Hipotesis Cinta

Hipotesis Cinta
Eps 21


__ADS_3

“Mama kenapa sih kasih lihat Aisyah foto-foto lama aku? Suka sekali ya anaknya ditertawakan,” keluh pak Dhiaz setibanya di rumah.


“Lebih baik kamu ditertawakan sekarang. Daripada Aisyah meninggalkan kamu setelah menikah nanti, karena melihat foto jelek kamu yang dulu.”


Pak Dhiaz bergeming, dia kembali ke kamar. Kalau dipikir-pikir ucapan ibunya ada benarnya juga.


Pikiran tentang itu coba dia tepis dengan berselancar di dunia maya. Dia membuka WhatsApp untuk menambahkan Aisyah dan Ismi ke grup Tour Guide IMYP.


Ketika semua peserta sudah di dalam, pak Putra sebagai koordinator acara menginformasikan letak titik kumpul acara.


Jarak titik kumpulnya agak jauh dari rumah Aisyah dan Ismi. Supir angkot tidak mengantar penumpang sampai ke sana. Kecuali jika si penumpang mau membayar mahal.


Dengan kondisi itu, Aisyah dan Ismi harus mencari cara agar bisa ke sana dengan biaya yang normal.


Aisyah bergerak duluan. “Sir, besok nebeng ya.” Aisyah menyertakan emoticon smile ke chat itu sebelum dikirim ke pak Dhiaz.


Tiga jam berlalu, tapi pak Dhiaz tak kunjung membalas chatnya. “Ini pak Dhiaz kenapa sih? Kalau tidak mau bilang dong. Jangan diam saja,” umpat Aisyah.


Aisyah menunggu beberapa menit lagi. “Sudah jam 9 lewat, lihat besok saja deh. Tidak mungkin juga kan pak Dhiaz tega meninggalkan aku dan Ismi,” ucapnya sebelum tidur.


Besoknya, Ismi sudah tiba di rumah Aisyah. Mereka pun menunggu, Ismi melirik jam tangannya. “Sebentar lagi jam 8, pak Dhiaz kok belum datang sih Ai?”


“Aku sudah meneleponnya berkali-kali, tapi tidak diangkat. Tunggu sebentar lagi Is. Kalau pak Dhiaz tidak datang, kita naik angkot saja ya?”


“Okay,” balas Ismi.


Aisyah mulai kesal pada keadaan. Jika bukan karena Ismi, dia sudah pasti membatalkan keinginannya untuk ikut program IMYP tersebut.


Lelah menunggu kedatangan pak Dhiaz, mereka berdua terpaksa mengangkat barang-barangnya ke jalan raya.


Di luar, supir angkot hanya mau mengantar mereka kalau bayarannya dilebihkan. Meski begitu, Ismi terlihat masih sangat bersemangat.


Berbeda dengan Aisyah yang sudah muak sekali karena sikap acuh pak Dhiaz. Mau batal ikut, tapi dia juga tidak tega mematahkan asa Ismi.


Aisyah dan Ismi terpaksa harus naik angkot. Setengah jam berlalu, mereka akhirnya tiba juga. Dengan keringat yang bercucuran, mereka bergabung dengan tour guide lain.


Semua mata tertuju pada mereka berdua yang datang terlambat. Perasaan malu kini menyeruak di hati mereka.


“Kalian kenapa bisa di sini?” tanya Keysya sewot.

__ADS_1


“Karena kami ke sini,” celetuk Aisyah demi membungkam mulut Keysya.


“Tunggu, tunggu, kamu yang daftar tapi tidak lolos kan?” tanya Adifa pada Ismi. Pertanyaan itu Ismi jawab dengan anggukan.


“As I know kamu justru tidak daftar,” ujar Adifa pada Aisyah.


“Yes I did not.”


“Terus darimana kalian dapat baju tour guide?” tanya Adifa kesal.


Aisyah tidak menjawab, dia berlalu begitu saja. Baginya, buang-buang waktu saja meladeni mereka.


“Eitss, tunggu dulu. Siapa yang izinkan kalian gabung? Kalian harusnya pulang, karena aku sebagai penyeleksi tidak pernah meloloskan kalian.”


“Kami punya bajunya, berarti kami juga akan jadi tour guide dong. For your information, baju ini dari pak Dhiaz. So kamu tidak berhak melarang kami ikut di event ini,” balas Ismi.


Adu mulut itu rupanya menarik perhatian yang lain. Hingga pak Sakti yang juga menyaksikan itu menghampiri mereka.


“Ada apa ini ribut-ribut? Kalian tidak malu apa dilihat peserta?”


“Ini sir, mereka berdua seenaknya saja mau jadi tour guide. Padahal Aisyah tidak mendaftarkan diri. Ismi juga tidak aku loloskan,” keluh Adifa.


“Iya sir,” balas Ismi sambil menunduk karena malu.


Pak Sakti memandang sinis pada Aisyah dan Ismi. “Kalian berdua memang selalu saja membuat masalah di atas masalah. Sudah terlambat, bikin keributan pula.”


“Maaf sir,” ucap Aisyah.


“Terus darimana kalian dapat baju IMYP ini?” bentak pak Sakti.


“Saya yang kasih bajunya pak,” bela pak Dhiaz yang baru saja datang.


Pak Sakti berbalik ke belakang. “Oh, dikasih kamu to Dhiaz.”


Pak Sakti melanjutkan ucapannya. “Kalau begitu, masalah ini jangan diperpanjang lagi. Kalian semua silakan bubar. Malu dilihat peserta,” titahnya pada kubu Adifa dan kubu


Aisyah.


Mereka semua akhirnya bubar barisan untuk

__ADS_1


menjalankan tugasnya di program tersebut. IMYP, International Maritime Youth Program. Sebuah program kepemudaan untuk mengenalkan para peserta dari berbagai belahan dunia pada Dunia Maritim Indonesia.


Dari ribuan peserta yang mendaftar untuk berpartisipasi dalam event tersebut, hanya puluhan yang terpilih.


Peserta itu berasal dari berbagai negara, yakni Indonesia, Thailand, Vietnam, Kamboja, Australia, Malaysia, dan Rusia.


Urraaaaa...


Selama sepekan ke depan, peserta itu akan belajar sekaligus meninjau langsung permasalahan mengenai dunia laut.


Di hari pertama ini, dilakukan pembukaan sekaligus pengamatan proses pembuatan perahu. Tour guide pun mendampingi peserta ke tempat pembuatan perahu.


Kegiatan itu mengingatkan pak Dhiaz pada souvenir yang dia berikan ke Aisyah. “Cantikan hadiah dariku kan?” tanyanya.


“Iya sir,” sahut Aisyah lalu tertawa kecil.


Kedekatan itu disaksikan langsung oleh Adifa, hingga menimbulkan rasa dengki yang mendalam di hatinya pada Aisyah. Dia sampai tidak habis pikir, pak Dhiaz yang dingin bisa bersikap hangat ke Aisyah.


Para peserta terlihat sangat antusias mengamati. Hingga tak terasa, hari sudah sore. Tour guide mengarahkan peserta kembali ke penginapan.


Di hari kedua, peserta diarahkan untuk mengamati proses daur ulang sampah. Seperti kemarin, kubu Adifa dan kubu Aisyah berseteru lagi.


“Kalau sampah yang ini bisa didaur ulang tidak ya?” canda Keysya seraya mengacungkan jari telunjuknya ke Ismi.


Sejak tahu Ismi akrab dengan Aisyah, dia jadi benci pada Ismi. Siapa pun yang dekat dengan Aisyah, maka saat itu juga orang itu telah menjadi musuhnya.


“Maksud kamu apa? Seenaknya saja bilang aku sampah. Mulut kamu tu yang sampah. Setiap kata yang keluar selalu mengandung rongsokan,” balas Ismi.


“Sudah Is, jangan diladeni. Manusia kualitas sampah memang begitu. Suka meremehkan orang lain,” ucap Aisyah seraya menarik Ismi untuk menjauhi Adifa and the geng.


“Coba ulangi sekali lagi ucapanmu tadi!” titah Ilham sembari menarik hijab Aisyah.


Refleks Aisyah memegang tangan Ilham, lalu menekan leher Ilham menggunakan sikutnya. Ilmu bela diri yang diajarkan Sissy secara tak sadar telah dia kuasai.


“Sekali lagi kamu lakukan ini, aku tidak akan segan mematahkan tanganmu.”


Ilham terperangah menyadari Aisyah bisa melawannya. Adifa yang juga menyaksikan itu jadi tidak berani lagi bertingkah berlebihan ke Aisyah.


Adifa tidak menyangka, perempuan yang sedang ia hadapi seberbahaya itu. Tadinya di matanya, Aisyah hanyalah perempuan lemah. Aslinya ternyata seperti preman.

__ADS_1


Tetap dilike ya readers, bahkan jika karya ini telah tamat nantinya...


__ADS_2