Hipotesis Cinta

Hipotesis Cinta
Eps 25


__ADS_3

Dari semua kue yang ada, Aisyah menjatuhkan pilihannya pada bolu peca’. Kue khas Sulawesi Selatan yang memiliki tekstur lembut, dengan rasa yang manis oleh gula aren.


“Makan ini ah, biar kata-kata yang keluar manis semua. Sir juga harus coba, bolu peca’ buatan ibu-ibu di sini enak loh.” Aisyah membalas sarkas pak Dhiaz.


Tak mau kalah, pak Dhiaz melahap sikaporo’ yang sudah diambilnya. Kue cerah yang tampak seperti puding, terasa sangat lembut saat dikunyah di mulut.


Pak Dhiaz kembali melakukan penyerangan pada mental Aisyah. “Lebih enak sikaporo’, teksturnya lembut. Kalau sering makan ini, sikap bisa berubah jadi lembut ke satu sama lain.”


Pak Dhiaz menampakkan senyum penuh kebanggaan, seolah ia telah berhasil mengalahkan Aisyah. Tapi Aisyah kembali melakukan serangan balik.


“Ngotak lah sir, yang realistis dong. Orang kalau sering makan sikaporo’ bukan bikin sifat jadi lembut. Yang ada malah diabetes karena kebanyakan gula. Apalagi kalau makannya di depan saya, uhh rasa manis sikaporo’nya nambah.”


“Kalau lihat kamu, kuenya jadi hambar. Tidak ada manis-manisnya sama sekali.”


Di tengah-tengah pertengkaran pak Dhiaz dan Aisyah, Jusma dipanggil ibunya. Dua insan ini jadi lebih bebas untuk saling mencaci. Sudah tak ada Jusma lagi yang melerai percekcokan mereka.


“Yeee, hambar ngatain hambar.”


“Hambar-hambar begini banyak yang suka.”


“Kalau banyak yang suka, kenapa masih jadi bujang lapuk sampai sekarang?” tantang Aisyah.


“Kamu juga masih jomblo,” ledek pak Dhiaz.


“Kalau saya yang jomblo, wajar. Kan masih muda, kalau sir itu baru tidak wajar. Sudah tua kok belum menikah. Jangan-jangan sir impoten ya, ha ha ha.”


“What the, mulutmu itu benar-benar sumber fitnah.”

__ADS_1


“Tidak impoten ya? Jangan-jangan sir pindah haluan jadi kaum nabi Luth sejak putus dari kak Aisyah Muna. Makanya belum menikah juga sampai sekarang. Kan malu kalau terekspos sebagai dosen yang menikahi sesama jenis.”


“Apa perlu kukiss baru mulutmu itu berhenti mengoceh?”


“Memang ada rasanya kalau kiss yang beda jenis?” ledek Aisyah lagi.


“Ada lah, mau coba?” tanya pak Dhiaz dengan senyuman dan tatapan nakal ke Aisyah.


“Will never,” balasnya dengan nada santai. Tapi ekspresinya tak bisa berbohong, kalau ketakutan sedang menghampiri dirinya.


“Berani membuat hipotesis tapi tidak berani menelitinya. Aku sangat tersinggung dengan hipotesismu itu. Kupastikan kamu akan menelitinya tahun depan. Tepat di malam pertama pernikahan kita nanti, kamu akan tahu seberapa normalnya aku.”


“Enak aja, ogah.”


“Katanya ogah, tapi kepo dengan masalah pribadiku. Setidak konsisten itu ya.”


“Terus darimana kamu tahu nama lengkap mantan pacarku kalau tidak kepo? While you are not a paranormal.”


“Namanya juga mahasiswa, wajar lah kalau kepoin dosen.”


“Anggap saja itu wajar, kamu kan calon istriku.” Kali ini ekspresi pak Dhiaz datar, tak tergambarkan ia sedang senang atau sedih.


“Perjanjiannya kan sudah tidak berlaku sir. Aku tidak mau lagi memainkan peran pura-pura jadi calon istrimu. Satu lagi, I am done to be your assistant.”


“Tidak semudah itu untuk berhenti bekerjasama denganku Aisyah. Sekali kamu kuinginkan, jangan pernah berharap bisa lepas dariku. Coz it is impossible.”


Pak Dhiaz yang biasanya hanya dingin, sekarang malah bertambah parah. Dosen yang dulunya tampak killer tapi baik hati itu, malah terlihat seperti seorang psikopat yang tengah mengancam Aisyah sekarang ini.

__ADS_1


Setelah menghabiskan tehnya, pak Dhiaz langsung pulang. Tapi sebelum keluar dari rumah kenduri itu, ia menyempatkan diri untuk berbalik dulu.


Senyumnya seketika mengembang saat mendapati Aisyah masih duduk terpaku. Akhirnya, ia berhasil menakut-nakuti asistennya itu.


Pak Dhiaz sudah pulang, di saat yang bersamaan Jusma juga sudah selesai mengerjakan tugas dari ibunya.


“Dosenmu sudah pulang Ai?” tanya Jusma yang baru saja tiba di situ.


“Iya Jus.” Aisyah berusaha terlihat baik-baik saja. Meski sebenarnya ia masih ketakutan, karena terngiang-ngiang pada ujaran pak Dhiaz tadi sebelum pulang.


“Dosenmu itu ganteng beut Ai. Bikin melting kemana-mana,” netra Jusma berbinar-binar saat mengatakannya.


“Ganteng apanya? Biasa saja.”


“Ganteng tau Ai. Sudah ganteng, cool pula. Lelaki idaman sejuta wanita itu mah.”


Aisyah pun menempelkan punggung tangannya pada dahi Jusma. “Tidak demam, it means kamu memang butuh kacamata minus Jus. Matamu bermasalah, lelaki menyeramkan begitu kamu bilang cool.”


“Kak Aisyah, ayo pulang! Mama menunggu di luar,” ajak Wahdah.


“Saya pulang dulu yah Jus, thanks for the foods and beverage. Rasanya number uno.”


“You are welcome Ai, by the way kapan-kapan aku ke rumahmu ya. Mau bahas dosen ganteng tadi.” Senyum tipis nan manis menghiasi wajah Jusma.


“Okay bestie, datang saja. Pintu rumahku selalu terbuka dua puluh empat jam untukmu.”


Terima kasih masih mau membaca sampai bab ini, semoga terhibur 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2