Hipotesis Cinta

Hipotesis Cinta
Eps 30


__ADS_3

Pak Dhiaz dan Aisyah tiba di parkiran kampus. “Duduk di depan. Ada hal penting yang harus kita bicarakan,” suruh pak Dhiaz.


“Aku duduk di tengah saja sir, biasanya kan juga begitu.”


“Iya biasanya, tapi ribet Aisyah. Kebiasaan sekali kamu kalau dikasih tahu, pasti selalu saja ada balasannya. Mulutmu itu baru berhenti nyerocos kalau yang kubilang berterima di otakmu.”


“Aku duduk di depan kalau terdesak saja sir. Lagian kita kan bukan muhrim,” elak Aisyah.


“Salah sendiri, sudah berapa kali kamu kuajak nikah. Tapi jawabanmu tetap sama, pasti tidak mau. Apa kamu benar-benar tidak punya perasaan ke aku?” tanya pak Dhiaz dengan air muka serius.


“Yup, I have no feeling for you.”


“Look at me, sebelum masuk mobil coba lakukan seperti ini.”


Pak Dhiaz membuat lingkaran menggunakan ujung jari jempol kiri dan ujung jari telunjuk kiri. Itu juga berlaku di tangan kanan, tapi ditautkan ke lingkaran tangan kiri terlebih dulu. Hingga terbentuk seperti rantai.


Aisyah mengimitasinya, “Terus?” tanyanya penasaran.


“Katakan aku cinta Dhiaz sambil lepaskan tautan tanganmu!”


“Aku cinta Dhiaz.” Dengan mudahnya tautan tangan Aisyah terlepas. “Gampang kok. Ini bisa lepas,” lanjutnya.

__ADS_1


“Bagus, kamu memang cerdas sekali. Lakukan lagi, tapi ganti katanya jadi aku tidak cinta Dhiaz. Now!"


“Aku tidak cinta Dhiaz.” Kali ini tautan tangan Aisyah tidak terlepas. Masih menyatu dengan begitu eratnya. “Kenapa sekarang tidak bisa lepas sir?” tanyanya bingung.


“Karena kamu pembohong. Kalau bicara mulutmu suka tidak sinkron dengan hatimu.”


Aisyah menatap sinis ke arah pak Dhiaz.


“Enak saja asal tuduh.”


“Aku tidak asal tuduh. Lepas atau tidaknya tautan tanganmu lah yang mengungkapkan faktanya. Kalau gampang lepas berarti iya, kalau tidak gampang lepas berarti tidak.”


Aisyah mulai mengerti maksud pak Dhiaz. “Jadi . . .”


“Tes yang tidak akurat. Ayo cepat sir, keburu sore!” Saking saltingnya, Aisyah langsung duduk di depan.


“Kamu terlalu gengsi mengakui perasaanmu,” ucap pak Dhiaz lalu mengemudi mobilnya.


“Forget it please! Tadi katanya mau bicarakan hal yang penting. What is that?”


“Besok malam ada lomba Cinderella Fashion Show.”

__ADS_1


“Terus?” tanya Aisyah santai.


“I have registered you,” jawab pak Dhiaz tak kalah santainya.


“What? Bisa tidak kalau memutuskan sesuatu bilang-bilang dulu. You are my lecturer, not my husband sir. You tidak berhak mengatur hidupku sesuka hati begitu,” umpat Aisyah.


Pak Dhiaz tidak berkata apa-apa. Tapi rungunya begitu setia mendengar semua ocehan yang keluar dari mulut Aisyah.


“Masih ada?” tanya pak Dhiaz setelah beberapa menit berlalu.


Aisyah membisu, “Keysya ikut lomba itu. That is why aku daftarkan kamu juga,” lanjut pak Dhiaz.


“Aku tidak punya basic sama sekali di dunia model, dan sir berharap aku bisa kalahkan Keysya yang sudah profesional di bidang itu? Be realistic sir!”


“Apa susahnya jadi model? Tinggal jalan saja!”


“Lombanya besok loh sir. Gaun Cinderella belum ada, sepatu kaca belum ada, latihan jadi model juga belum pernah. Asli, you are too crazy sir.”


Mata Aisyah menyala-nyala menahan emosi. Saking kesalnya, air mata bercucuran di atas pipinya tak lama setelah itu.


“Maaf kalau aku gegabah. Kupikir kamu bisa membalaskan dendammu dengan mengalahkan Keysya di lomba besok. Kalau kamu tidak ikut, wibawaku sebagai pendaftar jadi taruhannya. But it is okay, daripada lihat kamu nangis begini.”

__ADS_1


Masih setia mengingatkan, dilike ya kak🙄


__ADS_2