
Kali ini keluarga Jus, pak Dhiaz, dan Aisyah berkumpul di rumah nenek.
“Kamu sudah siap menceraikan Aisyah?” tanya pak Syamsul yang tak sabar anaknya segera dinikahi pak Dhiaz.
“Maaf om, aku tidak akan menikahi Jus.”
“Apa katamu?” berang pak Syamsul.
“Aku tidak bisa menikahi Jus karena Aisyah sedang mengandung anakku.”
“Semua ini pasti gara-gara kamu kan? Kamu pasti menggoda Dhiaz. Kenapa kamu tega sekali pada Jusma?” Bu Husni mengangkat tangan, dia bersiap untuk menampar Aisyah.
Dengan cekatan pak Dhiaz memasang badan di depan istrinya. “Aisyah tidak menggodaku tante. Semua terjadi karena inisiatifku.”
“Kalau begitu, jadikan aku istri kedua kak,” tutur Jusma.
“Maafkan aku Jus, aku cuma cinta sama Aisyah. Kamu cantik, baik, kamu harusnya menikah dengan lelaki yang juga cinta sama kamu.”
Jusma berlinang air mata. “Tapi.”
“Tidak ada tapi-tapian. Semuanya sudah jelas sekarang, ayo kita pulang!” Pak Syamsul menarik paksa anaknya yang tengah terisak untuk keluar dari rumah pak Dhiaz.
“Jangan anggap kami orang tuamu lagi,” ungkap pak Abdul yang sangat kecewa dengan keputusan pak Dhiaz.
Pak Dhiaz mengambil barang-barangnya. Dia dan Aisyah akan tinggal di rumah nenek. Tapi sebelum itu, dia mengantar adik ipar dan mertuanya pulang dulu.
__ADS_1
Hadirnya Aisyah dan pak Dhiaz, membuat rumah nenek jadi ramai oleh kedatangan mahasiswa yang konsul skripsi. Termasuk Ilham dan Keysya yang jadi anak bimbingan pak Dhiaz.
Di sisi lain, hubungan pak Dhiaz dan orang tuanya kandas detik itu juga. Mereka tak pernah mau menemui anak dan menantunya.
Hingga sembilan bulan berlalu, Aisyah pun melahirkan anak pertamanya. Bayi perempuan cantik yang mukanya mirip dengan bapaknya.
Aisyah melahirkan normal, jadi tidak butuh waktu lama untuk kembali ke rumah. Setibanya di rumah nenek, ternyata sudah ada adik, ibu, dan mertuanya yang menunggu.
Bu Rahma mendekati Aisyah. Dia yang sembilan bulan belakangan tak mengakui anak dan menantunya kini tersenyum ramah.
“Sini, biar mama yang gendong,” pintanya kemudian menggendong cucunya masuk ke rumah.
“Mukanya mirip Dhiaz ya. Jadi ketahuan siapa yang nafsu,” ledek pak Abdul.
Sepekan setelah lahiran itu, anak pak Dhiaz dan Aisyah diaqiqah. Anak mereka diberi nama Azahra Radya Athalla, yang berarti perempuan cantik karunia Allah yang luar biasa pintar.
Keysya dan Ilham turut meramaikan acara aqiqahan itu. Meski mereka baru datang setelah tamu yang lain pulang.
Keysya yang masih ngos-ngosan menyapa Aisyah. “Sorry baru datang. Pertanyaan dosen penguji banyak, jadi ujiannya agak lama juga.”
“It is okay. Terima kasih ya sudah mau datang.”
Ilham menyerahkan bingkisan berisikan perlengkapan bayi ke Aisyah. “Dari kami berdua.”
“Kenapa repot-repot sih guys?”
__ADS_1
“Ini sebagai tanda terima kasih dari aku dan Ilham. Selama ini kamu bantu kita menyusun proposal. Padahal kita sudah jahat ke kamu,” cetus Keysya.
“Let bygones be bygones. Anyway, makan dulu yuk! Kalian pasti lapar kan?”
“He he, iya.”
Ilham dan Keysya lalu mengambil makanan yang disajikan dan menyantapnya.
Tiga hari setelahnya...
Pak Sakti mendatangi kediaman pak Dhiaz. Dia menyerahkan undangan pernikahannya dengan Adifa yang akan diadakan pekan depan.
“Wizzz, selamat bro! Akhirnya bisa menikah dengan primadona kampus,” goda pak Dhiaz.
“Semuanya juga berkat kamu,” jawab pak Sakti malu-malu.
“Hah?” Pak Dhiaz mengernyitkan alisnya.
“Iya, Adifa bisa luluh sama aku karena dia tidak bisa mendapatkan kamu lagi. Pernikahanmu dengan Aisyah lah yang mengubah semuanya menjadi lebih baik.”
“Bisa aja kamu bro.”
Mereka berdua terkekeh bersama.
...TAMAT...
__ADS_1