
"Dia sebenarnya__"
"Aku teman kecilnya, kenalin aku Kia" wanita bernama Kia itu mengukurkan tangannya pada Naya.
"Naya" ucapnya menjabat tangan Kia.
"Yaudah gue pulang duluan ya Wan" Kia mengusap lengan Rizwan lalu berlalu pergi.
"Dia bukan hanya teman kecil kamu kan?" Tanya Naya menghadap ke depan setelah mengamati raut wajah Eizwan yang sedikit sendu setelah Kia pergi.
"Hanya teman, udah ayo masuk aku tadi udah masak buat kamu" Rizwan menarik tangan Naya masuk ke dalam rumah.
Rizwan menarik kursi di meja makan meminta Naya untuk duduk.
"Spesial buat kamu, aku masakin ayam panggang dengan saus ubi jalar dan panzanella" Rizwan tampak bangga dengan hasil masakannya.
"Cobain dong!" Ucapnya.
"Iyaaaa" Naya memotong sedikit ayam panggang dan di beri sausnya.
"Eemmm enak" aku memberikan dua jempol untuknya.
"Alhamdulillah" ucap Rizwan lalu ikut duduk dan makan.
"Mama kamu kemana ,kok rumah sepi banget" tanya Naya.
"Mama lagi ke tempat Om, ada acara di sana".jawabnya.
"Emmmmm" Naya menganggukan kepalanya.
Setelah makan siang Rizwan dan Naya menonton film nettflix di ruang keluarga, Naya juga memode silent untuk ponselnya hingga dia tidak tahu bahwa.ada seseorang yang terus menerus mencoba menghubunginya.
**
Di sisi lain Alan sedang menunggu Ara yang sedang di rawat di Rumah sakit karena jatuh saat bermain yang menyebabkan pelipisnya sobek dan harus di jahit.
__ADS_1
Ara terus saja menangis memanggil Naya dan juga mengeluh pusing dan sakit.
Alan sudah berusaha menghubungi Naya tapi tidak di angkat-angkat.
Hingga panggilan ke-empat barulah telfon tersambung.
"Hallo Nay, saya boleh minta tolong sama kamu, Ara sedang di rawat di rumah sakit Nay dan dia terus memanggil namamu" cerocos Alan
"Hallo"
Deg
Kenapa suara pria yang mengangkat telfon Nayla. Batin Alan.
Alan menjauhkan telfonnya guna mengecek nama orang yang dia telfon tapi memang benar itu adalah nomor Nayla.
"Hallo" suara di sebrang sana membuat Alan kembali menempelkan ponsel di telinga.
"Oh iyaa Halli, maaf kalau boleh saya tahu ini siapa ya? Ini nomor Naya kan" Tanya Alan.
"Iyaa," jawab Alan.
"Nanti saya sampaikan pada Naya kalau anda menelfon" ucap Rizwan.
"Terimakasih" jawab Alan lalu samnungan terputus.
Alan melihat Ara yang sedang tertidur karena kelelahan menangis. Alan mengusap lembut surai hitam panjang anaknya yang sangat mirip dengan mendiang istrinya.
"Maafkan papi ya sayang" Alan mengecup kening putri semata wayangnya.
Ddddrrrtttt
Dddrrttttt
"Hallo Nay"
"Ara di rawat dimana mas? Kenapa bisa jatuh sih" tanya Naya di sebrang sana dengan nada khawatir.
__ADS_1
"Di rumah sakit kasih ibu, saya yang lalai membiarkan Ara bermain sendiri Nay" jawab Alan lirih.
"Yasudah saya kesana sekarang" Naya langsung memutus sambungan telfon sepihak.
Pov Naya
Aku sungguh sangat khawatir saat mendengar Rizwan mengatakan kalau Ara masuk Rumah sakit.
Aku langsung menelfon Alan dan bertanya dimana Ara di rawat. Aku segera berdiri setelah memasukan ponsel dalam tas.
"Aku pergi ke rumah sakit dulu ya" aku menatap Rizwan yang juga tengah menatapku.
"Ayo aku anter" Rizwan menarik tanganku dan dan mengantarku ke rumah sakit.
15 menit berlalu aku dan Rizwan samoai di rumah sakit, aku setengah berlari dan mencari kamar rawat inap Ara.
Tok tok tok
Aku mengetuk pintu setelah menemukan ruang kamar inap Ara.
Pintu di buka dari dalam dan terlihat wajah Alan yang kuyu.
"Ara mana mas?" Tanyaku.
"Itu lagi tidur, masuk aja! Kamu sama siapa kesini?" Tanya Alan membuatku tersadar kalau aku terlalu khawagur dan buru-buru hingga meninggalkan Rizwan yang mencari parkir.
"Sama Rizwan mas, tapi dia aku tinggal . Aku buru-buru tadi" aku menepuk jidatku.
"Papii" rintih Ara
Aku langsung berjalan ke ranjang dan mengusap kepalanya.
"Ara" panggilku membuat Ara membuka mata
"Tante Nay" Ara langsung memelukku dan menangis, mengadukan kepalanya yang terasa sangat sakit.
"Kamu disini saja, biar saya yang mencari Rizwan" Alan langsung berjalan keluar tanpa mendengar jawabanku.
__ADS_1