
Baru saja meninggalkan toko sepatu, tiba-tiba gawai pak Dhiaz berdering. Diangkatnya panggilan telepon itu. “Kenapa ma?”
“Kamu ke rumah nenek sekarang, dia sakit.”
“Tapi ma, aku . . .”
“Tidak ada tapi-tapian, cepat ke sana sekarang!” Bu Rahma langsung mengakhiri panggilannya.
“Aish, punya mama gini amat.” Pak Dhiaz meletakkan kembali gawainya. “Kita ke rumah nenekku dulu ya,” lanjutnya. Ucapannya berbalas anggukan dari mereka bertiga.
Mereka tiba di rumah nenek saat jarum jam menunjukkan pukul sepuluh lewat. Pak Dhiaz dan yang lain langsung menghampiri nenek di kamar.
Nenek tengah berbaring lemah di dalam, infus di tangan kirinya. Netranya berkaca-kaca melihat sang cucu datang menjenguknya.
Pak Dhiaz menyalami kakek dan neneknya, diikuti yang lain. Barulah setelah itu mereka semua duduk.
Tiga puluh menit berlalu, “Aku pulang dulu ya nek. Sammy dan Wahdah harus sekolah besok,” kata pak Dhiaz.
“Ini sudah larut malam. Di luar sedang hujan lebat, anginnya juga kencang sekali. Jangan sampai ada pohon yang tiba-tiba tumbang di jalan. Nenek tidak mau terjadi apa-apa pada kalian. Nginap di sini saja malam ini, besok pagi baru pulang.”
__ADS_1
“Nanti mama marah kalau kita tidak pulang kak,” ungkap Wahdah pada Aisyah. Meski pelan, ucapannya itu didengar oleh yang lain.
Nenek menadahkan tangannya ke pak Dhiaz. “Berikan handphonemu! Biar aku yang minta izin ke calon mertuamu.” Dengan cekatan pak Dhiaz memberikan gawainya ke nenek.
Sissy keheranan mendengar nenek memanggil ibu Aisyah sebagai calon mertua pak Dhiaz. “Kak Ai dan kak Dhiaz couple?” tanyanya.
Aisyah bergeming, dia tidak tahu harus berkata apa pada Sissy.
“Iya,” balas Dhiaz seadanya.
Sissy memanyunkan bibir. “Kenapa tidak bilang dari dulu sih kak? Bikin kezzel tau, hati kak Dhiaz ternyata sudah jadi milik kak Ai. Hampir saja akika jadi pelakor.”
Kakek menegur mereka. “Sudah, kalian berdua jangan ribut lagi! Ini sudah larut malam, sebaiknya kalian tidur sekarang. Jangan bergadang, nanti bisa mengantuk di sekolah.”
“Besok aku mau bolos sekolah. Aku mau temani kak Ai latihan model,” balas Sissy.
Wahdah jadi minat juga. “Kak Ai aku mau bolos sekolah juga, satu kali saja. Boleh ya kak?”
“Tapi cuman besok ya, lain kali kamu harus masuk terus.”
__ADS_1
“Iya kak.” Bibir Wahdah akhirnya melengkung seperti perahu.
Aisyah dan Wahdah bergegas tidur di kamar tamu, begitu juga dengan Sissy. Sedangkan pak Dhiaz dan kakek menjaga nenek di kamar itu.
Besoknya, pak Dhiaz, kakek, dan Wahdah menemani nenek di kamar. Sissy dan Aisyah berlatih di luar. Mereka belajar sangat lama.
Malamnya, Aisyah wudhu dulu sebelum make up. Supaya nanti bisa langsung shalat isya, supaya tidak terlambat mengikuti lomba fashion show juga.
Seusai make up, mereka langsung ke kampus. Setibanya di parkiran, terdengar suara adzan dikumandangkan.
Mereka langsung melangkahkan kaki ke mushallah. “Hamba memohon kepadamu ya Allah. Jadikanlah Aisyah pemenang di lomba
Cinderella Fashion Show malam ini. Aamiin,” pinta pak Dhiaz dalam doanya.
Aisyah menyimpan mukena di lemari. Betapa hancurnya perasaannya, saat mendapati gaun Cinderella dan sepatu kaca yang dia letakkan di samping lemari sudah tidak ada di situ.
Sementara host fashion show sudah meminta para peserta agar bersiap-siap, karena sepuluh menit lagi lomba akan dimulai. Lebih sialnya lagi, Aisyah adalah penampil pertama.
Have a nice dream readers. Get better soon untuk yang sedang sakit. Ma kasih juga masih setia membaca, moga betah ya🥰
__ADS_1