Hipotesis Cinta

Hipotesis Cinta
Eps 36


__ADS_3

Aisyah bergegas ke tempat dia, Ilham, dan Keysya sering melepas stress dulu. Sebuah taman yang berdekatan dengan danau.


Aisyah duduk di kursi taman itu, matanya fokus ke depan. Menangkap indahnya pepohonan di gunung seberang danau.


Tak terasa, air matanya mulai menggelinding di atas parasnya yang manis. Kali ini Aisyah tidak menyekanya, dia membiarkan semua kekecewaan di hatinya luruh seiring dengan jatuhnya air mata itu.


“Hey Aisyah. Suka ke sini juga?” tanya Acha yang tiba-tiba saja berada di situ.


Aisyah cepat-cepat menyeka air matanya. “Iya aku suka ke sini. Kakak juga suka ke sini ya?” tanya Aisyah balik.


“Yup, pemandangannya cantik soalnya. By the way, bukannya tadi kamu ke kampus ya?”


“Iya, tapi cuman sebentar kak. Kalau boleh tau, kakak sendiri darimana?”


“Minta tanda tangan bu Nadia,” balas Acha seraya memperlihatkan proposalnya. Dia lalu duduk di samping Aisyah.


“Boleh aku lihat proposalnya kak?”


“Sure, why not?” balas Acha sembari menyodorkan proposalnya.


Aisyah mengambil, kemudian membuka proposal itu. “Improving Students’ Pronunciation Ability by Watching Seleb English Channel. Ini penelitian kuantitatif ya kak?” tanyanya setelah membaca judul proposal Acha.


“Iya, kalau anak bimbingan bu Nadia pasti mahasiswa yang ambil jenis penelitian kuantitatif.”


“Kalau pak Dhiaz pembimbing di penelitian apa kak?”

__ADS_1


“Pak Dhiaz itu dosen pembimbing di penelitian kualitatif.”


“Ada gunanya juga aku ketemu kak Acha di sini. Aku bisa tahu info tentang pak Dhiaz,” kata Aisyah dalam hati.


Tiba-tiba gawai Aisyah berdering. “Jusma? Tumben anak ini menelepon,” monolog Aisyah lalu mengangkat panggilan dari tetangganya itu.


“Kenapa Jus?”


“Aisyah aku ada di rumahmu. Kamu dimana sekarang?”


“Lagi di luar. Kalau boleh tau ada perlu apa ya?” tanya Aisyah penasaran.


“Aku mau tanya-tanya tentang pak Dhiaz. Cepat pulang ya Ai! Aku tunggu di sini.”


“Iya, aku pulang sekarang Jus.”


“Iya, hati-hati yah Ai!”


“Iya, kakak yang semangat ya menyusun skripsinya.”


“Pasti dek,” balas Acha sembari tersenyum.


Di rumah, bu Arni meminta Jusma masuk. Dia telah menyuguhkan minuman dan makanan ala kadarnya ke teman main di masa kecil anaknya itu.


Baru sebentar duduk, dari luar sudah terdengar suara seorang pembeli memanggil namanya. “Diminum ya nak, tante harus keluar jaga jualan. Tidak apa-apa kan tante tinggal?”

__ADS_1


“Iya tante, silakan. Aisyah bilang dia akan cepat ke sini kok.”


Bu Arni lalu keluar, tinggallah Jusma sendiri di ruang tamunya. Mata Jusma tertuju pada sovenir cantik yang juga berada di atas meja.


Jusma menggenggam sovenir itu untuk melihatnya lebih dekat. Dia juga membaca tulisan yang tertera di situ.


“Dhiaz Alfahrezi. Jadi sovenir ini dari kak Dhiaz. Jangan-jangan mereka ada hubungan special lagi. Huftt, positive thinking Jus! Aisyah kan asistennya kak Dhiaz. Jadi wajar kalau kak Dhiaz kasih dia sovenir,” tuturnya lalu meletakkan sovenir itu.


“Sorry baru datang. Aku lama ya?” tanya Aisyah khawatir.


“Tidak kok Ai. Salahku juga sih tidak bikin janji dulu.”


Aisyah langsung duduk. “Sebelum kamu tanya-tanya, aku mau kasih tau kalau pak Dhiaz itu sudah dijodohkan.”


Setelah berkata seperti itu, Aisyah menuang minuman dingin buatan ibunya lalu meneguknya.


“Iya. Dijodohkan sama aku,” balas Jusma yang membuat Aisyah tersedak seketika. “Kamu kenapa Ai?” tanyanya khawatir.


“Tidak apa-apa Jus. Anu, ini, minumannya ternyata dingin sekali. By the way, sorry ya. Aku bilang begitu karena tidak tahu kalau pak Dhiaz dijodohkan sama kamu.”


“He he, tidak apa-apa kok Ai.”


Aisyah meletakkan gelasnya. “Jadi mau tanya apa?”


“Kak Dhiaz orangnya bagaimana?”

__ADS_1


“Setahu aku, pak Dhiaz itu cuek. Mungkin karena itu dia diidolakan cewek-cewek di kampus.”


Udah tekan tombol like belum? Belum? Tekan sekarang yukkk!!


__ADS_2