
Di dalam mobil, Aisyah terus tersenyum selama lima detik. Hal itu ia lakukan sebanyak sepuluh kali. Mengundang tanya besar di benak pak Dhiaz saat melihatnya.
“Kamu lagi apa sih?” tanya pak Dhiaz pada Aisyah yang sedang duduk di jok tengah mobilnya.
“Lagi senam muka sir.”
“For what?” tanya pak Dhiaz keheranan.
“Biar mukaku bisa setirus muka Keysya.”
“Yakin mau tirus seperti Keysya? Padahal kamu lebih cantik kalau pipimu tembem begitu.”
“You made me melting sir.” Mata Aisyah berkaca-kaca, baru kali ini ada yang memujinya cantik.
Setibanya di rumah, Aisyah berterima kasih pada pak Dhiaz. Meski tadinya ia terpaksa untuk ikut pak Dhiaz ke stadion.
Beberapa hari setelahnya, ketua Himpunan Mahasiswa Bahasa Inggris mengetuk pintu ruangan pak Dhiaz.
Setelah dibolehkan masuk, sang ketua mengutarakan hajatnya. Ia meminta pak Dhiaz untuk menjadi salah satu pemateri di pengkaderan himpunan nanti malam.
“Siapa yang akan jadi moderatorku?” tanya pak Dhiaz blak-blakan.
“Kalau masalah itu tenang saja sir. Kami sudah tentukan anggota-anggota kami yang akan menjadi moderator di pengkaderan nanti.”
“Sayang sekali, aku hanya mau jadi pemateri kalau moderatornya Aisyah.”
“Aisyah? Aisyah yang mana sir?”
“Ini nomornya Aisyah, bilang ke dia kalau ini perintah dari dekan. Jangan sampai dia tahu kalau aku yang suruh kamu hubungi dia.”
“Siap, nanti aku hubungi. Terima kasih sebelumnya atas waktunya sir.”
“Sama-sama.”
Keluarnya dari ruangan pak Dhiaz, ketua himpunan langsung menghubungi nomor Aisyah. “Halo assalamu ‘alaykum,” ucapnya.
“Wa’alaykum salam.”
“Dengan Aisyah?”
“Iya, kenapa?” tanya Aisyah dengan nada meninggi.
Ia memang selalu begitu terhadap nomor baru. Bersuara besar sepertu itu sengaja ia lakukan untuk menghindari hipnotis lewat panggilan telepon. “Buset. Garang amat dah,” batin ketua himpunan.
“Aku selaku ketua himpunan mau menyampaikan, kamu dapat tugas dari dekan untuk jadi moderator di pengkaderan nanti malam.”
__ADS_1
“Maaf sebelumnya, sepertinya kamu salah orang. Aku bukan anggota himpunan, bagaimana bisa aku jadi moderator?”
“No, aku tidak salah orang. Dekan sendiri yang memintaku untuk menghubungimu.”
Demi kelancaran pengkaderan, Faril terpaksa berbohong. Jika tidak, pak Dhiaz tidak akan mau menjadi pemateri nanti malam. Sementara banyak mahasiswa yang tertarik untuk ikut hanya karena ingin bertemu langsung dengan pak Dhiaz.
“Aku tidak bisa kalau acaranya malam, karena tidak ada angkot yang beroperasi malam.”
“Kamu tenang saja, nanti panitia yang jemput kamu. Shareloc saja alamat rumah kamu.”
“Okay, kalau begitu.”
Aisyah langsung mematikan gawainya. Tak memberi kesempatan pada ketua untuk mengucapkan salam. Agar mudah mengirimi Faril alamat rumahnya, Aisyah menyimpan nomornya.
Malamnya, seorang panitia cewek menjemput Aisyah. Ialah Adifa, wakil ketua Himpunan Mahasiswa Bahasa Inggris.
Mahasiswi primadona kampus, lantaran parasnya yang cantik. Juga bodynya yang seperti body Kim Kardashian.
Si pemilik bentuk tubuh slim-thick. Dengan bokong dan paha yang besar. Tapi pinggangnya langsung, dan perutnya rata.
Karena bodynya yang cantik, Adifa suka memamerkannya dengan mengenakan pakaian super ketat. Bahkan ke acara formal seperti pengkaderan himpunan sekali pun.
Berbanding terbalik dengan Aisyah, ia selalu memakai hijab. Ia ke pengkaderan itu dengan memakai baju pemberian pak Dhiaz.
Karena tidak enak hati ke acara fromal dengan penampilan yang amburadul, Aisyah terpaksa memakai pumps hitam yang juga dibelikan pak Dhiaz untuknya. Meski sebenarnya ia malu mengenakan heels saat ke kampus.
“Yang mana?” tanya pak Dhiaz penasaran.
“Pura-pura tidak tahu dia,” sahut pak Putra seraya melirik pak Sakti.
“Adifa lah, siapa lagi kalau bukan dia? Tidak mungkin kan perempuan yang di sampingnya itu,” balas pak Sakti.
“Memangnya kenapa perempuan yang di sampingnya? To me, dia lebih pantas jadi primadona kampus. Dia jauh lebih cantik dari Adifa. Dia juga lebih cerdas, dan satu lagi. Pakaiannya jauh lebih sopan.”
“Hah? Matamu tidak rabun kan?”
Pak Sakti benar-benar memastikan, karena baru kali ini ada lelaki yang menilai Adifa biasa-biasa saja.
“Nope, mataku sehat. Adifa memang biasa saja. Ada banyak perempuan modelan begitu kok di ruangan ini.”
“Iya, ada banyak. Tapi cuman Adifa yang paling cantik,” bela pak Sakti.
“Hush berhenti bahas Adifa. Dia sudah dekat. Bisa malu kita kalau ketahuan bahas mahasiswi,” saran pak Putra.
“What the, ada pak Dhiaz juga di sini. Gosh, dunia serasa selebar daun kelor saja. Dimana-mana ada dia,” batin Aisyah.
__ADS_1
Materi pertama dibawakan oleh pak Putra, dengan didampingi Ilham sebagai moderatornya. Ilham duduk di samping pak Putra, dengan menghadap ke peserta pengkaderan. Tapi matanya terus melirik ke arah Aisyah yang duduk di samping.
Make up natural Aisyah, juga kacamata yang dilepas, berhasil menyulapnya menjadi lebih cantik. Bak candu, Ilham ingin terus menatapnya. Yup, menatap wajah perempuan yang telah ia sia-siakan begitu saja.
Ilham terus melakukan itu. Ia tak sadar kalau kekasihnya sedari tadi memperhatikannya. “Awas saja kamu Ilham,” batin Keysya.
Selesainya pemaparan materi dari pak Putra, Ilham mendekati Keysya. “Bagaimana penampilanku? Bagus kan sayang?”
“Bagus apanya, dari awal sampai akhir matamu ke arah Aisyah terus. Jangan-jangan kamu suka ya sama dia? Karena dia sudah cantik sekarang.”
“Bukan begitu sayang, I just wonder. She looks different without glasses.”
“Terlihat beda karena cantik kan?”
“No sayang, cuman kamu satu-satunya perempuan yang cantik di mataku.”
“Bullshit,” tutur Keysya dengan menepis tangan Ilham dari bahunya. Ia lalu keluar dari ruangan dengan disusul Ilham.
Materi kedua dibawakan oleh pak Sakti, tentunya didampingi oleh Adifa. Mahasiswi primadona yang jadi incarannya.
Dan yang terakhir, pak Dhiaz dengan moderator pesanannya sendiri. Aisyah, asistennya sekaligus perempuan yang ia kenalkan sebagai calon istri ke keluarganya.
Keysya bermonolog dalam hati saat melihat Aisyah maju ke depan menemani pak Dhiaz. “Oh, jadi karena dia aku batal jadi moderator. Kurang ajar, sudah mulai berani ya si culun itu.”
Kelamaan memainkan gawai saat kedua dosen membawakan materi mengakibatkan gawai pak Dhiaz lowbat.
“Ada yang bawa charger?” tanyanya setelah mengucapkan salam.
Aisyah mengambil charger dari tasnya. Namun ia simpan kembali saat melihat Adifa sudah mendekat ke pak Dhiaz duluan.
“Aisyah, kamu bawa charger kan?” tanya pak Dhiaz saat melihat Adifa mendekat dengan membawa charger.
Sejak dikhianati oleh Aris dan Aisyah Munaf, ia jadi sedikit benci pada perempuan. Terlebih pada perempuan yang bentukannya seperti Adifa. Bak ulat keket, ia trauma terkena gatalnya.
“Iya sir.”
“Boleh pinjam?”
Aisyah mengangguk, lalu berjalan mendekat pada pak Dhiaz. Aisyah memberikan chargernya ke pak Dhiaz.
Alih-alih mengambilnya, pak Dhiaz justru memberikan gawainya ke Aisyah. “Sekalian caskan.”
Adifa kesal sekali dengan langkah yang diputuskan pak Dhiaz. Ia sudah bela-belain ambil charger, eh malah diabaikan oleh pak Dhiaz.
Pak Sakti dan pak Putra yang memperhatikan situasi itu, juga dibuat bingung oleh sikap cuek pak Dhiaz pada Adifa.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers. Like, comment, dll...