
“Permisi, kanua sepoong?” tanya Sissy ke Aisyah yang tengah menjajakan jualannya di warung depan rumah.
“Hah?” Aisyah memajukan kepalanya.
“Hah heh hah heh, kamu siapa?”
“Oh tanya nama to? Aku Aisyah.”
“Pas, kenalin eike Sissy. Eike disuruh kak Dhiaz ke sini untuk ngajar kamu merias diri. Kak Dhiaz juga nyuruh eike ngajar kamu bela diri.”
“Maksud kamu Dhiaz Alfahrezi?”
“Iya, Dhiaz. Dosen yang seksi itu loh.”
“Duduk dulu Sissy. Aku buatin minum dulu,” pinta Aisyah sembari menyodorkan kursi plastik berwarna hijau.
“Cucok deh, mau buatin minangan tanpa diminta. Tau aja eike lagi haus.”
Aisyah menanggapi ucapan Sissy dengan tersenyum. Tanpa berlama-lama lagi, ia membuatkan pop ice rasa jeruk untuk Sissy.
“Harga segelas minuman begitu berapa?” tanya Sissy.
“Tiga ribu.”
“Iihhh cucok deh, harganya ternyata mursida ya.”
Aisyah mengangguk, meski ia sebenarnya belum begitu paham dengan ucapan Sissy barusan.
Segera setelah itu, ia meletakkan pop ice rasa jeruk yang baru saja dibuatnya di hadapan Sissy.
Sissy meneguk minuman berwarna orange itu. “Endaaaaaaaaaang, kamu tuh bisa aja milih minumannya. Jadi jeruk minum jeruk ini mah.”
“Maaf, sebelumnya. Nama saya Aisyah, bukan Endang.”
“Iihhh, kamu bikin kezzel deh. Endang itu artinya enak.”
“Oh, gitu yah?” balas Aisyah lalu menggaruk kepalanya yang berbalut hijab.
“Iya, Aisyah eike mau dong mekong gorengan.”
“Gorengan yang mana?”
“Sosis goreng ada?” tanya Sissy seraya menggigit bibir bawahnya. Aisyah menggelengkan kepalanya.
“Kalau telur rebus?”
“Ada, mau berapa?”
“Dua,” balas Sissy lalu terkekeh.
Aisyah yang tidak mengerti candaan kaum Ratu Salome benar-benar mengambil telur rebus untuk diberikan ke Sissy.
“Ya ampuunn, eike cuman bercanda Aisyah. Gorengan saja, yang cepat yah. Eike lapar sekali ini. Setelah ini, kita langsung belajar ya.”
“Iya,” balas Aisyah sembari memegangi spatula.
__ADS_1
Rungunya fokus mendengar Sissy berceloteh, sementara netranya fokus ke wajan. Dengan cekatan ia membolak-balikkan gorengannya agar tidak gosong.
“Jadi gini ya Aisyah. Dhiaz minta eike ngajarin kamu dua jam sehari. Belajar make up, terus belajar bela diri. Bisa kan?”
“Iya.” Gorengan untuk Sissy sudah Aisyah tiriskan, saatnya untuk membawa makanan berminyak itu ke hadapan Sissy.
Sissy mulai memasukkan satu per satu potongan gorengan buatan Aisyah ke dalam mulutnya. Meski sudah menjadi lelaki cantik, cara makannya masih seperti lelaki pada umumnya.
Yes, Sissy makan dengan cepat. Dari cari makannya Sissy pasti tipe orang yang suka bekerja keras dan tidak sabaran.
Bukan hanya itu, orang yang makan dengan cepat seperti Sissy, juga memiliki karakter yang ambisius dan berorientasi pada tujuan.
Sissy bersendawa karena kekenyangan. Setelah itu, ia menyodorkan uang hijau bertuliskan 20000 ke Aisyah.
“Tidak usah dibayar,” tolak Aisyah.
“Ya ampun Aisyah, eike sudah dibayar kak Dhiaz. Masa’ iya eike makan gratis juga. Ini, kembaliannya?” Sissy menadahkan tangannya di depan Aisyah.
“Ini,” tutur Aisyah seraya memberikan uang nominal 10000.
“Ayo masuk, eike ajar kamu make up dulu.”
Mereka berdua lalu masuk ke rumah. Di dalam, Sissy mulai mengeluarkan peralatan make up nya. Aisyah sedikit khawatir.
“Tenang aja ciinn, Dhiaz udah minta eike beliin kamu peralatan make up kok. Ini ambil, kita belajar ini dulu.”
“Ini apa sih?”
“Concealer. Ini dipakai untuk menutupi mata panda, bisa juga menutupi jerawat. Pokoknya noda-noda apa pun yang ada di muka bisa ditutupi dengan ini.”
“Wah keren, aku juga mau coba.”
Sissy merebut concealer di tangan Aisyah. “Cuci muka dulu!”
Aisyah pun bergegas ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Dengan langkah cepat, ia kembali menemui Sissy setelahnya.
Sissy mengembalikan concealer Aisyah, ia juga memberikan pelembab. “Lain kali cuci muka dulu kalau mau pakai ini. Terus pakai pelembab, kalau sudah baru deh pakai ini.”
Aisyah kini mulai berlatih memakai concealer dengan baik. Setelah berhasil, Sissy beralih mengajarinya bela diri. Tapi ditunda dulu, karena adzan asar sudah berkumandang.
“Aisyah pinjami eike peci dan sarung dong.”
“Buat apa?”
“Buat shalat lah. Cepat, keburu iqamah nanti.”
Aisyah berlari ke kamar ibunya, mengambilkan peci juga sarung ayahnya untuk Sissy. Tak lama, ia sudah sampai di ruang tamu.
Sissy yang sudah berwudhu segera memakai sarung dan peci yang dibawa Aisyah. Rambut panjangnya ia gulung ke dalam peci. Setelah itu, ia berangkat ke mesjid.
“Ma, itu siapa?” tanya Wahdah saat melihat ada lelaki yang keluar dari rumahnya.
“Itu Sissy,” balas bu Arni.
“Kak Sissy yang tadi?” tanya Wahdah lagi. Pertanyaannya dibalas bu Arni dengan anggukan.
__ADS_1
“Bukannya kak Sissy perempuan yah ma? Kenapa pakai baju lelaki? Seharusnya kan dia pakai mukena, bukan peci.”
“Sissy itu lelaki yang berpenampilan seperti perempuan. Tapi kalau shalat, dia pakai baju lelaki.”
“Kak Sissy bagusnya jadi lelaki saja.”
“Kenapa?” Bu Arni mulai kepo.
“Dia ganteng,” ujar Wahdah lalu terkekeh.
Bu Arni mencubit pelan pinggang Wahdah.
“Dasar, kamu itu masih SD. Tapi tingkahmu sudah centil begitu.”
Di dalam rumah, Aisyah tengah shalat ashar. “Ya Allah, Sissy orang yang baik. Walaupun gayanya feminin, dia tetap shalat dengan pakaian lelaki. Tuntunlah dia agar mau kembali menjadi lelaki tulen ya Allah. Aamiin,” pinta Aisyah dalam doanya.
Sepulangnya dari shalat, Sissy merapikan sarung juga peci yang baru saja dikenakannya. Ia lalu mengajari Aisyah ilmu bela diri.
“Tips pertama adalah mempelajari titik lemah penyerang. Contoh, titik lemah adalah alat kelamin. Lemahkan bagian itu pakai kaki. Jadi gini, kalau penjahat mendekat dari arah depan, tendang cucakrawanya pakai tenaga maksimal. Paham kan?”
“Kayak yang di TV kan?”
“Yah, persis seperti itu. Sekarang kita praktik, tapi tendanganmu jangan keras-keras ya. Jangan sampai kan cucakrawa eike terbang.”
Aisyah terkekeh mendengar celotehan Sissy.
“Iihhh, kenapa ketawa sih?”
Aisyah menahan tawanya. “Maaf, maaf, kamu sih lucu.”
“Oh ya Aisyah, mau nanya dong. Kamu apanya kak Dhiaz?”
“Pak Dhiaz? Dia dosenku.”
“Jadi kamu mahasiswa? Ya ampun, mudaan eike dong kalau gitu. Eike mah masih SMA, masih unyu-unyu.”
“Masih SMA? Gosh, kenapa tidak bilang dari tadi sih Sissy? Kalau gini kan enak, aku jadi tidak canggung ngobrol sama kamu.”
“Ngobrol? Save nomor eike kak, biar kita bisa ngobrol lewat WA.”
Aisyah cepat-cepat mengambil gawainya. “Boleh, sebutin nomor kamu dek.”
Sissy kini menyebutkan nomor ponselnya.
“Done, anyway nama asli kamu siapa dek?”
“Sammy kak.”
“Sam-my,” ucap Aisyah sembari mengetik kata Sammy sebagai nama kontak.
“Kok Sammy sih? Sissy dong kak.”
“Sammy lebih bagus. Ayo lanjut latihan.”
Thanks for reading this, jangan lupa kasih dukungannya ya readers.
__ADS_1