Hipotesis Cinta

Hipotesis Cinta
Eps 43


__ADS_3

Mereka kembali bergeming. Untuk kesekian kalinya rasa kantuk menyerbu, menyebabkan Aisyah kembali tertidur.


Tiba-tiba pak Dhiaz ngerem mendadak untuk kedua kalinya. Walhasil Aisyah terpental ke samping, hingga menindih bahu kiri sang dosen.


Aisyah buru-buru memperbaiki posisinya seperti semula. “Yang fokus dong nyetirnya. Kita berdua belum menikah lo sir.”


“Sudah kubilang kan tadi temani aku cerita. Kamu malah asyik tidur, oleng kan jadinya.”


Sesaat setelahnya, pak Dhiaz memarkirkan mobil di sebuah toko. Dia melenggang keluar mobil untuk membeli minum.


Saat kembali, pak Dhiaz mendapati Aisyah sudah tidur nyenyak lagi. “Cantik,” gumamnya. “Jusma juga cantik Dhiaz,” lanjutnya seraya memukuli kepalanya.


Dosen yang sedang dilema ini kembali menyetir mobil. Tanpa sadar, Aisyah yang over sleepy bersandar di bahunya.


Takut akan terjadi sesuatu pada dirinya, pak Dhiaz mendorong Aisyah pelan. Sialnya Aisyah malah terjatuh ke pangkuannya. “Sial joniku berdiri. Cobaan macam apa ini?” umpatnya dalam hati.


Beruntung mereka sudah berada di parkiran hotel. Pak Dhiaz pun membangunkan Aisyah. Dia sendiri segera melepaskan jasketnya, untuk menutupi pedang pusakanya yang masih berdiri.


Dengan menenteng koper, mereka melangkah ke arah resepsionis bertugas.


“Pakai saja jasketnya sir. Ribet tau lihatnya,” tegur Aisyah pada pak Dhiaz yang masih menutupi pedang hunusnya dengan jasket.


“Aku tidak merasa ribet. Biasa, lelaki cool memang begini kalau jalan. Tangan kiri menenteng jasket, tangan kanan menarik koper.”


“Oh gitu ya sir,” balas Aisyah polos. “Terserah sir lah. Dasar aneh,” lanjutnya.

__ADS_1


“Kami mau pesan dua kamar,” ungkap pak Dhiaz pada resepsionis di hotel itu.


“Mohon maaf sekali pak, hanya tersisa satu vacant room.”


“It is okay. Tapi twin bed kan?”


“Mohon maaf sekali pak, di kamar itu hanya tersedia satu bed.”


“Kalau boleh tau bednya tipe apa ya?”


“Super king size.”


“Emm kalau begitu kami jadi booking.”


Sesampainya di kamar, “Cari hotel lain saja sir,” keluh Aisyah.


“Aku sudah mengantuk sekali Aisyah. Kamu juga harus cepat tidur, supaya besok bisa fresh ikut lombanya.”


“Tapi sir, masa’ kita tidur berdua di sini. Atau begini saja, salah satu dari kita harus tidur di mobil.”


“How crazy, sudah pesan kamar tapi mau tidur di mobil. Tidur di sini saja, bednya luas kok. Kamu tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu. Sudah ya debatnya, aku mau tidur.”


Baru saja merebahkan tubuh, pak Dhiaz sudah mendengkur. Aisyah yang juga sangat mengantuk akhirnya tidur di tepi bed.


Aisyah terbangun setelah dua jam tertidur. “Are you okay sir?” tanyanya pada pak Dhiaz yang tampak gelisah.

__ADS_1


“Not so, kepalaku sakit.”


Aisyah bergegas bangkit dari tidurnya, dia mendekati koper untuk mengambil obat oles yang disiapkan ibunya.


“Ini,” ucapnya sembari menyodorkan fresh care ke pak Dhiaz.


“I do not need it,” tolak pak Dhiaz.


“Katanya sakit kepala.”


“Iya. Tapi, kamu bawa makanan tidak?”


“Kayaknya sih ada. Aku cek dulu ya sir.”


Aisyah kembali membuka koper. Senyum menghiasi wajahnya saat melihat ada beberapa bungkus snack di dalam.


Aisyah menyerahkan snack itu ke pak Dhiaz. “Ambilkan minum sekalian,” tunjuk pak Dhiaz pada botol minum yang berada di samping gawainya.


Aisyah mengambil air minum itu, tak sengaja tangannya menyentuh layar gawai pak Dhiaz. Aisyah tercengang melihat wallpaper di gawai itu. “Fotoku?” tanyanya dalam hati.


“Cepat Aisyah, aku haus.”


“Iya, tunggu sir.”


Author mulai nackal🙈. Terima kasih untuk like dan komennya. Semoga betah dengan novel ini.

__ADS_1


__ADS_2