Hipotesis Cinta

Hipotesis Cinta
Eps 42


__ADS_3

“Aisyah kamu ikut debat ya!”


“Debat? Yang biasanya ikut debat itu kak Acha ma’am, bukan aku.”


“Acha sakit, jadi kamu yang gantikan dia!”


“Tapi ma’am . . .”


“Nanti pak Dhiaz jemput kamu. Assalamu ‘alaykum,” tutur bu Reka lalu memutuskan panggilan teleponnya.


“Aish, pak Dhiaz lagi. Bisa-bisa aku gagal move on kalau begini. Apa-apa selalu saja berhubungan dengan dia.”


Aisyah terpaksa harus pulang sekarang juga. Padahal dia masih begitu betah menikmati indahnya suasana taman itu.


Tapi dia harus cepat pulang untuk bersiap-siap. Beruntung ibunya mau membantu untuk mengemas pakaian.


Tak butuh waktu lama bagi bu Arni untuk memasukkan kebutuhan Aisyah ke dalam koper. Tidak hanya pakaian, obat oles dan beberapa bungkus snack juga bu Arni masukkan.


Aisyah dan keluarganya shalat isya berjama’ah di rumah. Setelahnya, ibu dan adiknya menemaninya menunggu pak Dhiaz di beranda rumah.


Tak lama, pak Dhiaz sudah tiba. Aisyah pun menyalami bu Arni dan Wahdah sebelum memasuki mobil pak Dhiaz.


Pak Dhiaz dan Aisyah membisu di dalam mobil. Hening, tak ada percakapan, juga tak ada suara musik. Yang ramai adalah degup jantung mereka.


Aisyah mengantuk, dia pun tertidur. Pak Dhiaz juga mengantuk. Rasa kantuk yang menyerang itu tanpa sadar menyebabkan dia ngerem tiba-tiba.

__ADS_1


“Astaghfirullah,” ucap Aisyah yang terbangun seketika karena mobil yang oleng.


“Maju ke depan!” perintah pak Dhiaz padanya.


“Tapi sir . . .”


“Tidak usah kePDan, sebentar lagi aku akan menikah. Rasa cintaku bukan untuk kamu lagi. Tapi untuk tetanggamu yang cantik itu.”


Emosi Aisyah membuncah, tapi bertengkar di saat seperti ini hanyalah tindakan yang sia-sia belaka. Dengan paras yang tak bersahabat, dia maju ke depan.


“Temani aku cerita supaya aku tidak mengantuk.”


“Tapi mau bahas apa sir?”


“Itu sebelum kamu menghancurkan perasaanku,” ujar Aisyah pelan sekali.


“Kamu bilang apa tadi?”


“Anu, selamat ya. Sebentar lagi sir akan menikah. Akhirnya sir bisa lepas dari predikat bujang lapuk.”


“Sebaiknya kamu menikah juga, biar tidak jadi perawan tua.”


“Aku sudah sangat trauma untuk mengharapkan pernikahan. Dua lelaki pernah mengetuk pintu hatiku. Dan bodohnya, kusuguhkan cinta karena kupikir mereka akan menetap. Tapi ternyata perasaanku hanya game bagi mereka.” Senyum getir masih setia menutupi duka Aisyah saat mengatakannya.


“Bagaimana proposalmu?” tanya pak Dhiaz demi mengalihkan pembicaraan canggung itu.

__ADS_1


“Belum dibaca seperti skripsi senior,” satire Aisyah lagi. “Bagaimana kabar nenek?” lanjutnya.


“Seperti yang kamu lihat kemarin. Nenek tambah sehat, karena sebentar lagi dia akan memiliki cicit.”


“Ada sovenir tidak untuk tamu undangan?”


Pak Dhiaz berbangga diri. “Jelas ada dong.”


“Untuk bridemaids dan groommaids pasti beda kan ya? Kebetulan sekali kita akan ke Sulbar. Sir bisa beli sovenir yang banyak di sana. Terus tulisi Dhiaz love Jusma. Bridemaids dan groommaids di pernikahan sir pasti akan senang sekali dikasih sovenir begitu.”


“Bisa juga ya kamu mencari kesempatan dalam kesempitan. Mentang-mentang kamu jadi bridemaids kamu kasih saran begitu.”


“Harus dong, aku sebenarnya tidak mau hadir di pernikahan sir. Tapi kayaknya seru ya sumbang lagu Balo Lipa.”


Lemmusa nyawamu daeng


Musolangi atikku


Engka mu tudang botting


Riolo matakku


“Merdu kan?” tanya Aisyah yang berpura-pura tegar.


“Jangan menyanyi di pernikahanku. Suaramu jelek sekali. Tamuku bisa kabur semua.”

__ADS_1


__ADS_2