
“Jangan bantu Ilham dan Keysya. Biarkan pak Dhiaz tahu nilai asli mereka berdua sesudah remedial nanti. Pak Dhiaz pasti tidak meloloskan mereka di semester ini,” lanjut Ismi.
Aisyah membuka mulut untuk menanggapi saran Ismi. Tapi tiba-tiba seseorang menghampirinya. “Ai aku mau remedial,” sapa Marhani.
“Iya. Tapi jangan di sini ya Mar, malu dilihat orang. Di dalam kelas saja.”
“Okay, ayo ke kelas!”
Aisyah bangkit dari duduknya. “Aku duluan ya Is. Jangan lupa jaga mata!” ledeknya sebelum pergi.
“Wuuu. Dasar,” balas Ismi yang pada akhirnya membuat Aisyah terkekeh.
Aisyah dan Marhani berjalan. Tak lama, mereka sudah tiba di ruang kelas. “Tadi cuman salah dua nomor Ai,” ungkap Marhani.
Aisyah mengambil absensi, kemudian membukanya lebar-lebar. “Okay, go on Mar!” perintahnya.
“Contoh dari ancaman internal terhadap validitas data adalah alat ukur yang digunakan pada pretest digunakan lagi pada posttest.”
Tak sampai lima menit, Marhani sudah menjawab dua soal yang tak mampu dia jawab di ujian lisan mendadak tadi.
Setelah itu, mahasiswa lain juga berbondong-bondong menghampiri Aisyah untuk remedial. Meski lelah, Aisyah menyambut mereka dengan senyuman hangat.
__ADS_1
Tapi berbeda saat menghadapi Keysya dan Ilham. Di sepuluh menit terakhir, dua orang itu menghampirinya. “Silakan,” titahnya dengan intonasi tegas dan mimik yang datar.
Keysya duluan, “Fungsi dari kontrol terhadap variabel ekstrane adalah sebagai data.”
“Masih salah, kamu belum jelaskan kegunaan dari datanya.” Semenit berlalu, “Give up?” kata Aisyah lagi.
“Iya,” balas Keysya pasrah.
“Sempurnakan jawaban pacarmu,” ujar Aisyah pada Ilham.
Sama halnya dengan Keysya, Ilham juga tidak mampu menjawab soal itu dengan benar. Hampir saja tanduk Aisyah keluar karena mereka.
“Jawaban kalian masih salah, sedangkan sekarang sudah jam 4. Seperti yang pak Dhiaz bilang tadi, batas remedial cuman sampai jam 4. So, sorry to say this guys. Siapkan mental untuk mengulang di semester depan.”
“Kita mau kemana sayang?” tanya Keysya pada Ilham yang menggenggam tangannya dengan begitu erat.
“Kita harus memohon ke pak Dhiaz. Kamu tidak mau kan mengulang lagi semester depan?”
“Tidak mau, tapi kan kamu tahu sendiri pak Dhiaz orangnya bagaimana. Mana mau dia kasih nilai kasihan, ditambah lagi Aisyah juga pasti membujuknya supaya tidak meloloskan kita.”
“Kita coba saja dulu.”
__ADS_1
Mereka berdua kini berada di depan pintu ruangan pak Dhiaz. Mereka memutuskan untuk menunggu di luar, karena Aisyah dan pak Dhiaz sedang asyik-asyiknya berceloteh di dalam.
“Keysya dan Ilham tidak lolos. Berarti benar ya kata dosen yang lain, mereka berdua ternyata memang segoblok itu. Untung rajin masuk kuliah, jadi dosen kasihan pada mereka. Tapi sayang sekali, nilai kasihan tidak berlaku di mata kuliahku. Keysya dan Ilham tetap harus mengulang semester depan,” ujar pak Dhiaz dengan suara baritonnya.
“Jangan sir, kasihan. I beg you, tolong loloskan mereka ya sir.”
Pak Dhiaz mengernyitkan alisnya saking tidak mengertinya dengan alur pikiran Aisyah.
“Mereka berdua sudah menyakiti kamu dan kamu masih kasihan ke mereka?”
“Bukan kasihan ke mereka, tapi ke orang tuanya sir.”
“Okay, kalau begitu. Demi kamu, mereka akan kuloloskan. Tapi sekali ini saja.”
Seketika rona merah menghiasi pipi Aisyah yang mengembang “Terima kasih sir,” tuturnya malu-malu.
“Sama-sama. Ini sudah sore, sini kuantar pulang.”
“Okay sir,” jawab Aisyah cepat.
“Aku sudah tahu cara menaklukkan hati anak ini. Cukup mengiyakan permintaannya dan dia akan jadi penurut,” gumam pak Dhiaz dalam hati.
__ADS_1
Sementara di luar, Keysya dan Ilham melangkah cepat. Takut jika pak Dhiaz dan Aisyah tahu mereka sedang menguping.
Likenya dong readers, biar author semangat nulis juga. Bahkan satu like bisa menambah popularitas novel, makanya author selalu mengingatkan. Kuy gerakkan jari jemarinya, tekan tombol likenya😩