
Tidak hanya membelikan Aisyah pakaian, pak Dhiaz juga akan membelikannya sepatu. Setelah selesai mengajar, pak Dhiaz berkunjung ke rumah Aisyah.
Ia datang bertepatan saat Aisyah sedang sibuk melayani beberapa pembeli di warung. Ia menghampiri Aisyah di warung. Melihatnya, Aisyah menyuruhnya untuk duduk.
Setelah itu, “Wahdah, buatkan ini dek,” pintanya seraya menyodorkan satu sachet pop ice rasa permen karet.
Dalam hitungan menit, pop icenya sudah jadi. Wahdah kemudian menuangkannya ke gelas. Aisyah kini mengambilnya untuk ditawarkan ke pak Dhiaz.
“Wow, thanks. Padahal aku belum pesan loh.”
“No, it is free sir. You come as my tamu, not pembeli.”
“Nope, aku tetap akan bayar. Aku tidak sempat makan di kampus tadi. I am too starving, so I decide untuk makan di sini.”
“Tapi sir menunya hanya ada nasi kuning, gorengan, dan siomay.”
“It is okay, perutku sangat bersahabat kok.”
“Okay. So, mau pesan apa sir?”
“Nasi kuning satu, siomaynya dua ribu, kalau gorengan yang tersedia apa saja?”
“Siomay goreng, bakwan, and tahu isi sir.”
“Bakwan satu dan tahu isi satu, enough. Make it fast ya Aisyah, cacing-cacing di perutku sudah demo ini.”
“Siap sir.”
Aisyah mulai meracik pesanan pak Dhiaz. Dengan piawainya ia menyatukan nasi kuning dan gorengan dalam satu piring.
Selang beberapa menit, makanan dan minuman pesanan pak Dhiaz sudah siap. Dengan penuh hati-hati, Aisyah meletakkannya di meja yang terbuat dari kayu itu.
Nasi, siomay, juga gorengan kini masuk ke dalam mulut pak Dhiaz. Di dalam rahang menawan itu, makanan tadi menari-nari bersama gigi, lidah, dan kelenjar mulut.
Setelah hancur, makanan tadi berlari ke perut. Last, perut memberitahu otak bahwa ia sudah penuh.
“Semuanya berapa?” tanya pak Dhiaz setelah kenyang.
“Semuanya delapan belas ribu pak.”
“Anyway, bungkus semua makanan yang masih tersisa. Sesuai janjiku, jualanmu akan kuborong hari ini.”
Sebagai penjual, Aisyah pasti senang jualannya laku. Tapi tidak dengan hari ini, karena sebenarnya ia berharap pak Dhiaz lupa akan janjinya yang kemarin.
Setelah itu, pak Dhiaz melajukan mobil ke toko sepatu. Bersama dengan dua putri bu Arni yang duduk di jok tengah.
Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, pak Dhiaz memberhentikan mobilnya di sebuah panti asuhan. Padahal tujuan mereka adalah ke toko sepatu, bukan ke panti.
Ternyata semua makanan yang pak Dhiaz borong tadi, ia berikan ke ibu panti. Ia juga memberikan amplop tebal berisikan uang berwarna merah muda, untuk dibagikan ke anak-anak panti.
Setelah itu, barulah ia mengantar Wahdah ke toko sepatu. Dengan malu-malu, Wahdah mengambil sepasang sepatu cantik di toko.
Tapi saat mengetahui harganya, Wahdah mengurungkan niatnya untuk mengambil sepatu itu. Ia beranjak untuk beralih ke sepatu lain, yang harganya lebih murah dari sepatu itu.
“Yang itu saja dek, tidak usah diganti. Uangku cukup kok untuk membelinya.” Ucapan pak Dhiaz akhirnya menghentikan langkah Wahdah.
“Yang ini juga mbak.” Pak Dhiaz menyerahkan dua pasang sepatu ke kasir, setelah kasir itu menghitung harga sepatu Wahdah.
__ADS_1
“Jangan bosan-bosan memanjakan anak dan istri di toko kami pak,” ucap sang kasir saat mengembalikan sisa uang pak Dhiaz.
“Kemarin dikira istri, sekarang malah lebih parah. Wahdah dikira anak kami, hadeuh. Menyebalkan sekali,” batin Aisyah.
Keesokan harinya, sepulangnya dari kampus. Aisyah menunggu angkot untuk pulang. Tiba-tiba gawainya bergetar.
Ia memperhatikan siapa gerangan si penelepon itu. “Aish, pak Dhiaz lagi. Mau apa lagi sih ini dosen?” gerutunya lalu menjawab panggilan itu.
“Aisyah, tolong ke ruanganku sekarang! Ada hal penting yang ingin kubicarakan.”
Pak Dhiaz langsung memutuskan panggilannya, padahal Aisyah belum menjawab apa-apa.
“Iiihh, dosen nyebelin. Otoriternya luar biasa. Apa-apa ada hal penting yang ingin kubicarakan.”
Aisyah mengepalkan tangannya, ingin sekali rasanya ia membanting gawainya. Tapi sayang kalau rusak.
Aisyah terpaksa harus kembali ke kampus. Dengan keringat yang bercucuran di wajahnya, ia mengetuk pintu ruangan pak Dhiaz.
“Masuk!”
“Ada apa yah sir?”
“Lap dulu keringatmu!” ucap pak Dhiaz dengan tisu di genggaman.
Aisyah mengambilnya, “Terima kasih sir.”
“For you. Pakai saat menemaniku di acara kampus. Yang satunya untuk ke pesta.”
Sepasang pumps berwarna hitam dan statement heels pink yang dibelinya kemarin ia berikan.
“Aku tidak bisa pakai heels sir. Lihat sendiri kan selama ini aku pakainya flat shoes.”
“Harus belajar make up dan harus belajar pakai heels.”
“Cerdas, so tunggu apa lagi?”
“Maksudnya?” tanya Aisyah dengan menaikkan satu alisnya ke atas.
“Kamu sudah punya dua heels sekarang.”
Aisyah akhirnya paham dengan maksud pak Dhiaz. “Sekarang banget yah sir?”
“Yup, kamu hanya boleh pulang setelah berlatih.”
Mendengar itu, Aisyah pun membuka flat shoesnya. Lalu meraih pumps hitam yang haknya lebih pendek untuk ia pelajari.
“Not the black, but that pink one. Kamu pasti berpikir untuk mempelajari yang mudah dulu. Let me tell you prinsipku dalam belajar. Lebih baik mempelajari yang sulit dulu dibanding yang mudah. Saat kamu berhasil mempelajari yang sulit, maka tidak perlu lagi mempelajari yang mudah. Tapi saat kamu mempelajari yang mudah dulu, maka otomatis kamu harus mempelajari yang sulitnya juga. Got it?”
“Got it sir.”
Aisyah pun meletakkan pumps hitam ke posisi semula. Lalu mengambil statement heels pink yang haknya lebih panjang dan tipis.
Aisyah mulai mengenakannya, ia lalu mencoba untuk berjalan. Baru selangkah, Aisyah sudah hampir jatuh. Wajar saja, ini pertama kalinya ia memakai heels.
Aisyah kembali melangkah, seperti anak kecil yang baru belajar berjalan. Pemandangan itu terlalu lucu bagi pak Dhiaz. Hingga ia tak tahan untuk tidak tertawa.
Aisyah berhenti melangkah. “Kenapa berhenti?” tanya pak Dhiaz.
__ADS_1
“Selucu apa sih melihat orang belajar pakai heels? It is not funny at all.”
“Maaf kalau kamu tersinggung. You are mature enough Aisyah, masa’ diketawain begitu saja kamu marah. Semua orang yang baru belajar juga mendapat perlakuan begitu dari orang lain. Ditertawai, diragukan, bahkan ada yang sampai dihina. Tapi mereka tidak peduli itu, mereka terus belajar sampai berhasil.”
Ngena, Aisyah melangkah lagi. Apa pun yang terjadi ia akan terus belajar seperti prinsip orang sukses. Pantang menyerah sebelum berhasil.
Tiga puluh menit berlalu. “Latihan hari ini cukup. Pulang nanti kamu juga harus latihan, biar cepat pintar. Besok pulang kuliah kamu ke sini lagi, I will check perkembanganmu.”
“Kalau aku ke sini terus, bisa-bisa orang lain berpikir yang tidak-tidak ke kita sir.”
“Kalau begitu, biar aku saja yang ke rumahmu. Sekalian minum pop ice rasa permen karet buatanmu. Oh ya, I have question for that. Darimana kamu tahu that me suka pop ice rasa permen karet?”
“I made yang rasa permen karet bukan karena tahu sir suka rasa itu. But coz rasa permen karet itu favoritku.”
“Berarti kita punya selera yang sama dong. Forget it, kita pulang sekarang. I will drive you home.”
Esoknya di kampus, pak Dhiaz mengantar Aisyah pulang sekaligus akan mengajarinya pakai heels. Puluhan tatapan mengarah pada Aisyah saat memasuki mobil dosen favorit itu.
Bagaimana tidak, selama ini pak Dhiaz sangat jarang membiarkan perempuan masuk ke mobilnya. Kalaupun ada, itu juga karena amanah dari kampus.
Tapi Aisyah, sudah beberapa kali para paparazi dari kalangan mahasiswa mendapatinya masuk ke dalam mobil sang idola kampus.
Seringkali, hal serupa terjadi dalam hidup. Dimana, semakin kita menginginkan sesuatu maka akan semakin sulit juga untuk mendapatkannya.
Pun sama, hal yang tidak begitu kita inginkan atau bahkan kita benci lah yang sangat mudah menghampiri kita.
Seperti halnya Aisyah dan fans pak Dhiaz. Fans pak Dhiaz berharap mereka bisa dilirik oleh sang idola. Tapi untuk mengenal mereka saja pun pak Dhiaz enggan.
Sementara Aisyah, ia sebenarnya tak begitu suka berada di dekat pak Dhiaz. Tapi takdir membawanya pada situasi itu. Situasi yang ia benci, tapi disukai orang lain.
Ini mengajarkan, bahwa ada saatnya perasaan tak harus diperjuangkan. Karena jika sejalan, takdir sendiri lah yang mengambil alih untuk mendekatkan.
Pak Dhiaz memperhatikan Aisyah belajar berjalan anggun dengan memakai heels. Ditemani Wahdah, yang memang diminta ibunya untuk mengawasi kakaknya dan pak Dhiaz.
Tiba-tiba Aiysah oleng, pak Dhiaz yang memperhatikan itu spontan ingin menolongnya. Tapi lirikan tajam Wahdah menghentikannya. Tatapan itu seolah mengatakan, “Jangan sentuh kakakku.”
Di hari ke lima belajar, Aisyah mulai mahir memakai heels. Hanya saja belum anggun saat berjalan. Padahal pak Dhiaz yang akan mengajaknya ke pesta berharap, di hari ke lima ia sudah bisa berjalan dengan anggun.
“Kenapa cara jalanmu lebih bagus kemarin dari hari ini?” tanya pak Dhiaz pada Aisyah dengan nada kecewa.
“Maaf, kaki saya lecet sir.”
Tiba-tiba gawai pak Dhiaz bergetar, ia segera mengangkat panggilan dari ibunya. Setelah itu, ia pamit pada Aisyah.
“Mama mau diantar kemana?” tanya pak Dhiaz setelah tiba di rumah.
“Ke apotek Tiara Putri.”
Pak Dhiaz kembali melajukan mobil ke rumah obat yang mamanya maksud. Di apotek, Pak Dhiaz pun teringat pada Aisyah. Ia langsung membelikan obat luka lecet untuk asistennya itu.
Setibanya di rumah, obat yang dibelinya itu segera ia amankan ke dalam tas ngajar. Tomorrow day, pak Dhiaz memberikan obatnya pada Aisyah.
“What is this?” tanya Aisyah.
“Obat luka,” jawab pak Dhiaz dengan ekspresi datar. Karena kaki Aisyah masih sakit, ia langsung pamit pulang.
Karena obat dari pak Dhiaz, kaki Aisyah sembuh dengan cepat. Membuatnya semangat lagi untuk belajar. Karena kegigihannya, akhirnya ia mahir juga setelah sepekan belajar.
__ADS_1
“Wow. Perfect,” puji pak Dhiaz.
“Siapa dulu dong gurunya,” puji Aisyah balik.