
Wallpaper di gawai calon suaminya membuat Jusma tercengang. “Wallpaper handphone kakak saja masih pakai foto Aisyah. Padahal tiga hari lagi kita akan menikah. Kalau cinta sama Aisyah, kenapa melamarku kak? Kenapa tidak lamar Aisyah saja?”
Mata Jusma berkaca-kaca, rintik dimatanya sudah sangat siap untuk menggelinding. Pak Dhiaz memutar otak, mencari cara agar rintik itu tak memenuhi paras cantik calon istrinya.
“Aku cuman belum sempat menggantinya. Akhir-akhir ini aku sangat sibuk, jadi tidak memperhatikan itu. Sini, biar kuganti sekarang.”
“Sudahlah kak, alasanmu terlalu tidak masuk akal,” balas Jusma.
“Dan kamu Aisyah, kenapa tidak bilang yang sebenarnya? Kamu selalu saja bilang tidak punya hubungan apa-apa dengan kak Dhiaz. Tapi faktanya, terlalu sulit untuk ditolak kalau kamu dan kak Dhiaz memang memiliki hubungan spesial.”
“Kita memang cuman sebatas asisten dan dosen Jus, tidak lebih.”
Tangis Jusma yang tertahan, akhirnya pecah. “Tapi kak Dhiaz suka sama kamu Ai, bukan aku.”
“Aku memang cinta sama Aisyah. Tapi aku juga sudah belajar mencintai kamu Jusma. Aku yakin, setelah menikah nanti cintaku hanya untuk kamu.”
“Belajar? Cintaku bukan mata pelajaran kak.”
Bu Husni menjadi sangat sedih melihat Jusma menangis. Jadi dia menyemangati putrinya itu dengan memberikan wejangan pernikahan.
“Benar kata Dhiaz, Jus. Setelah jadi istrinya, kamu dan Dhiaz kan akan tinggal di bawah satu atap yang sama. Kalian akan sering bersama, dan benih-benih cinta akan tumbuh karena itu. Mama tidak asal bicara, karena mama sama papamu dulu juga begitu sayang.”
__ADS_1
“Benar kata ibumu nak. Lagipula Aisyah cuman masa lalu Dhiaz. Sedangkan kamu, kamu adalah masa depannya.” Bu Rahma berujar dengan menepuk pundak Jusma.
“Demi mengatasi masalah yang kemarin, aku tetap harus menikahi Aisyah. Supaya nama kampus kembali baik dan aku tidak jadi dipecat.”
“Jadi kamu mau poligami?” tanya ayah Jusma geram.
“Tidak, dengarkan dulu penjelasanku paman. Mumpung undangan belum disebar, kita batalkan dulu pernikahanku dengan Jusma. Aku akan menikah dengan Aisyah, setelah beberapa bulan menikah aku akan menceraikannya. Baru setelah itu aku menikahi Jusma.”
“Aku tidak setuju. Aku tidak terima Aisyah jadi janda di usia muda,” ptotes bu Arni yang menangis sesenggukan.
“Kamu harus berbesar hati Arni, bukan cuma Aisyah yang rugi di sini. Jusma juga, semua orang sudah tahu dia akan menikah dengan Dhiaz. Tapi dia harus menanggung malu karena Dhiaz justru akan menikahi anakmu,” balas bu Husni.
“Tapi nak . . .”
“Aku ikhlas ma, mama juga harus ikhlas ya.”
“Baiklah kalau begitu. Mama ikut maumu saja,” jawab bu Arni dengan berat hati.
“Kalau begitu aku juga akan setuju. Tapi ada syaratnya.” Jusma menggantung ucapannya.
“Apa syaratnya?” tanya pak Dhiaz penasaran.
__ADS_1
“Kakak harus janji tidak akan tinggal serumah dengan Aisyah walau sudah menikah. Kakak tidak boleh menyentuh Aisyah. Pokoknya jangan memperlakukan Aisyah sebagai istri. Ini semua aku lakukan demi kelancaran rencana pernikahan kita. Aku takut kakak akan mencampakkan aku demi Aisyah.”
“Okay, aku janji tidak akan memperlakukan Aisyah sebagai istri.”
“Kamu juga harus janji tidak akan memperlakukan kak Dhiaz sebagai suami,” ucap Jusma seraya menatap Aisyah.
Aisyah berusaha tegar dengan semua yang dia alami hari ini. Dengan berat hati dia menyetujui ucapan Jusma. “Aku juga janji tidak akan memperlakukan pak Dhiaz sebagai suami.”
.
.
.
.
.
Terima kasih masih setia membaca. Kalau ada yg nunggu, maaf ya (kalau ada🤭). Author harus bergelut dgn mood sendiri soalnya. Seperti biasa, jgn lupa tinggalkan jejak ya, biar semangat juga nulisnya.
KRIK KRIK
__ADS_1