Hipotesis Cinta

Hipotesis Cinta
Eps 8


__ADS_3

Besoknya, tepat pada pukul delapan pagi. Seorang perias mendatangi rumah Aisyah. Ia diminta oleh pak Dhiaz untuk menyulap Aisyah menjadi wanita cantik.


Pertama-tama, perias itu melepas kacamata Aisyah. Setelah itu, ia mulai memoles wajah Aisyah dengan make up mahalnya.


Kuas make upnya pun menari-nari di atas wajah Aisyah. Lipstick pink berjalan mengikuti lekuk bibir mungil Asiyah.


Saat make up Aisyah sudah sempurna. Perias beralih ke bagian kepala. Ia mulai memasangkan kerudung cantik ke Aisyah.


“Jangan terlalu pendek ya kak. Harus menutup dada, satu lagi. Jangan terlalu stylish,” pinta Aisyah.


“Iya,” balas perias yang hemat bicara itu.


Perias itu kembali membentuk kerudung Aisyah. Tak lama, Aisyah sudah benar-benar cantik dengan balutan hijab yang dibentuk oleh perias itu.


Aisyah mengambil kacamata yang dilepas perias tadi. Ia akan mengenakan kacamata kesayangannya itu lagi.


“Jangan pakai kacamata. Kamu baru boleh pakai setelah pulang dari acara nanti,” titah sang perias lalu pamit pulang.

__ADS_1


Di saat yang bersamaan, pak Dhiaz menelepon Aisyah yang memang sudah selesai didandani. Ia meminta mahasiswi culun itu untuk segera keluar, karena ia sudah menunggu di luar.


Aisyah menyalami ibunya terlebih dahulu. Setelah itu, ia mengambil statement heels pink pemberian pak Dhiaz.


“Cantik juga ya anak ini,” batin pak Dhiaz kala melihat asistennya itu berjalan mendekat ke mobil.


Make up tipis sang perias yang ia kirim, benar-benar berhasil menyulap Aisyah si gadis culun menjadi Aisyah yang begitu cantik.


“Mama kamu cantik,” ucap pak Dhiaz yang duduk di dalam mobil.


“Iya dong sir. Siapa dulu anaknya,” tukas Aisyah lalu terkekeh.


“Mesra? Mungkin maksud pak Dhiaz rukun kali ya?” batin Aisyah saat mengangguk atas ucapan pak Dhiaz barusan.


Sesampainya di pesta pernikahan adik Aisyah Munaf, Aisyah kebelet pipis. Dengan langkah cepat, ia menanyakan keberadaan toilet ke salah satu panitia pernikahan.


Segera ia ke toilet untuk membuang air seninya. Di dalam toilet, tak sengaja ia mendengar suara dua perempuan sedang asyik ngerumpi.

__ADS_1


Perempuan pertama memulai pembicaraan. “Hebat yah si Dhiaz. Setelah dikhianati Aris, dia masih mau datang ke sini.”


“Iya, nggak kebayang deh rasanya ditikung sahabat sendiri. Ada bagusnya juga sih Dhiaz ditikung Aris. Dia jadi sakit hati, terus mengubah penampilan. Lihat saja, sekarang dia sudah tampan sekali. Tidak gemuk dan dekil seperti dulu lagi,” balas perempuan kedua.


“Benar, Dhiaz sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Pacarnya juga cantik sekali, muda lagi.”


“Iya benar, pacarnya yang sekarang lebih cantik. Aisyah pasti menyesal meninggalkan Dhiaz. Selain lebih tampan, sekarang Dhiaz juga sudah lebih kaya dari Aris.”


Mereka berdua terkekeh hebat, namun tak lama. Karena mereka jadi gugup seketika, saat melihat perempuan yang keluar dari toilet ternyata perempuan yang mereka maksud sebagai pacarnya Dhiaz.


Aisyah menganggukkan kepalanya ke meraka untuk mencairkan suasana yang awkward. Tak lupa ia tersenyum, agar kedua perempuan itu tidak merasa bersalah telah membahasnya.


Perempuan pertama melanjutkan pembahasan saat Aisyah sudah melangkah jauh darinya.


“Benar-benar beruntung si Dhiaz. Selain cantik dan muda, pacarnya ternyata sangat baik.”


Sekarang Aisyah mengerti, kenapa pak Dhiaz memilihnya menjadi asisten dosen. Pasti karena namanya mirip dengan mantan pacar pak Dhiaz.

__ADS_1


Secara tidak langsung, ia juga jadi tahu alasan pak Dhiaz mengajaknya ke pesta itu. Pasti untuk membalaskan dendam pada si empunya hajatan dengan cara yang elegan.


Terjawab pula lah curiousity Aisyah, tentang kata mesra yang dibahas pak Dhiaz tadi di mobil.


__ADS_2