
“Aisyah, kamu punya nomornya bu Putu?” tanya pak Dhiaz yang baru saja pulang dari shalat subuh.
“Tidak ada sir. Coba minta ke Ilham, seingatku dia punya kontaknya ibu penjual putu.”
Pak Dhiaz menepuk jidatnya. “Aisyah, aku minta nomor handphonenya bu Putu. Bukan nomor handphone ibu penjual putu. Masih pagi kamu sudah bikin naik darah.”
“Oh, sorry sorry gafok. Bu Putu itu dosen baru ya sir?”
“Iya. Kamu ada kelas hari ini?”
“Tidak ada sir.”
“Jadi nanti aku antar kamu pulang ke rumah?”
“No, antar aku ke rumah Ismi.”
“Buat apa di rumah Ismi?” tanya pak Dhiaz penasaran.
“Buat keripik bayam untuk tugas kewirausahaan.”
Tak terasa, jarum jam menunjukkan pukul delapan lewat. Pak Dhiaz pun mengantar Aisyah ke rumah Ismi terlebih dahulu sebelum ke kampus.
“Cieee, pengantin baru. Bagaimana malam pertamanya?” sambut Ismi.
__ADS_1
“Otakmu, ayo buat keripiknya.”
Aisyah melangkah ke dapur. Di dalam ternyata sudah ada anggota yang lain. Ada yang menggoreng, ada yang memisahkan daun bayam dari batangnya, semua memiliki tugas masing-masing.
Keripik bayam buatan mereka kini siap untuk dipasarkan. Mereka mulai berpencar untuk menawarkan keripik bayam itu.
Tapi sampai sore, keripik mereka belum ludes juga. Guratan patah aral menghiasi paras anggota kelompok Aisyah.
Menyadari itu, Aisyah menciptakan jarak dari timnya itu. Dia mengambil gawai untuk menghubungi pak Dhiaz.
“Sir, beli keripik bayam kelompokku dong. Masih banyak yang belum laku ini.”
“Kamu dimana?”
“Aku ke situ sekarang.”
Pak Dhiaz yang juga sudah selesai mengajar melajukan mobilnya. Hanya dalam hitungan menit dia sudah tiba di rumah Ismi. Tanpa basa-basi, dia mengeluarkan uang untuk membeli jualan kelompok Aisyah.
“Masih banyak tugas yang harus diperiksa, bantu aku lagi ya.”
“Tidak mau, aku takut kejadian tadi subuh terulang.”
“Makanya jangan ketiduran! Salahmu juga, disuruh periksa tugas malah tidur.”
__ADS_1
Aisyah terus membujuk pak Dhiaz agar dipulangkan ke rumah, tapi pak Dhiaz kukuh membawa Aisyah pulang ke rumahnya.
Mereka memasuki rumah. “Darimana saja kamu? Dari tadi Jusma menunggu di ruang tamu. Gawat, kenapa kamu bawa Aisyah ke sini? Cepat antar dia pulang. Jangan sampai Jusma lihat dia ada di sini,” tegur bu Rahma.
Baru saja berbalik, Jusma sudah melihat mereka. “Kenapa Aisyah bisa di sini? Kakak kan sudah janji tidak akan memperlakukan Aisyah sebagai istri. Kakak juga sudah janji loh tidak akan pernah tinggal seatap dengannya.”
“Aku cuma mau ambil tugas, Jus. Sudah ini langsung pulang kok.”
“Tunggu ya Aisyah, aku ambil tugasnya dulu.” Pak Dhiaz bergegas ke kamarnya.
Aisyah mengambil tumpukan kertas itu, karena kedatangan Jusma, dia terpaksa pulang sendiri. Pak Dhiaz juga tidak berani menawarkan tumpangan untuknya, karena Jusma pasti akan murka kalau dia peduli ke Aisyah.
Di rumah, Aisyah memeriksa tugas itu sampai larut malam. Saat memeriksa, gawainya bergetar, “Malam istri,” isi chat dari pak Dhiaz.
Aisyah enggan membalasnya. Tapi pak Dhiaz justru semakin nekat, dia beralih ke Video Call.
Beberapa menit sudah berlalu, tapi pak Dhiaz masih tak menyerah untuk menghubungi Aisyah.
“What’s up sir?” tanya Aisyah kesal.
“Sisa berapa yang belum kamu periksa?” tanya pak Dhiaz.
“Masih ada delapan tugas, sudah ya sir. Aku mau lanjut memeriksa.”
__ADS_1
“Jangan dimatikan, biar berasa kita periksa tugas bareng-bareng.”