Hipotesis Cinta

Hipotesis Cinta
Eps 40


__ADS_3

Dua hari setelahnya, “Kenapa makanan yang kamu bawa warna merah semua nak?” tanya bu Rahma pada Jusma.


“Kata Aisyah, kak Dhiaz suka makan daging merah. Itu berarti kak Dhiaz suka warna merah kan tante? Makanya aku bawa makanan yang berwarna merah,” jawab Jusma polos.


“Ha ha kamu lucu ya,” ucap pak Dhiaz setelah mendengar jawaban Jusma.


Bu Rahma sebenarnya ingin sekali menegur Jusma, dengan cara menjelaskan maksud Aisyah yang sebenarnya. Tapi takut Jusma akan tersinggung karena kata-katanya nanti.


“Aku lebih suka dengan sikap Jusma. Cintanya transparan, tidak seperti Aisyah yang jual mahal terus. Jusma juga lebih polos dari Aisyah. Dia tidak kalah cantik, baik, dan sholehah.” Pak Dhiaz bermonolog sambil senyum-senyum menatap Jusma.


Seusai itu, bu Rahma mengajak Jusma melihat-lihat isi rumahnya. Sekaligus menjelaskan banyak hal tentang pak Dhiaz. Persis seperti yang dia lakukan pada Aisyah dulu.


Setelahnya, pak Dhiaz dan Jusma bersiap ke butik Salma Absara. Mengambil pakaian groommaids dan bridemaids yang telah mereka pesan.


Jusma membuka pintu depan mobil pak Dhiaz. Ada perasaan sedikit tidak rela di hati pak Dhiaz ketika menyaksikan Jusma akan duduk di depan.


“Sudahlah Dhiaz, terima saja. Lima hari lagi kamu akan menikah dengan Jusma, bukan Aisyah. Ingat, Aisyah sudah menolakmu berkali-kali,” monolognya dalam hati.

__ADS_1


Dari kebersamaan di hari itu, pak Dhiaz bisa menemukan perbedaan yang nyata antara Aisyah dan Jusma. Jusma pribadi yang penurut, apa pun yang dikatakannya diiyakan.


Sementara Aisyah, dia harus menjelaskan panjang lebar dulu baru mau menurutinya. Itu pun jika penjelasannya berterima di otaknya.


Sepulangnya dari rumah pak Dhiaz, Jusma mendatangi Aisyah. “Pakai di pernikahanku nanti,” ucapnya seraya menyodorkan gaun bridemaids berwarna biru.


“Tapi aku bukan keluargamu Jus,” tolak Aisyah dengan cara lembut.


“Kamu sudah seperti keluarga bagiku Ai. Karena kamu, aku bisa lebih mengenal kak Dhiaz. Datang ya di nikahanku nanti! Jangan sampai tidak datang. Aku pulang dulu ya, banyak kerjaan di rumah.”


“Terima kasih ya Jus untuk bajunya.”


“Dhiaz yang dimaksud Jusma itu . . .”


“Iya ma, pak Dhiaz dosenku.”


“Bukannya pak Dhiaz suka sama kamu ya? Kenapa menikahnya sama Jusma?” tanya bu Arni tidak habis pikir.

__ADS_1


“Aku ke kamar dulu ya ma. Ngantuk,” elak Aisyah.


Bu Arni mengekornya. “Ini bajumu kenapa tidak dibawa ke kamar?”


“Buang saja ma! Aku tidak akan pernah mau jadi bridemaids di nikahan pak Dhiaz.”


“Kalau Jusma tanya kenapa tidak datang, kamu mau jawab apa?”


“Gampang, tinggal bilang sakit.”


“Bohong dong. Selama ini mama tidak pernah mengajari kamu berbohong sayang.” Mimik kecewa bu Arni terpampang begitu jelas.


“Aku tidak bohong ma. Aku memang akan sakit di hari pernikahan mereka. Perempuan mana sih yang tidak sakit hati melihat lelaki yang dicintainya menikah dengan orang dekatnya sendiri? Sudah ya ma, aku ngantuk.”


Aisyah cepat-cepat masuk kamar. Dia tidak mau terlihat begitu tak berdaya di hadapan ibunya. Padahal ibunya tahu betul sisi rapuhnya seperti apa.


“Kasihan sekali anakku. Waktu itu Ilham jadian sama Keysya dan sekarang pak Dhiaz malah akan menikah dengan Jusma,” batin bu Arni. Tanpa sadar, air matanya telah membasahi pipinya yang mulai keriput.

__ADS_1


Di dalam kamar, “Buku ini harus berada di tangan Jus. Tapi kalau kukasih ke dia, nanti dia curiga. Aku kasih pak Dhiaz saja. Biar dia yang kasih ke Jus,” monolog Aisyah saat memegangi buku berisikan hal yang disukai dan tidak disukai pak Dhiaz.


Have a nice dream readers. Terima kasih untuk supportnya. Like terus ya...


__ADS_2