Hipotesis Cinta

Hipotesis Cinta
Eps 52


__ADS_3

Sejak pergulatan mesra malam itu, pak Dhiaz dan Aisyah terus berhubungan secara diam-diam.


Hingga suatu hari di perjalanan ke kampus, “Kamu kenapa sayang?” tanya pak Dhiaz khawatir.


“I am fine.”


“Tidak semudah itu kamu membohongi suamimu. Bahkan sebelum menikah, aku lumayan bisa menebak perasaanmu. Apalagi sekarang, so tell me truth.”


“Aku belum menstruasi bulan ini. Padahal seharusnya aku menstruasi dua pekan lalu,” jawab Aisyah cemas.


“Jangan-jangan kamu hamil sayang. Kita periksa ke dokter sekarang!”


“Bagaimana kalau aku beneran hamil?”


“Kamu jadi ibu dan aku jadi bapak,” jawab pak Dhiaz asal.


“Bukan itu, maksud aku your family and Jus’ family pasti marah.”


“Biarkan saja mereka marah. Kalau aku diusir dari rumah, kamu mau kan temani aku tinggal di kontrakan?”


“Yup, of course.”


“Nice answer, kita ke rumah sakit dulu. Nanti baru ke kampus.”

__ADS_1


Pak Dhiaz memberikan gawainya ke Aisyah. Menyuruhnya menghubungi ketua tingkat untuk mengerjakan tugas sebagai gantinya tidak masuk mengajar.


Setelah agak lama berkendara, mereka tiba di rumah sakit. Sesuai dugaan, Aisyah memang tengah hamil.


“Kamu bisa hamil secepat ini. Selain tampan dan cool, aku juga tocker,” ucap pak Dhiaz di perjalanan ke kampus.


“Kebiasaan sekali, suka memuji diri sendiri.”


“Tapi kamu sayang kan?”


Aisyah hanya tersenyum, dia tidak menjawab pertanyaan dari suaminya itu. Tapi dari senyumnya, pak Dhiaz sudah tahu jawaban istrinya iya.


Setibanya di kampus, Aisyah dan pak Dhiaz bergegas ke kelas.


“Iya. 5 ronde Is,” kelakar Aisyah yang disangka serius oleh Ismi.


“Masa’ sih?” tanya Ismi ketakutan.


Aisyah semakin menggiring opini untuk mengerjai Ismi. “Iya, kalau Lexie pasti bisa sampai 10 ronde. Lelaki asal sana lebih kuat dari lelaki di sini.”


“Pay attention please!” ucap pak Dhiaz. Seolah memaksa Aisyah dan Ismi untuk berhenti bercerita.


Usai kelas itu, pak Dhiaz dan Aisyah pulang ke rumah. Bu Rahma dan pak Abdul sedikit tidak senang melihat mereka pulang bersama. Terlebih ketika pak Dhiaz memberitahukan tentang kehamilan Aisyah.

__ADS_1


“Kamu sudah janji tidak akan memperlakukan Aisyah sebagai istri. Tapi sekarang, Aisyah malah hamil. Lelaki macam apa kamu Dhiaz?” tutur pak Abdul kecewa.


“Maafkan aku.”


“Percuma kamu minta maaf, Aisyah juga sudah hamil. Kamu benar-benar mencoreng mukaku Dhiaz. Aku tidak melahirkanmu untuk jadi anak pembangkang begini.”


Usai berkata seperti itu, bu Rahma langsung ke kamar. Pak Abdul juga, dia tidak sudi berdialog lebih lama lagi dengan anak dan menantu tak dianggapnya.


Pak Dhiaz dan Aisyah lalu meninggalkan rumah itu. Pak Dhiaz mengemudikan mobil ke rumah nenek.


“Kalau Aisyah hamil anakku, apa nenek sama kakek masih sudi ketemu aku?” tanya pak Dhiaz pasrah.


“Aisyah hamil?” tanya nenek antusias.


“Iya, dia hamil. Papa sama mama marah besar setelah kuberi tahu. Kalau kakek sama nenek juga tidak suka, kami angkat kaki sekarang.”


Nenek tersenyum lalu berkata, “Baguslah kalau Aisyah hamil, berarti sebentar lagi kami akan punya cicit.”


“Terima kasih nek, kek. ” Pak Dhiaz beralih memeluk kakek dan nenek yang sangat menyayanginya.


“Tinggal mertuaku dan keluarga Jus yang belum tahu.”


Aisyah yang sedari tadi diam, mulai bicara. “Mama pasti senang. Kalau keluarga Jus, kemungkinan besar mereka akan marah.”

__ADS_1


__ADS_2