
Aku meminta Nuha memanggil Alan di rumah untuk membantu membawa Desti ke rumah sakit.
"Tolong ya Mas" ucapku pasa Alan yang baru saja sampai di rumah bi Denok.
Akhirnya Alan menggendong Desti san memasukan ke mobil di jok belakang di temani bi Denok.
"Dek, bilangin sama mama Mbak ikut ke rumah sakit. Kamu tolong bantuin mama jagain Ara, jangan nunggu Mbak kalau mau tidur tidur duluan aja gapapa, Mbak titip Ara ya" ucapku sebelum masuk ke samping kemudi.
"Iya mbak" jawab Nuha.
_____
Alan melajukan mobilnya dengaN sedikit lebih kencang, aku menoleh kebelakang melihat bi Denok yang memeluk Desti dengan penuh kasih sayang.
25menit kemudian mobil yang di kendarai Alan sampai di depana rumah sakit, aku segeera turun dan meminta perawat membantu membopong Desti.
"Biar si cakep aja yang gendong" ucap Bi Denok saat seorang perawat pria akan membopong Desti.
"Si cakep siapa sih bi?" Tanyaku mengerutkan dahi.
"Itu loh , yang nyetir tadi" bi Denok mengerlingkan matanya membuat Alana menggeleng pelan.
"Ini mau di bantu sama perawat apa enggak, kalau enggak mending pulang aja! Bibi aku turunin di jalan nanti" ketusku.
__ADS_1
"Iyo iyoo, Mas tulong Mas di angkat anakku mas" ucapnya dengan gaya khas logat jawanya.
"Mas kamu pulang aja gapapa, nanti aku naik ojek aja pulangnya" ucapku pada Alan saat aku turun dari mobil.
"Saya tunggu kamu di mobil aja, nanti kalau udah selesai kamu telfon saya atau cari saya di parkiran" ucapnya lalu melajukan mobilnya tanpa mendengar jawaban dariku.
Aku segera masuk ke dalam UGD , Desti sudah di periksa oleh dokter dan Bi Denok di sisinya. .
"Boleh saya bicara sebentar di ruangan saya bu?" Ucap dokter pada bi Denok.
"Ikut aja Bi, Desti biar Nay yang jaga dulu"ujarku.
Ahirnya Bi Denok mengikuti Dokter ke ruangan, hanya 10menit bi Denok sudah kembali lagi dengan raut wajah yang di tekuk.
"Aku ke administrasi bentar ya bi" aku berdiri dan meninggalkan Bi Denok yang duduk di sebelah ranjang Desti.
"Minum dulu ni" aku menyerahkan sebotol air mineral pada bi Denok.
"Nay!" Panggil bi Denok sendu.
"Desti lagi hamil 2bulan Nay" ucap Bi Denok terisak pelan.
Aku menutup mulutku tak percaya, kalau Desti hamil kenapa bisa pulang babak belur seperti ini.
__ADS_1
"Terus janinnya gimana bi?" Tanyaku.
"Alhamdulillah selamat, tapi kenapa anak bibi bisa kayak gini Nay, bagaimana nanti Desti membesarkan anaknya? Bagaimana kalau Desri menilak anak itu?" bi Denok terus saja menangis.
Aku memeluknya dari samping dan mengusap lengannya.
"Ada Nay bi, kalau Desti nggak mau masih ada Nay yang mau merawatnya, bibi yang kuat, bibi juga harus sabar yah bi" ucapku menenangkannya.
Sungguh aku kasihan melihat bi Denok rapuh seperti ini, aku lebih suka bi Denok yang julid dan kepo daripada rapuh seperti ini.
"Kamu pulang aja Nay, biar bibi yang jaga Desti di sini" ucap Bi Denok mengusap air matanya.
"Iya bi, kalau ada apa-apa telfon Nay ya bi" aku memeluknya sebentar sebelum pergi.
Aku melangkahkan kaki keluar dan menuju parkiran, dan ternyata mobil Alan masih ada disana.
Aku mengetuk pelan kaca mobilnya dan membuat Alan terusik dari tidurnya.
"Mau pulang?" Tanyanya mengucek matanya.
"Iya, Mas pindah aja biar aku yang nyetir" ucapku karena tak tega mekihat Alan sepertinya terlihat sangat lelah.
Alan tak membantah dan langsung pindah ke samping kemudi tanpa keluar mobil.
__ADS_1
Aku masuk dan mulai menjalankan mobilnya. Ku lirik ke sebelah ternyata Alan kembali melanjutkan tidurnya.
Ganteng ehhhh. Batinku