Hipotesis Cinta

Hipotesis Cinta
Eps 27


__ADS_3

“So, guys silakan keluar.” Mahasiswa di kelas itu pun melenggang keluar.


“Kecuali Aisyah,” lanjut pak Dhiaz.


Pengecualian itu tidak menjadi tanda tanya di benak mahasiswa yang lain. Mereka tahu betul kalau Aisyah memang asisten pak Dhiaz.


Justru Aisyah lah yang bertanya-tanya. “Tugas apa lagi yang akan pak Dhiaz perintahkan?”


monolognya dalam hati.


Langkahnya terhenti di tengah ruangan berpenyejuk udara itu. Dia berbalik mendekati pak Dhiaz, mencari jawab untuk tanya yang timbul di benaknya.


Pak Dhiaz menyodorkan absensi ke Aisyah. “Arahkan tiga orang untuk masuk!”


“Okay sir.”


Aisyah kemudian mengambil absensi itu dengan sedikit gemetar. Kejadian di ruangan pak Dhiaz tadi ternyata menyisakan trauma kecil di otaknya.


“Kamu masuk belakangan!” perintah pak Dhiaz tanpa gerakan tambahan.


Dengan perasaan lapang, Aisyah melangkah keluar. “Alhamdulillah,” gumamnya dalam hati.


“Ilham, Keysya, Ismi, silakan masuk guys!” tutur Aisyah setibanya di luar.

__ADS_1


Dengan langkah yang tak mantap, Ilham, Keysya, dan Ismi memasuki ruangan. Ketakutan tidak bisa menjawab soal menjalar di pikiran mereka.


Belajar saja belum tentu mereka bisa menjawab, apalagi tidak. Duhhh, memang sial sekali nasib mahasiswa yang malas mereview materi lama di mata pelajaran pak Dhiaz.


“Silakan ambil kursi masing-masing!” titah pak Dhiaz dengan suara magnetisnya.


Mereka bertiga bergegas mengambil kursi dan meletakkannya di depan pak Dhiaz. Mereka lalu duduk seperti terdakwa yang siap diinterogasi habis-habisan.


Tatapan tajam pak Dhiaz semakin menambah ketegangan di ruangan itu. Jantung ketiga mahasiwa yang duduk di hadapannya dag dig dug tidak karuan.


Soal pertama kini mulai dilayangkan pak Dhiaz pada Ilham. “Apa fungsi dari kontrol terhadap variabel ekstrane?”


Ilham diam saja, padahal sudah semenit berlalu. “Kamu juga tidak tahu kan?” tanya pak Dhiaz pada Keysya yang duduk di antara Ilham dan Ismi.


Pak Dhiaz menandai absensi sebelum bertanya lagi. “What about you Ismi?”


“Fungsi dari kontrol terhadap variabel ekstrane adalah emm, emm, untuk dijadikan data dalam membandingkan eksperimen sir?”


“Yes, you are right. Jawaban yang bagus Ismi.”


Pertanyaan kedua kembali dilontarkan pak Dhiaz. Seperti sebelumnya, Ilham dan Keysya cenderung tidak tahu jawabannya. Sementara Ismi, dia selalu bisa menjawab. Walau terkadang jawabannya tidak begitu sempurna.


Beberapa menit akhirnya berlalu, beberapa soal juga sudah pak Dhiaz lemparkan. Sekarang saatnya memberikan penilaian untuk performa mereka bertiga dalam menjawab soal.

__ADS_1


“Kalian berdua remedial,” ujar pak Dhiaz pada Ilham dan Keysya. “Congratulations on you Ismi. Kamu tidak remedial,” lanjutnya.


Senyuman menghiasi wajah Ismi saat mendengarnya. Ilham dan Keysya santai saja, tidak bahagia juga tidak bersedih. Saking seringnya hal seperti ini terjadi pada mereka berdua.


“You may get out guys.” Tangan pak Dhiaz mengarah ke pintu. Mereka bertiga akhirnya keluar.


Aisyah membuka absensi. “Ainur, Marhani, Sultan, giliran kalian guys.”


Tiga mahasiswa yang juga deg-degan itu masuk ke kelas. Mereka ditanyai beberapa soal dan diberitahukan hasilnya setelahnya. Begitu seterusnya hingga tersisa Aisyah seorang diri.


Aisyah masuk dengan langkah pelan. Lalu duduk di salah satu kursi panas yang berjejer rapi di depan pak Dhiaz.


“Sebutkan komponen inti dalam penelitian eksperimen!” kata pak Dhiaz tanpa memalingkan pandangannya dari Aisyah.


“Variabel, effect, and measurement dalam bentuk angka sir,” balas Aisyah yang menunduk.


“Kalau bicara sama orang jangan menunduk! Tidak sopan.”


Meski telah dinasehati, Aisyah tetap menunduk. Dia terlalu payah untuk menatap netra elang pak Dhiaz.


“Jadi tidak sabar menghalalkan anak polos ini,” batin pak Dhiaz seraya tersenyum.


Jangan lupa menekan tombol like ya readers, biar author tersenyum juga kayak pak Dhiaz😅

__ADS_1


__ADS_2