Hipotesis Cinta

Hipotesis Cinta
Eps 19


__ADS_3

Sinar mentari terpancar begitu hebat, seakan menembus netra Ismi. Peluh bercucuran dari pori-pori dahinya.


Meski begitu, Ismi masih begitu semangat melangkahkan kakinya, menapaki lorong masuk rumah Aisyah.


Angin yang enggan menyapa, semakin menyulitkan langkah Ismi. Terpaksa ia membentuk angin buatan dengan mengipas-ngipaskan tangannya.


Walau tak begitu berpengaruh, setidaknya dengan usaha kecil itu ia merasa tak begitu kepanasan.


“Kamu kenapa Is?” tanya Aisyah kala melihat Ismi tiba-tiba saja mendatanginya di rumah.


Ismi menjawab dengan memasang wajah cemberut. “Aku tidak terpilih ikut program IMYP Ai. Padahal bahasa Inggrisku lebih bagus daripada Ilham dan Keysya. Tapi mereka lolos, sedangkan aku tidak. Dunia benar-benar tidak adil.”


Aisyah ingin sekali tertawa mendengar kalimat terakhir Ismi. Tapi tidak ia lakukan, demi menjaga perasaan teman sebangkunya itu.


“Tumben kamu inisiatif mau ikut acara kampus. Bisanya juga harus dipaksa dulu baru mau ikut,” balas Aisyah menyelidik.


“Kali ini aku mau ikut, karena koordinator acaranya itu pak Putra. You know lah I am really his huge fans.”


“Bagaimana mau ikut kalau kamu tidak lolos?”


Pertanyaan Aisyah mungkin terdengar menyakitkan, tapi faktanya memang seperti itu. Kalau tidak lolos ya tidak bisa join. Tapi Ismi tetap bersikukuh mau ikut.


“Makanya aku cerita ke kamu Ai, karena kamu adalah solusi dari masalahku eeaaa’. Tapi kamu mau kan membantuku?” tanya Ismi dengan tatapan memelas.


“Bantu apa dulu Ismi cantik? Kalau bisa, aku pasti bantu kok.”


“Suruh pak Dhiaz loloskan aku. Pak Dhiaz kan dosen paling berpengaruh di kampus, kalau dia minta ke pak Putra aku pasti bisa ikut. Please Aisyah, please.”


“Hah? Minta sendiri saja Is,” sahut Aisyah yang malas sekali berurusan dengan pak Dhiaz.


“Kamu kan tahu sendiri pak Dhiaz seperti apa Ai. Mana ada mahasiswa yang berani membicarakan masalah pribadi ke dia. Cuman kamu yang bisa, karena kamu kan asistennya. Pak Dhiaz pasti mau bantu kamu. Bilang ke pak Dhiaz ya Ai, please.”


“Tapi pak Dhiaz sekarang ada di Sulbar Is. Yang pilih tour guidenya siapa sih? Kita lobi ke dia saja.”


“Adifa,” balas Ismi cepat.


“Kalau dipikir-pikir speakingmu memang lebih bagus daripada Ilham dan Keysya sih. Tapi kenapa si Adifa tidak meloloskan kamu ya? Malah meloloskan mereka berdua.”


“Kalian sahabatan sudah tiga tahun. Tapi kamu ternyata belum tahu kalau Adifa itu sepupunya Keysya. Makanya Keysya dan Ilham diloloskan, apalagi mereka berdua anggota himpunan. Pasti lebih diprioritaskan lah.”


“Serius mereka sepupuan? Masa’ sih?”


“Iya Aisyah cantika jelita putri. Emang pernah aku bohongi kamu?”


“Never, but speachless akooh Is. Cantik-cantik nepotisme dong si Adifa. Apalah daya Is, kamu cuman sepupu lain kalinya. Begini saja, nanti aku coba bicarakan ini ke pak Dhiaz.”


Awalnya Aisyah masa bodoh. Tapi tidak lagi karena ia kesal sekali, saat tahu Adifa dan sahabat pengkhianatnya itu ternyata bersepupu.


Ia tidak akan pernah membiarkan Keysya bebas bertindak sewenang-wenang lagi. Baik itu ke dia atau pun ke orang lain.


“You are the best Ai, ma kasih sebelumnya.”


“Jangan berterima kasih dulu Is. Nanti saja kalau pak Dhiaz beneran mau bantu.”


“Kan sebelumnya Ai. Kalau pak Dhiaz mau bantu, aku akan berterima kasih lagi setelahnya.”


“Benar juga ya katamu.” Aisyah lalu terkekeh karena tingkah Ismi yang begitu absurd menurutnya.


“By the way, aku pulang dulu ya Ai. Sudah mau sore, kabari aku secepatnya kalau pak Dhiaz mau bantu.”


“Iya. In Syaa Allah, Is. Hati-hati di jalan ya!”


“Yoi sis, assalamu ‘alaykum.”


“Wa ‘alaykumussalam warahmatullah.”


Ismi melangkahkan kaki, udara terasa tak lagi sama seperti saat ia datang siang tadi. Saat ini angin mulai bersahabat, mereka menari riang. Menyebabkan dedaunan di pohon mengipas-ngipas Ismi.


Begitu juga dengan mentari yang perlahan merangkak ke Barat. Ia membawa serta udara panas kembali ke peraduannya.

__ADS_1


Aisyah masih tetap duduk di beranda rumah, tatapannya fokus ke depan. Ia baru memalingkan pandangannya saat Ismi sudah tak tergapai lagi oleh sorot matanya.


Aisyah kembali menyentuh gawainya, rasa penasarannya membuncah karena deretan notifikasi aplikasi WhatsApp.


Rupanya, notifikasi itu muncul karena ramainya chat yang masuk ke grup kelas. “Let see, manusia bar-bar mana lagi yang bikin rame grup.”


Then zonk, rona bahagia di wajah Aisyah memudar kala membaca isi chat grup kelasnya. Ternyata Keysya dan Ilham lah dalang dari notifikasi beruntun itu.


Mereka berdua berfoto dengan memakai kaos khusus untuk tour guide di IMYP nanti. “The real of pasangan gendeng,” ucap Aisyah lalu membaca komenan teman kelasnya.


“Bajunya keren, you are so lucky guys. Dari banyaknya pendaftar yang ikut seleksi, kalian berdua bisa terpilih. Congrats yoo,” puji Ainur.


“Kamu mau jadi tour guide juga?” tanya Keysya.


“Boleh,” balas Ainur dengan penuh semangat.


“Nanti aku bicarakan ke penyeleksinya, supaya kamu bisa dijadikan tour guide juga.”


“Wah, terima kasih banyak ya Key. You are so humble.”


“Iya dong humble, pacar siapa dulu?” balas Ilham.


Beberapa penghuni grup merasa muak melihat pembahasan di grup kali ini. Terlebih Aisyah yang memang sengaja Ilham dan Keysya panas-panasi.


Aisyah menghentikan aktivitasnya ketika langit menguning, muadzin membaca doa kefasihan bicara sebelum melantunkan adzan dengan begitu syahdu. Pertanda shalat magrib segera didirikan.


Penghuni kediaman Aisyah bergegas masuk. Pintu dan semua jendela ditutup rapat-rapat. Ketika waktu isya sudah lewat, Aisyah membuka kembali jendela kamarnya.


Ia lalu duduk di depan jendela yang terbuka itu. Di langit yang ia tatap, ribuan bintang memeluk bulan. Menambah indahnya suasana malam ini.


“Kenapa aku kepikiran Aisyah lagi sih? Apa jadinya kalau Aisyah tahu aku jatuh cinta ke dia? Aish, perasaan macam apa ini?” batin pak Dhiaz sembari mengemudi.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Entah kesambet apa, Aisyah menghubunginya duluan.


“Assalamu ‘alaykum sir,” ucap Aisyah dengan intonasi lembut.


“Wa ‘alaykum salam. Tumben kamu bicara selembut ini, pasti kamu punya maksud tersembunyi kan?”


Muka Aisyah memerah karena menahan malu, padahal pak Dhiaz sedang tidak di dekatnya. Tapi tetap saja dia salting.


“Mau apa?” tanya pak Dhiaz cuek. Berbanding terbalik dengan kondisi hatinya saat ini.


“Ismi mau ikut IMYP. Me too,” curhat Aiysah.


“Terus?”


“Tapi Ismi tidak lolos, aku juga tidak daftar kemarin.”


Pak Dhiaz langsung mengerti arah pembicaraan perempuan yang sedang ditaksirnya. “Nanti kuhubungi pak Putra, biar kamu dan Ismi dijadikan tour guide juga.”


“Yey, sir memang yang paling baik. Thank you so much much much ya sir.”


“Most welcome Aisyah syah syah syah. Anggap saja ini sebagai tanda terima kasihku, karena sepekan ini kamu sudah membantuku mengajar.”


“See you tomorrow sir yang baik hati dan tidak sombong.”


“See you.”


Aisyah memutuskan panggilannya, matanya berbinar-binar seperti bintang di langit malam ini. Ia langsung menghubungi Ismi untuk memberitahukan kabar bahagia dari pak Dhiaz.


Pak Dhiaz lalu meletakkan gawainya. “Aisyah, Aisyah, tanpa kamu minta pun aku tetap akan melibatkanmu di IMYP nanti. Gosh, how come she is so cute.”


“Ehem,” gumam bu Nadia dari belakang.


“Astaghfirullah.” Pak Dhiaz tersentak kaget.


Saking senangnya ditelepon Aisyah, ia sampai lupa sedang mengendara bersama bu Nadia dan Acha.


Luntur sudah wibawanya di hadapan mereka. Ia yang terkenal cool dan killer kedapatan mengagumi asistennya sendiri.

__ADS_1


Dua jam setelahnya, pak Dhiaz memasuki sebuah lorong. “Ini jalan ke rumah kamu Cha?” tanya bu Nadia.


“Bukan miss.”


“Kita mau kemana Dhiaz?”


“Ke rumah Aisyah dulu Nad.”


“Aisyah lagi, Aisyah lagi. Aisyah terus yang dia bahas,” batin bu Nadia.


“Yes, momen yang bagus sekali. Tidak harus menunggu sampai besok untuk melihat muka Aisyah,” batin Acha.


Mereka sudah sampai, pak Dhiaz mengambil oleh-oleh untuk Aisyah. Ia keluar dari mobil dan langsung mengetuk pintu rumah sederhana itu.


“Buka pintu dulu nak!” perintah bu Arni pada Wahdah.


“Pak Dhiaz. Ayo masuk pak!” ucap Wahdah setelah membuka pintu.


“Tidak usah dek, kasih saja ini ke Aisyah. Kakak pulang dulu ya, assalamu ‘alaykum.”


“Wa ‘alaykumussalam warahmatullah pak.”


“Sial, mau lihat muka Aisyah. Malah adeknya yang keluar,” batin Acha lagi.


Pak Dhiaz kembali ke mobil. Wahdah menutup pintu, lalu menghampiri Aisyah untuk memberikan oleh-oleh dari pak Dhiaz.


“Apa ini?”


“Tidak tau kak, pak Dhiaz cuma bilang ini untuk kakak.”


“Oh, jadi tamu tadi ternyata pak Dhiaz. Kenapa dia tidak bilang ya kalau mau mampir. Tapi pak Dhiaz memang seaneh itu sih.”


Aisyah segera membuka pemberian dari pak Dhiaz, ditemani Wahdah yang sangat penasaran dengan isinya.


“Ya ampun pak Dhiaz, ada sovenir dan makanan juga. Pantas dia tanya-tanya rasa makanan kesukaanku. Baik beut dah ini dosen.”


Aisyah kini berjalan ke ruang tamu, ia meletakkan sovenir perahu sandeq mini di situ. Sementara makanan yang ia sendiri tak tahu namanya itu ia bawa ke dapur.


“Makan yuk,” ajaknya.


Mereka bertiga kini mencicipi makanan, yang mereka sendiri tak tahu itu terbuat dari apa. Yang jelasnya itu makanan halal dari pak Dhiaz.


“Ini apa sih kak? Rasanya enak sekali.”


“Iya benar, enak sekali. Beli dimana Ai?”


“Aku juga tidak tahu nama makanan ini apa dan dibeli dimana. Tapi kayaknya ini makanan dari Sulbar, soalnya ada sovenir perahu sandeqnya.”


“Pak Dhiaz kasih kamu sovenir juga?” Seperti biasa, bu Arni kembali menginterogasi anak gadisnya.


“Iya ma.”


“Kamu tidak minta kan?” tanya bu Arni curiga.


“Tidak lah ma. Kami tidak seakrab itu, malu lah minta oleh-oleh ke pak Dhiaz.”


“Pak Dhiaz itu perhatian sekali ya ke kamu. Jangan-jangan dia suka sama kamu Ai.”


“Mama jangan ngadi-ngadi deh, tidak lucu. Eh, itu makanannya mau dibawa kemana ma?”


“Mau ke kamar kamu, lihat sovenir dari calon suamimu itu.”


“Iiihh mama, jangan suka bicara sembarangan. Kalau dikabulkan malaikat bagaimana? Lagian sovenirnya bukan di kamar ma, tapi di ruang tamu.”


Aisyah mengikuti adik dan ibunya ke ruang tamu. “Cieee ada nama pak Dhiaz. Ada love lovenya ma,” ledek Wahdah.


Bu Arni ikut memperhatikan tulisan di sovenir itu. “Ha, ha, iya ya ada love lovenya.”


“Pak Dhiaz lebay beut. Masa’ kasih sovenir ada namanya, dikasih love love pula. Langsung jadi badut rumah aku.” Aisyah membatin kesal.

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir, jangan lupa kasih dukungannya ya kak. Like, komen, dll...


__ADS_2