Hot DuRen (Duda Keren)

Hot DuRen (Duda Keren)
Bab 41


__ADS_3

Malam ini aku mencoba menelfon Rizwan melalui dr. Wanda ,tapi ternyata dr. Wanda lebih dulu mengabarkan padaku kalau Rizwan pulang ke jogja dengan penerbangan sore tadi.


Aku melihat jam dinding menunjukkan pukul 8 malam, aku segera mengganti bajuku dan keluar kamar.


Nuha dan Mama sedang menonton TV di ruang keluarga, aku menghampiri mama dan mengambil tangannya untuk berpamitan.


"Ma, aku ke rumah Rizwan dulu ya" pamitku.


"Nggak besok aja mbak?" Tanya Nuha


"Iyaa kenapa nggak besok aja Nay" Mama ikutan bertanya.


"Takut Rizwan kabur ke surabaya lagi Ma" ucapku seraya keluar rumah.


"Inget main gitar sama nyanyinya jangan kenceng-kenceng ini udah malem" tegurku pada duo curut yang sedang bersantai di teras


"Mbak Nay mau kemana?" Tanya Althaf saat aku menaiki motor metic ku.


"Mau ke rumah Rizwan, nanti pintu aja kuncinya, kakak bawa kunci cadangan" ucapku lalu melajulan motorku.


Aku membawa motorku sedikit.lebih kencang dari biasanya karena jalanan yang lenggang.


25menit kemudian aku sampai di depan rumah Rizwan. Aku turun dari motor dan merapikan rambutku sebelum melangkah ke pintu.


Tok tok tok


"Assalamualaikum"


Tok tok tok


"Assalamualai__kum"


Aku dan Rizwan sama-sama mematung, lalu dengan cepat aku menubruk badannya, memeluknya erat seolah takut kalau dia akan pergi lagi.


Aku merasakan punggugku di usap lembut.


"I miss you so bad" lirihnya tepar di telingaku.


"Hikss dasar jahat ya kamu, minta di hajar" aku memukul manja dadanya di iringi isak tangis.


"Hey jangan menangis, iyaa aku salah, aku minta maaf okay".Rizwan menahan tanganku lalu kembali mendekkapku.


Aku merasakan pelukan yang dulu terasa sangat kokoh kini mulai rapuh, tubuh yang dulu begitu besar kini menjadi kecil.

__ADS_1


"Kamu naik motor sendiri ke sini?" Tanya Rizwan melirik ke arah depan dan menemukan motorku yang terparkir.


Aku hanya menganggukan kepalaku sebagai jawaban. Lalu Rizwan menuntunku duduk di kursi yang ada di teras.


"Kenapa nggak besok saja?" Tanyanya berjongkok di depanku dan mengusap tanganku.


"Takut kamu pergi lagi" cicitku menunduk membuat Rizwan terkekeh.


"Hey, kamu kenapa gemesin banget sih. Aku nggak bakal kemana-mana lagi, aku stay di sini" ucapnya mencium tanganku yang terdapat cincin darinya di jariku.


"Minggu depan aku ke rumah ya , aku bakal lamar kamu secara resmi" ucapnya serius.


"Iyaaa" aku mengangguk senang lalu memeluknya 


"Kamu pulang ya, besok kesini lagi gapapa, atau besok aku saja yang ke rumah" ucapnya mengusap kepalaku lalu berdiri.


"Besok biar aku aja yang kesini,aku pulang ya" aku berdiri dan kembali memeluknya.


"Jangan pergi-pergi lagi" ucapku lirih.


"Iyaa" jawabnya mengecup puncak kepalaku.


Berat rasanya harus pulang padahal baru sebentar kami bertemu, tapi aku juga sadar kalau ini sudah malam dan Rizwan juga pasti butuh istirahat.


Sepanjang jalan aku terus saja tersenyum, aku tak dapat menyembunyikan kebahagiaan saat Rizwan bilang bahwa 1 minggu lagi dia akan melamarku secara resmi, rasanya tidak sabar menunggu hari itu tiba.


Aku membeli martabak sebelum pulang ke rumah. Setelah dapat martabak aku kembali ke rumah dan mendapati rumah sudah sepi. Aku membuka pintu menggunakan kunci cadangan lalu masuk dan meletakkan Martabak di meja dapur.


Aku masuk ke dalam kamar dan melihat ponselku ternyata ada satu pesan dari Alan.


Papi Ara [Ucapan saya tadi tidak main-main Nay, saya tunggu jawaban kamu] .


"Tidak main-main katanya, dasar duda gila. Atas dasar apa dia mengajakku menikah dengan tiba-tiba" gerutuku tanpa membalas pesannua.


Aku mengirim pesan pada Rizwan kalau aku audah sampai di rumah. Nomorku sudah tidak di blok lagi oleh Rizwan.


Aku menanti balasan dari Rizwan samoai ketiduran.


Dddddrrrrrttt


Ddddrrrrrrttt


"Eennggghh" leguhku lalu meraba ponselku yang ada di atas nakas .

__ADS_1


"Hallo" ucapku.


"Baru bangun Nay?" Tanya orang di sebrang sana.


Aku melihat nama Rizwan yang tertera di layar ponsel.


"Iyaa mumpung libur" jawabku.


"Kamu jadi ke rumah nggak?" Tanyanya membuat mataku terbelalak.


"Jadi dong, aku mandi dulu ya bye" aku memutus sambjngan telplfon lalu berlari ke arah lemari mengambil baju sebelum mandi.


Pukul 9 pagi aku baru bergabung di meja makan, .


"Pagi ma" aku mengecup pipi Mama.


"Sarapan dulu Nay" ucap Mama.


"Iyaa Ma" aku mengambil secentong nasi di piring lalu melahapnya, .


"Ma aku ke rumah Rizwan ya. Sama Rizwan semalam bilang sama aku kalau minggu depan  mau kesini ngelamar aku secara resmi" aku berucap dengan wajah merona


"Alhamdulillah" uvao Mama san Nuha bersamaan.


Ada gurat kebahagian yang sangat nampak di wajah Mama san juga Nuha.


Aku memesan taksi online untuk peegi ke rumah Rizwan.


Sepanjang jalan aku tersenyum sendiri membayangkan minggu depan , tentang acra lamaran kami.


Aku sampai di depan rumah Rizwan tapi aku melihat ada gadis yang mencoba meraih tangan Rizwan namun selalu di tepisnya.


Aku masih bertahan di dalam mobil untuk menyaksikan interaksi Rizwan dan gadis itu. Rizwan terus saja mengabaikan gadis itu dan sesekali menepis tangan yang menyentuhnya.


Aku segera keluar dari salam mobil setelah membayar dan berjalan dengan anggun ke arah Rizwan dan gadis itu.


"Pagi menjelang siang" sapaku penuh ceria


"Dia siapa Riz?" Aku menatap ke arah gadis itu.


"Di sebenarnya___"


...Dia dia hanya dia....

__ADS_1


...Hanya diaaaa aaaaa eaaak hoobbbahh 😂😅...


__ADS_2