Hipotesis Cinta

Hipotesis Cinta
Eps 28


__ADS_3

“Nice, kamu bisa jawab semua soalnya dengan cepat dan tepat. Of course kamu tidak remedial. Kalau kamu remedial auto ganti asisten aku,” ujar pak Dhiaz.


“Kalau begitu lain kali aku harus remedial,” jawab Aisyah sungguh-sungguh.


“Sudah kuduga kamu pasti akan bilang begitu. Kalau remedial kamu kupecat jadi asisten, tapi kuangkat jadi istri. So silakan saja remedial, biar kita nikah sekalian.”


Aisyah terbelalak seketika, dia tidak menyangka kata itu dengan mudahnya lolos dari mulut seorang Dhiaz Alfahrezi. Dosen yang paling cuek dan digandrungi perempuan seantero Sulawesi.


“Tidak usah kaget begitu! Cepat panggil temanmu masuk, atau jangan-jangan kamu sengaja berlama-lama denganku di sini.”


“Nope, aku panggil mereka sekarang sir.” Aisyah bergegas keluar dan meminta teman-temannya masuk.


Satu per satu penghuni kelas itu menduduki kursi. Tampak rasa cemas di paras mereka yang remedial. Entah tugas apa yang akan pak Dhiaz berikan sebagai penebus nilai B.


“Untuk kalian yang remedial, silakan menghadap ke Aisyah untuk perbaikan nilai. Soalnya tetap sama, jadi kalian tinggal pelajari soal-soal yang tadi. Batas untuk remedial sampai jam 4 sore. Lewat dari itu siap-siap mengulang di semester depan.”


Pak Dhiaz mengambil tas dan bergegas meninggalkan ruangan itu. Dia melangkah ke kelas lain untuk memberikan ulangan lisan mendadak juga.


Seperginya pak Dhiaz, suara mahasiswa yang remedial bersahut-sahutan di kelas. Mereka menghafal jawaban dari soal yang tidak dijawab saat ulangan lisan tadi.

__ADS_1


“Guys, aku culik Aisyah dulu ya. Kalau mau remedial ke kantin saja. Sekalian traktir kami makan ha ha,” seru Ismi.


“Ha ha kamu modus kan mau ke kantin? Pasti mau ketemu pak Putra,” tebak Aisyah dengan suara pelan.


Ismi menarik tangan Aisyah. “Ayo cepat Ai, keburu pak Putra masuk kelas C.”


“Gini nih kalau fans fanatik, sampai jadwal mengajarnya pun dihafal.”


Ismi tidak menjawabnya, dia menggenggam tangan Aisyah. Supaya Aisyah bisa berjalan dengan cepat sepertinya.


Sesuai perkiraannya, pak Putra berada di kantin. Entah dia harus bahagia atau menangis karena itu? Sesuai ekspektasinya, pak Putra memang ada di kantin. Tapi bersama bu Nadia, mana mereka terlihat akrab lagi.


“Maksud kamu?” tanya Ismi balik.


“Cinta jangan sampai bikin kamu buta Is. Tau sendiri lah image pak Sakti dan pak Putra bagaimana.”


“Tapi bu Nadia kan rekan, jadi wajar kalau mereka akrab.”


“Keysya dan Ilham juga sahabat, jadi wajar kalau mereka akrab.”

__ADS_1


“Forget it, tapi menarik juga sih untuk dibahas.”


“Maksud kamu? Apa yang menarik dari mereka? Pengkhianatannya?”


“No, itu adalah sebab. Kali ini kita bahas akibatnya. Mereka berdua sudah mengkhianati kamu, sebagai balasannya kamu juga harus menyerang mereka balik.”


“Caranya?” tanya Aisyah serius.


“Sudah rahasia umum mereka berdua gobloknya bagaimana. Bisa lulus mata kuliah saja karena belas kasihan dosen.”


“Terus? To the point saja Is, jangan mutar-mutar kayak novelnya kak Distinguish.”


“He he sorry, sorry. Jadi gini, mereka kan remedial. Terus remedialnya kan di kamu, and I am sure seratus persen kalau mereka pasti bakal remedial lagi di kamu. So, gunakan kesempatan itu untuk balas dendam Ai.”


“I do not understand Key,” keluh Aisyah.


“Kamu itu yah Ai, di pelajaran doang cerdas. Giliran diajak jahat gobloknya minta ampun.”


Sudah like bab sebelumnya belum? Belum? Ai madodong...

__ADS_1


__ADS_2