Hipotesis Cinta

Hipotesis Cinta
Eps 24


__ADS_3

Tak begitu lama, Aisyah kembali ke kamar untuk mengenakan pakaian. Tekadnya sudah bulat untuk berhenti menjadi asisten pak Dhiaz, jadi dia tidak mau lagi mengenakan pakaian pemberian dosen menyebalkan di matanya itu.


Aisyah pun mengenakan make up tipis agar terlihat cantik di acara hajatan kakak Jusma. Tak ingin penghinaan Ilham akan penampilannya yang dulu berulang oleh orang lain. Sudah siap, dia kemudian berangkat ke perhelatan kakak dari teman kecilnya itu.


Wajah Aisyah yang tadinya berseri-seri di bawah cahaya rembulan, kini memudar kala melihat ada mobil pak Dhiaz terparkir di rumah Jusma.


Tak ingin bertemu pak Dhiaz, Aisyah ingin ikut ke belakang bersama ibu dan adiknya untuk bantu-bantu.


Tapi Jusma yang melihatnya, mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah. Jusma meminta tolong pada Aisyah untuk menemaninya menyambut tamu yang datang.


Aisyah menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dengan cengengesan dia terpaksa memasuki rumah Jusma. Sial sekali, hal yang dia takutkan di luar tadi benar-benar terjadi.


Dosen menyebalkan yang baru saja meneleponnya benar-benar ada di situ. Pak Dhiaz duduk manis di depan meja kenduri. Di atas meja itu terdapat beraneka kue khas Sulawesi Selatan tertutup bosara’ cantik.


“Aisyah tolong tuangkan tehnya. Aku mau tambah,” ucap pak Dhiaz sembari tersenyum freak ke Aisyah. Seperti senyum seorang polisi yang berhasil menangkap tahanannya yang kabur.


Dengan ekspresi yang super duper salting, Aisyah mendekat ke pak Dhiaz yang duduk di atas permadani merah. Dia lalu menuangkan teh hangat ke cangkir dosennya itu.


“Teh di sini ternyata enak sekali,” celoteh pak Dhiaz lagi.

__ADS_1


Jusma terperangah melihat perubahan sikap pak Dhiaz. Lelaki yang tadinya dia lihat diam saja itu, kini mulai mengeluarkan banyak kata dari mulutnya.


Suara bariton pak Dhiaz dan sorot matanya yang tajam begitu menggoda. Entah sejak kapan perpaduan itu memunculkan debaran yang tak menentu di jantung Jusma.


Setelah menuangkan teh, Aisyah berdiri untuk menghampiri Jusma. Dia sudah tidak tahan berlama-lama berada di dekat pak Dhiaz.


Niat Aisyah menghampiri Jusma, tapi malah Jusma yang datang mendekatinya. Gagal sudah rencana pelariannya.


“Kamu kenal Ai?” tanya Jus seraya mengarahkan dagunya ke pak Dhiaz.


“Iya Jus, dosenku di kampus.”


Tanpa diminta pak Dhiaz ikut nimbrung. “Bukan hanya kenal, lebih dari itu. Aisyah juga asistenku di kampus.”


“Kak? Panggil pak saja Jus, pak Dhiaz ketuaan untuk dipanggil kak.”


“Masih muda kok Ai.”


“Yang selalu peringkat pertama siapa, yang cerdas siapa. Kamu harus belajar banyak ke Jus. Supaya kamu bisa bedakan antara yang sudah tua dan yang masih sangat muda.”

__ADS_1


“Sepertinya kamu harus ke dokter mata Jus. Ada yang bermasalah dengan matamu.”


Jusma menepuk bahu kanan Ai dengan pelan. “Hushh, kamu kebiasaan deh. Kalau bicara suka tidak difilter dulu.”


“Jangan tersinggung ya kak! Aisyah memang begitu, pikirannya tajam. Tapi ucapannya jauh lebih tajam,” lanjut Jusma lalu terkekeh.


Pak Dhiaz ikutan terkekeh melihat Aisyah jadi tidak berdaya karena ucapan Jusma. Pak Dhiaz dan Jusma yang tadinya asing, kini mulai saling berbicara seperti karib setelah kedatangan Aisyah.


“Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu tentang Aisyah. Dia tidak gampang capek.”


“Oh ya?” tanya Jusma sembari menanti penjelasan lebih lanjut dari pak Dhiaz.


“Iya, dia baru pulang dari IMYP tadi sore. Tapi sekarang sudah di sini saja.” Satire mulai pak Dhiaz lemparkan pada Aisyah yang menolak ajakannya tadi.


Aisyah membalas sindiran pak Dhiaz dengan menampakkan senyum kecutnya. Aisyah berdiri untuk beranjak dari hadapan dosen menyebalkan itu, tapi Jusma kembali menahannya untuk pergi.


Jusma menarik tangan Aisyah. “Mau kemana lagi Ai? Duduk di sini saja, temani dosenmu cerita.”


Mendengar itu, Aisyah merasa jadi orang paling sial malam ini. Dia terpaksa harus duduk kembali.

__ADS_1


“Minum dulu, kamu juga belum makan apa-apa kan?” Jusma menuangkan teh ke cangkir di hadapan Aisyah. Dia juga membuka bosara’ berisikan kue tradisional khas Bugis yang berjajar rapi di atas meja.


Terima kasih untuk masih membaca sampai bab ini, have a nice day readers ❤️❤️


__ADS_2