Hipotesis Cinta

Hipotesis Cinta
Eps 35


__ADS_3

Besoknya, Aisyah menunggu angkot lewat. Tidak lama menunggu, sudah ada Tayo yang lewat. Aisyah langsung naik.


Angkot itu sepi, hanya ada satu penumpang di dalam. “Kuliah dimana dek?” tanya penumpang itu pada Aisyah.


“Kita sekampus kak,” jawab Aisyah setelah melihat almamater yang dikenakan perempuan itu.


“Ambil jurusan apa?”


“Pendidikan Bahasa Inggris kak.”


“Sama dong, kenalkan nama aku Acha. What about you?”


“Salam kenal kak Acha, aku Aisyah.”


“Aisyah? Kamu kenal pak Dhiaz?” tanya Acha yang dijawab langsung dengan anggukan oleh Aisyah.


“Jangan-jangan kamu asistennya ya?”


“Iya, kok tahu kak?” Aisyah jadi sangat penasaran dengan seniornya itu.


“Ya ampun, sudah lama aku penasaran mau lihat kamu. Sekarang malah ketemu di angkot.”


“Penasaran kenapa?” Aisyah jadi bingung dengan tingkah Acha yang seolah telah mengenalnya lama.


“Jadi gini, aku pernah ikut lomba debat di Sulbar. Waktu itu didampingi pak Dhiaz dan bu Nadia. Sebelum pulang ke Sulsel pak Dhiaz pernah beli sovenir perahu sandeq mini yang ditulisi nama kamu.”


“Pak Dhiaz memang kasih aku sovenir kak, tapi bukan namaku. Nama pak Dhiaz yang ada di perahu mininya.”


“Berarti ditukar dong, yang tulisannya nama kamu pak Dhiaz simpan di rumahnya. You know what, waktu di mobil pak Dhiaz putar lagu Aisyah terus. Sampai-sampai ditegur sama bu Nadia karena bosan dengar lagu itu terus. Menurutku pak Dhiaz pasti suka sekali sama kamu. Beruntung sekali kamu Aisyah.”

__ADS_1


“Beruntung bagaimana kak?”


“Beruntung karena pak Dhiaz suka sama kamu. Ada banyak perempuan yang mencari-cari perhatiannya, tapi pak Dhiaz cuek ke mereka. Tapi kamu, justru pak Dhiaz yang mendekati kamu. Dia bahkan mau membelikan kamu sovenir.”


“Kata pak Dhiaz itu sebagai tanda terima kasih, karena aku bersedia menggantikannya mengajar selama sepekan kak. Bukan karena dia suka sama aku.”


“Terserah kamu lah Aisyah mau menanggapinya bagaimana. Tapi saranku sebaiknya kamu balas perhatiannya. Kalau tidak, pak Dhiaz bisa saja berpindah ke lain hati.”


Aisyah bergeming, meski begitu otaknya tak bisa berhenti memikirkan saran Acha padanya.


“Kiri, kiri pak!” teriak Acha. “Aku duluan dek,” lanjutnya sebelum masuk ke lorong rumah bu Nadia.


“Iya kak, hati-hati!”


Beberapa menit berlalu, Aisyah turun di depan kampus. Dia langsung melangkah ke kelas setelah memberikan uang ke supir.


Perkataan Acha di angkot tadi benar-benar meracuni pikiran Aisyah. Dia merasa sangat gelisah memikirkan itu, terlebih tadi malam dia cuek sekali ke pak Dhiaz. “Aku harus bilang ke pak Dhiaz kalau aku mau jadi istrinya,” gumam Aisyah dalam hati.


“What’s up?” tanya pak Dhiaz tanpa menatap Aisyah. Dia begitu fokus mengetik.


Sangat berbeda dengan pak Dhiaz yang biasanya. Pak Dhiaz yang tidak pernah bisa tahan untuk tidak memandang Aisyah saat berbicara dengannya.


“Ada yang ingin kubicarakan sir.”


“Pas, aku juga mau bicara sama kamu.”


“Kalau begitu, sir duluan saja yang bicara.”


“Okay, boys first. Mulai hari ini kamu bukan asistenku lagi. Misi pribadi kita juga tidak usah dilanjut lagi.”

__ADS_1


“Kenapa sir?” tanya Aisyah khawatir.


“Karena aku sudah dijodohkan dengan perempuan lain. Aku tidak mau intens ketemu perempuan selain calon istriku. I wish kamu mengerti dengan posisiku saat ini.”


“Oh iya. Alhamdulillah, congratulations ya sir. Buku-buku sir akan kukembalikan besok,” balas Aisyah dengan menahan air matanya.


“Okay. Kamu mau kemana? Tadi katanya mau bicara,” cegah pak Dhiaz pada Aisyah yang bersiap meninggalkan ruangannya.


“Anu, itu, mau bilang terima kasih sudah mendaftarkan aku di lomba fashion show.”


“Okay, sama-sama.”


Aisyah tersenyum sebelum keluar. Tapi sesampainya di luar, air matanya mulai berlinang. Dulu, dia patah hati karena Ilham. Sekarang, dia patah hati karena pak Dhiaz. Betapa tidak menyenangkannya jadi Aisyah.


“Aku cuman ingin melihat keseriusanmu sir. Ternyata keraguanku akan perasaanmu bisa terjawab secepat ini,” monolog Aisyah dalam hati.


Dia melangkah ke kelas. Sebelum masuk, dia menghapus air matanya. Tangannya mengambil tas. “Mau kemana Ai?” tanya Ismi.


“Pulang Is.”


“Tapi sebentar lagi pak Dhiaz masuk loh.”


“Bilang saja aku sakit,” balas Aisyah dengan mata yang berkaca-kaca.


“Kalau tidak ada surat keterangan sakit, kamu pasti alpa Ai.”


“It is okay.”


Saat akan keluar dari kelas, Aisyah berpapasan dengan pak Dhiaz di pintu. “Mau kemana?” tanya pak Dhiaz.

__ADS_1


“Take number one sir.”


Aisyah keluar dan berjalan ke arah toilet untuk membuat pak Dhiaz percaya akan kata-katanya barusan. Setelah itu barulah dia melarikan diri dari kampus.


__ADS_2