
Usai acara fashion show, “Aisyah, bisa bicara sebentar?” tanya pak Putra.
“Iya, silakan sir!”
“Tapi jangan di sini. Aku mau bicara empat mata saja dengan kamu. Di taman saja bagaimana?”
“Emmm, bisa. Tapi tidak lama kan sir?”
“Yup, cuman sebentar kok. I promise you.”
Aisyah dan pak Putra lalu berjalan ke taman kampus. Diikuti oleh pak Dhiaz dan Ismi dari arah yang berbeda.
Sesampainya di taman, “Honestly, I like you so much Aisyah. What do you about it?”
Hati Ismi bagai teriris-iris bilah bambu, mendengar kata cinta yang terucap dari mulut pak Putra tidak ditujukan untuknya. Melainkan ke Aisyah, teman sebangku yang sudah dia anggap sebagai sahabat.
Air mata Ismi berderai hebat. Perasaan pilu menyeruak di hatinya, saat tahu bahwa separuh hati pak putra ternyata ada di Aisyah.
Ismi berlari menjauh, dia tidak sanggup menyaksikan pak Putra bersama Aisyah lebih lama lagi. Sementara pak Dhiaz masih berdiri di situ, dia ingin mengetahui perasaan Aisyah ke pak Putra.
__ADS_1
“Aku juga suka sir,” balas Aisyah.
Hati pak Dhiaz serasa hancur berkeping-keping mendengar balasan Aisyah. “Jadi itu alasan dia menolakku selama ini. Ternyata karena dia cinta sama Putra. Semuanya sudah jelas sekarang,” monolog pak Dhiaz sembari melangkah ke parkiran.
“Alhamdulillah, aku senang sekali mendengarnya. Kapan kamu siap menikah denganku?” tanya pak Putra.
“Menikah dengan sir? Bukan begitu maksud aku sir. Aku suka sir sebagai mahasiswa ke dosen, bukan sebagai perempuan yang lagi kasmaran ke lelaki.”
“Oh, sorry. Ternyata aku salah paham. Cuman itu yang mau kubilang, kamu boleh pulang Aisyah. Ini sudah tengah malam,” balas pak Putra dengan mata berkaca-kaca.
Saking tidak tahunya mau bereaksi seperti apa, Aisyah benar-benar meninggalkan pak Putra sendiri di taman. Dia menghampiri pak Dhiaz dan yang lain.
Sesampainya di rumah Aisyah, Wahdah cepat-cepat turun dari mobil. Dia yang sudah mengantuk berat langsung masuk rumah duluan.
“Jangan keluar dulu! Ada yang ingin kubicarakan,” perintah pak Dhiaz pada Aisyah.
“What is up sir?” tanya Aisyah yang mulai mengantuk.
“Kamu suka sama pak Putra?” tanya pak Dhiaz dengan mimik serius.
__ADS_1
“Apa ada mahasiswa yang tidak menyukai dosennya?” tanya Aisyah balik.
Pak Dhiaz langsung menangkap maksud Aisyah. Dengan perasaan lega dia bicara lagi. “Nenek bilang dia mau melihatku menikah bulan ini juga. Aku tetap mau kalau kamu yang jadi istriku. Jadi tolong jawab dengan serius, will you be my wife?”
Bukannya menjawab, Aisyah justru menghindar dari pertanyaan itu. “Aku mengantuk sekali sir, I wanna sleep. See you tomorrow at campus,” tuturnya tanpa berbalik lagi.
Tingkah Aisyah itu membuat pak Dhiaz merasa dipermainkan. Dengan kesal dia melajukan mobil ke rumah nenek.
Di rumah nenek ternyata ada orang tuanya juga. “Kesehatan nenekmu kian memburuk. Mama mau pekan ini juga kamu harus menikah dengan Aisyah,” ucap bu Rahma yang duduk di samping suaminya.
“Aisyah belum siap menikah ma. Carikan saja aku perempuan yang lain, yang mama, papa, kakek, dan nenek suka.”
Pak Dhiaz memang mencintai Aisyah, tapi respon Aisyah tadi benar-benar melukai perasaannya. Lagipula sudah lama dia mengungkapkan cintanya ke Aisyah, tapi Aisyah tidak pernah serius menanggapinya.
“Siapa pun perempuannya kamu akan setuju kan?” tanya pak Abdul serius.
“Iya pa.”
“Gampang kalau begitu, papa dan mama sudah dapat perempuannya.”
__ADS_1
Author masih setia meminta likenya. Meski sudah tamat sekali pun tetap dilike ya readers. Supaya popularitasnya naik, author juga jadi lebih semangat untuk menulis.