelap sembari memeluk guling.

__ADS_1


Setelah lama tertidur, pak Dhiaz yang biasanya tidur sambil memeluk guling malah memeluk Aisyah yang disangka guling. Dia yang biasanya tidur sendiri juga sampai lupa kalau Aisyah tengah tidur di kamarnya.


“Kenapa gulingku jadi kenyal begini ya?” monolognya di subuh hari.


Aisyah yang merasakan satu balonnya sedang dire-mas membuka matanya cepat. “Aaaaa, lepaskan sir!”


“Bantalku juga sudah bisa bicara ya sekarang,” ujar pak Dhiaz yang masih setengah sadar. Tangannya masih terus memainkan satu balon kenyal milik Aisyah.


“Oiii dosen mesum, bangun!” teriak Aisyah yang berhasil membuat pak Dhiaz membuka matanya.


“Astaghfirullah.” Pak Dhiaz cepat-cepat menjauh dari Aisyah.


Teriakan Aisyah ternyata mengundang tanya di benak bu Rahma dan pak Abdul yang mendengarnya. “Jangan sampai Dhiaz meniduri Aisyah. Kasihan Jusma.”


Bu Rahma cepat-cepat menghampiri Aisyah. “Kamu kenapa teriak-teriak?”


“Ada ular ma.”


“Ular? Mana?” tanya bu Rahma ketakutan.


“Anu, ularnya sudah keluar.”


“Baguslah kalau ularnya sudah keluar. Oh ya, kamu jangan panggil aku mama ya Aisyah. Panggil tante saja, jangan sampai kamu terbiasa panggil aku mama. Jusma bisa sedih nanti mendengarnya.”


“Iya, maaf tante. Itu tadi cuman karena aku kaget, makanya refleks panggil mama. Karena biasanya kalau aku kaget, suka panggil mama.”


.


.


.

__ADS_1


Vulgar🙄


Tinggalkan jejak ya readers


__ADS_2