
sesampainya di sekolah Althaf dan aku langsung menuju ke ruang BK, di sana sudah ada seorang guru, dan 2 anak remaja yang dalam keadaan babak belur dan tampilan yang acak-acakan.
Aku menatap tajam Althaf yang hanya menunduk tidak berani menatapku.
"Mari duduk dulu, maaf dengan siapa kalau boleh tau?" Tanya guru yang bernama pak Gani.
"Saya Naya ,wali dari Althaf pak" jawabku.
"Oh iyaaa mbak Naya, tunggu wali dari Imran dulu ya, jadi nanti saya jelaskan, karena dua anak ini tidak mau memberi tahu alasan mereka bertengkar" ucap pak Gani .
"Iyaa pak" aku menganggukan kepala.
Aku menggeser duduk'ku lebih dekat dengan Althaf, tatapanku mengarah bergantian pada dua anak manusia yang sama-sama menunduk di hadapanku.
"Tegakkan badan, angkat wajahmu" ucapku tegas.
Perlahan Althaf mengangkat wajahnya. Aku melihat sudut bibirnya yang sobek dan lebam di bawah mata yang membiru keunguan.
"Angkat wajahmu, siapa tadi ? Aaah yaa Imran" ucapku.
Lalu perlahan Imran juga mengangkat wajahnya.
Aku juga melihat wajahnya yang lebam dan hidungnya terdapat darah yang mengering.
"Apa saya boleh minta obat P3K pak?" Tanyaku melihat ke arah pak Gani.
"Boleh mbak, sebentar saya ambilkan" ucapya lalu mengambil obat p3k di dalam laci lalu menyerahkannya padaku.
Aku mengambil 2 kapas dan revanol , aku berikan masing-masing pada Althaf dan Imran. Aku melihat raut wajah bingung mereka tapi mereka tidak berani bersuara.
"Bingung?" Tanyaku dan mereka mengangguk.
"Obati wajah kalian satu sama lain, Althaf bantu obati Imran yang sudah kamu pukul, dan Imran bantu obati wajah Althaf yang juga kamu pukul, kalau kalian tidak mau biar mbak yang bantu" seringaiku.
"Nggak ,nggak biar kita obatin sendiri aja"jawab Althaf cepat.
__ADS_1
"Bagus kalau gitu, ayo lakuin"jawabku.
Aku melihat mereka berdua seperti enggan menggobati satu sama lain membuatku jengah .aku mengambil kapas dan menuangkan revanol lalu aku menekan di wajah Althaf yang luka, aku melakukan hal yang sama pada Imran. Mereka berdua berteriak mengaduh.
"Diam" teriak'ku membuat mereka berdua terdiam. "berantem kayak preman aja berani, di obatin kok menye-menye" cibirku.
"Maaf pak, saya tidak bisa menunggu wali dari Imran karena saya juga harus kembali bekerja"ucapku menatap ke arah pak Gani.
"Iyaa gapapa mbak" ucapnya.
"Boleh saya ajak adik saya pulang sekarang?"tanyaku.
"Boleh mbak, silahkan"jawabnya.
"Imran, kamu mau bareng mbak atau mau nunggu jemputan" tanyaku pada Imran yang terlihat sendu, aku melihat ada luka dalam tatapan matanya yang dia sembunyikan.
"Saya ikut mbak Nay aja" jawabnya.
"Boleh pak" tanyaku pada pak Gani.
Aku ,Imran dan Althaf berjalan beriringan ke parkiran.
"Ngapain lu ikut-ikut, nggak puas lu fitnah gue" ucap Althaf ke Imran membuatku menghentikan langkahku.
"Dek, masuk mobil. Kalian duduk di belakang" ucapku.
Althaf dan Imran masuk dan duduk di bangku belakang.
Aku masuk ke dalam mobil dan melirik ke 2 remaja yang duduk bersama tapi saling membuang muka, membuatku mendesah kasar
"Kita cari makan dulu, setelah itu mbak antar kalian pulang" ujarku.
Begitu sampai warung makan CERIA, aku memesan 3porsi nasi ayam geprek lombok ijo, dan 3 es jeruk.
"Kenapa kalian berantem?" Tanyaku duduk di hadapan mereka.
__ADS_1
"Dia nuduh aku ambil uangnya mbak, aku nggak pernah nyuri, uang yang mbak Nay sama kak Nuha kasih udah lebih dari cukup, ngapain aku nyuri lagi" ucap Althaf berapi-api.
"Bener uangnya di curi sama Adik mbak? Berapa uang yang di ambil, coba bilang nanti mbak ganti" ucapku pada Imran membuahkan protes dari mulut Althaf.
"Mbaaak Nay, mbak nggak percaya sama aku?" Protesnya tapi tak ku hiraukan, arah pandangku tetap mengarah pada Imran yang terlihat ragu ingin berbicara.
"Bicaralah, mbak nggak bakal marah atau menghakimi kamu" ujarku.
"Aku nggak suka sama Althaf mbak, papa selalu banding-bandingin aku dengan Althaf, dia juga merebut cewek yang aku suka mbak" jawabnya.
"Cewek apa, aku nggak pernah rebut cewek siapa-siapa" tukas Althaf.
"Anggita, gue udah lama suka sama dia, tapi dia sukanya malah sama loe" tunjuknya pada Althaf.
Aku memegang kepalaku yang rasanya mau pecah, masalahnya hanya sepele tapi dasar anak Abege ya begitulah.
"Makan dulu, habis ini kalau mau lanjut berantem silahkan, mbak nggak bakalan menghalangi" ucapku menyodorkan makanan ke arah mereka.
Kami makan dalam diam. Makananku habis terlebih dahulu. Aku menatap Althaf dan Imran bergantian. Menghembuskan nafas perlahan sebelum berbicara.
"Kalian masih muda, cinta juga masih cinta monyet, suka juga masih suka-sukaan, rugi kalau berantem hanya karena cewek, Adek! adek bener nggak suka sama Anggita?" Tanyaku pada Althaf.
"Ya nggaklah mbak, aku sukanya sama Clarisa" ucapnya keceplosan dengan wajah merona dan langsung menutup mulutnya
"Cihh, yang kata kamu kutubuku itu"ejek.ku dan Althaf terdiam.
"Pffftt" Imran menahan tawa.
"Nggak usah ketawa lu, lebih baik Clarisa kutubuku tapi jelas anak baik-baik, daripada Gita ke sekolah kok pakai rok mini" sindirnya membuat Althaf memicing.
"Udaah, diem!sudah jelaskan Imran kalau Althaf sukanya sama kutu buku"ucapku menahan tawa melihat Althaf mendelik"dan masalah papa kamu, kamu bisa belajar bareng sama Althaf di rumah, nanti biar Nuha yang bantu" lanjutku.
"Beneran boleh mbak?" Ucap Imran berbinar.
"Tentu saja" jawabku.
__ADS_1