Hipotesis Cinta

Hipotesis Cinta
Eps 16


__ADS_3

Subuh menyingsing, sang fajar mulai menampakkan senyumnya dari ufuk timur. Aisyah segera mengaktifkan data selulernya untuk melihat jadwal ngajar pak Dhiaz.


“Buset dah ini dosen, kirim jadwal ngajar di jam tiga malam. Ini bangun shalat tahajjud atau bergadang nonton bola? Whatever sih, itu kan bukan urusanku,” ucapnya saat melihat waktu mengirim pak Dhiaz.


Setelah membaca jadwal itu dengan baik, Aisyah pun meletakkan gawainya. Ia lalu bersiap-siap untuk ke kampus.


Aisyah bergegas membersihkan tubuhnya dengan air, ia juga tak lupa untuk keramas. Setelah itu, ia mengeringkan rambutnya. Lalu mengenakan make up tipis.


Setelah menyalami ibunya, Aisyah kemudian berangkat ke kampus. Tak lama, ia sudah tiba di kampus dengan penampilan yang masih begitu fresh. Hari ini ia akan menjalankan amanah dari pak dosen cool nan royal dengan baik.


Aisyah mulai memasuki kelas berdasarkan jadwal yang pak Dhiaz kirimkan tadi malam. Rupanya kelas pertama yang ia masuki adalah kelas Adifa.


Aisyah masuk dengan langkah mantap. Matanya menatap tajam ke depan, dadanya ia busungkan. Ia meletakkan tasnya, lalu mulai berbicara.


“Hello everyone, perkenalkan namaku Aisyah. Pak Dhiaz memintaku untuk menggantikan dia mengajar di kelas ini.”


“Kamu apanya pak Dhiaz?” tanya Adifa penasaran.


“Asistennya.”


“Menang banyak pak Dhiaz dapat asisten secantik kamu,” goda seorang lelaki pada Aisyah.


“Minta nomornya dong cantik,” sahut lelaki yang duduk di samping lelaki tadi.


Aisyah bergeming, mana mau dia memberikan nomor handphone ke sembarang orang. Terlebih ke lelaki bedebah seperti itu.


“Cihhh. Sombong amat,” hina lelaki itu.


Aisyah tetap bergeming, walau sebenarnya emosinya sudah hampir meledak.


“Pak Dhiaz kemana sih?” tanya Adifa lagi.


“Ke Sulbar untuk mendampingi peserta debat. I think enough for this introduction session. For your information guys, diskusi kelompok hanya dilakukan saat ada pak Dhiaz. So, diskusi akan dilanjutkan pak Dhiaz pekan depan. Untuk hari ini, aku hanya akan mengajarkan materi experimental design. Well, langsung saja ke materi. Menurut Prof. Dr. Sugiyono, metode penelitian eksperimen adalah metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan.”


Aisyah terus menjelaskan hingga tiga puluh menit berlalu. Aisyah kemudian meminta mahasiswa yang ada di ruangan itu untuk bertanya, jika masih ada materi yang belum dimengerti.


Adifa si gadis cantik, menaikkan tangannya.


“Iya, Adifa. Silakan!”

__ADS_1


“Kamu belum memberikan contoh dari variabel ekstrane. We want to know that.”


“Terima kasih atas pertanyaannya. Langsung saja, contoh dari variabel ekstrane adalah pengaruh penggunaan ruangan berAC terhadap nilai statistik.”


Adifa terus bertanya, dengan harapan ia bisa menjatuhkan Aisyah. Sejak melihat kedekatan Aisyah dengan pak Dhiaz tadi malam, Adifa jadi sangat benci pada Aisyah.


Terlebih saat ia tahu bahwa Aisyah adalah asisten pak Dhiaz, dosen tampan yang sangat ia kagumi selama ini.


Sayangnya, Aisyah terlalu cerdas untuk dijatuhkan oleh pertanyaan-pertanyaan simple Adifa.


Alih-alih dipermalukan, Aisyah malah dipuja-puja karena berhasil menjawab semua pertanyaan dari Adifa.


Kejadian serupa tidak hanya terjadi di kelas Adifa, di kelas lain pun seperti itu. Banyaknya mahasiswa yang bertanya untuk menguji, menyebabkan Aisyah kewalahan.


Sepulangnya dari kampus, Aisyah langsung tidur di sofa ruang tamu. Ia tidur di situ tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu.


Saking capeknya, Aisyah sampai lupa untuk menyetel alarmnya. “Kak Aisyah bangun! Eike sudah datang, ayo kita belajar!” teriak Sissy.


Aisyah tersentak kaget, ia membulatkan matanya cepat. “Astaghfirullah, maaf yah Sammy. Aku ketiduran,” ujarnya lalu duduk.


“Cuci muka dulu kak Ai, kita belajar make up lagi.”


“Kak Ai, kakak sakit ya? Kalau kakak sakit, eike pulang saja. Belajarnya kita tunda dulu.”


“Tidak sakit kok Sam, cuman agak kecape’an. But it is okay, ayo belajar!”


Sissy mengeluarkan alat make upnya. “Kalau begitu hari ini kita belajar make up saja. Besok baru latihan bela diri, kalau kak Ai sudah baikan.”


“Iya.” Aisyah juga mengeluarkan alat make upnya.


“Hari ini kita belajar pakai eyeliner kak. Manfaat memakai eyeliner adalah agar muka terlihat segar. Kalau kakak buru-buru, terus tidak sempat dandan. Cukup pakai eyeliner sama lipstik, dijamin kelihatan rapi gitu kak.”


“Okay, paham dek.”


Sissy kini mencontohkan cara pakai eyeliner yang rapi ke Aisyah.


Di malam hari, “Kenapa aku memikirkan Aisyah terus ya? Kenapa aku jadi rindu begini sih? Come on Dhiaz, sadar. Tidak lucu dosen merindukan mahasiswanya.”


Pak Dhiaz mencoba menepis perasaannya dengan memukul kepalanya sendiri. Tapi seberapa keras pun ia mencoba untuk acuh, pikirannya tetap tertuju pada Aisyah.

__ADS_1


“Oi Sammy,” kirim pak Dhiaz ke WhatsApp Sissy.


Sissy menggerutu membaca chat tersebut. “Gak kak Dhiaz, gak kak Aisyah, semua panggil Sammy. Nama eike kan Sissy, wanita cantik kedua setelah Lucinta Luna. Awas aja ya, eike sumpahin kalian berdua berjodoh. Eh gak jadi deh, kak Dhiaz kan lelaki idaman eike.”


“Sissy kak, not Sammy. Bikin kezzel aja deh,” balas Sissy.


“He he, sorry sorry. Bagaimana tadi belajarnya?”


“Menyenangkan sekali kak. Guru matematika eike tidak masuk mengajar karena anaknya diaqiqah. Guru kimia juga tidak masuk karena papanya menikah lagi.”


“Bukan itu Sammy, maksudku belajar dengan Aisyah.” Pak Dhiaz menyertakan emoticon menepuk kepala sebelum mengirimnya.


“Oh kak Aisyah, kirain tanyain eike. Perkembangannya bagus kok kak. Cuman tadi eike tidak ngajarin bela diri karena kak Aisyah kecape’an.”


Pak Dhiaz membalas chat Sammy lagi dengan mengirimkannya sticker jempol tangan bermahkotakan emas.


Pak Dhiaz lalu meletakkan gawainya di atas nakas, yang berada di dekat tempat tidur. “Kasihan juga tuh anak, baru sehari mengajar dia sudah kecape’an.”


Tiba-tiba seorang waitress mengetuk pintu kamarnya. Pak Dhiaz segera membukakan pintu untuknya.


“Anda Dhiaz Alfahrezi kan?” tanya waitress itu kegirangan.


“Yes, I am Dhiaz Alfahrezi. But why?” tanya pak Dhiaz dengan mengernyitkan dahinya.


Waitress itu membuka instagramnya, lalu memperlihatkannya pada pak Dhiaz. “Aku follower sekaligus fans berat Anda. Anda aslinya ternyata jauh lebih tampan dari yang di foto. Bisa minta foto kan?”


“Bisa, tapi jangan di sini. Takutnya ada yang salah paham ke kita.”


“Bagaimana kalau di taman saja kak?”


“Boleh, tapi aku makan dulu ya. Sekalian mau ganti baju juga, biar bagus di camera.”


“Siap, aku tunggu di taman yah kak.”


“Okay.”


Waitress itu lalu melangkah pergi dari kamar pak Dhiaz. Setelah agak jauh, ia bermonolog. “Tidak salah aku mengidolakannya. Sudah tampan, baik hati pula.”


Terima kasih masih setia membaca, maaf kalau terkesan mengulang. Ceritanya sudah direvisi dari awal🙏🙏. Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak🤭

__ADS_1


__ADS_2