
Dua hari berlalu. Aisyah memandangi langit malam yang gelap, segelap hatinya saat ini. Besok lusa, dia akan menikah dengan lelaki pujaannya. Tapi dia justru harus menjanda di usia muda setelahnya.
Di keheningan itu, sebuah chat masuk di WhatsAppnya. “Kamu mau mahar apa?” bunyi chat itu.
“Untuk apa tanya mahar? Pernikahan kita kan cuman permainan.”
“Aku mau bermain dengan serius.”
Aisyah meletakkan gawainya, rasanya dia begitu enggan untuk membalas chat pak Dhiaz lagi.
“Tell me, kamu mau mahar apa?”
Chat itu pak Dhiaz kirim secara beruntun. Dengan kesal, Aisyah akhirnya membalasnya.
“Lantunkan surah Ash-shaffaat ayat 100.”
Pak Dhiaz segera mencari tahu tentang ayat itu. Beberapa menit kemudian, “Kamu mau punya anak yang saleh?” tanyanya setelah tahu arti dari ayat itu.
“Perempuan bodoh mana yang mau melahirkan anak durhaka?”
“Kamu minta mahar itu dariku. Means kamu mau punya anak yang saleh denganku. Sayang sekali, pernikahan kita hanya di atas kertas.”
“Berterima kasihlah karena permintaan maharku ini. Karenaku, sir jadi hafal doa diberikan anak yang saleh. Aku doakan, semoga sir dan Jus diberikan banyak anak yang saleh dan salehah.”
“Aamiin,” balas Dhiaz.
Aisyah menonaktifkan gawainya setelah membaca balasan itu. Gawainya dia simpan, dia lalu meraih tisu.
Langit yang gelap dan tisu yang ada di hadapannya saat ini, menjadi saksi betapa terpukulnya dia atas semua yang terjadi.
__ADS_1
Hingga tibalah hari pernikahan Aisyah, tak ada aura kebahagiaan di wajahnya saat ini. Dia memang menikah dengan lelaki yang dia cintai. Tapi itu hanya demi menutupi kasusnya yang mencoreng nama baik kampus.
“Senyum dong Ai,” pinta Ismi yang berada di sampingnya sebagai bridemaids.
Aisyah tersenyum atas permintaan Ismi, teman akrabnya yang tidak tahu kisah sebenarnya di balik pernikahannya.
“Pak Putra sama bu Nadia jadian ya?” tanya Aisyah kala melihat dua dosennya itu datang dengan bergandengan tangan di nikahannya.
“Iya, kata teman-teman sih begitu.”
“You look happy. Kamu sudah tidak cinta pak Putra lagi?”
Ismi mengangguk.
Aisyah masih ragu. “Serius Is?”
“Iya Aisyah,” jawab Ismi mantap.
“Iya dong, pak Putra mah tidak ada apa-apanya dibanding Alexei.”
“Alexei, who is that?”
“Peserta Rusia yang hari itu minta nomor kamu. Berkat kamu yang kasih nomor aku, akhirnya kami jadian Ai. Dia ajak aku nikah selesai S1 nanti loh. After that kami akan sama-sama lanjut S2 di Rusia.”
Pak Dhiaz mengingat kembali kejadian hari itu. Dia baru tahu kalau Aisyah tidak memberikan nomor ponselnya ke lelaki itu. Melainkan memberikan nomor Ismi.
“Ternyata Aisyah mahal juga ya,” batinnya.
Tamu undangan mulai berpulangan. Fotogragfer naik ke stage untuk meminta pak Dhiaz dan Aisyah berdekatan. Dia juga menuntun pasangan suami istri itu berpose mesra di hadapan kameranya.
__ADS_1
“Senyum dong cantik,” titahnya.
Mau tidak mau, Aisyah kembali memaksakan diri untuk tersenyum.
Seusai acara pernikahan.
“Mulai besok kita harus ke kampus bersama. Supaya tidak ada yang curiga dengan pernikahan kita,” tutur pak Dhiaz sebelum pulang.
Pak Ayyas yang melihat pak Dhiaz mau pergi langsung menegurnya. “Kamu mau pulang?” tanyanya yang tidak tahu asal usul pernikahan adik iparnya dan pak Dhiaz.
“Iya kak,” jawab pak Dhiaz takut.
“Kenapa tidak bawa istrimu?”
“Aisyah ayo ikut! Sudah kubilang kan tadi tidur di rumahku saja. Kamu sih ngeyel mau tidur di sini.”
Aisyah terpaksa ikut dengan pak Dhiaz.
“Kenapa tidak cerita ke kakak iparmu tentang masalah ini?” tanya pak Dhiaz kesal.
“Kalau dia tahu, kita tidak akan bisa bercerai. Sir dan Jusma tidak akan pernah bisa menikah.”
“Kalau begitu jangan ceritakan ke dia.”
.
.
.
__ADS_1
Jejaknya kakak, yuk dilike