Hot DuRen (Duda Keren)

Hot DuRen (Duda Keren)
Bab 32


__ADS_3

Aku keluar dari kamar setelah mengganti baju, dan bergabung dengan yang lain di ruang tamu.


"Udah beli blm kartunya?" Aku mencomot martabak telur lalu mencocolnya pada sambal.


"Udaah kok Mbak, ini kartunya" Imran menyerahkan Simcard nya padaku, aku memberikannya pada Nuha.


"Simpen dek" ucapku karena melihat wajah bingung Nuha.


"Ara lagi nonton apa sih dari kok dari tadi asik banget sama nenek?" Tanyaku menjewel pipi Ara.


"Lagi liat ini tante" dia menunjukkan tayangan Hi-5 .


"Mas berangkat jam berapa ?" Aku bukannya tidak tahu kalau dari tadi dia terus melihat ke arahku.


"Sebentar lagi" jawabnya setelah melihat jam di pergelangan tangannya.


"Mobilnya saya tinggal disini aja Nay, saya ke Bandara naik taksi" lanjutnya.


"Loh kok naik taksi, di bawa aja gapapa" ujarku.


"Gapapa, siapa tahu kamu butuh" ucapnya lalu melirik ke arah Imran dan Althaf yang sudah asik Mabar.


Aku menghembuskan nafas pelan. Ya mungkin besok aku harus mengantar dua curut itu ke sekolah.


"Biar saya antar aja  Mas, saya ganti baju dulu" aku segera masuk ke dalam kamar dan mengganti celana selutuku dengan celanan panjang dan jaket juga tas.


"Mau berangkat sekarang?" Tanyaku setelah berganti pakaian.

__ADS_1


"Boleh. Tante saya berangkat sekarang ya, maaf kalau selama 3 hari ke depan saya dan Ara akan merepotkan tante" Alan mencium tangan Mama berpamitan.


"Gapapa Nak Alan, tante malah seneng ada temennya di rumah, jangan merasa sungkan" jawab Mama.


"Ara nggak boleh nakal ya sini, jangan ngrepotin nenek. Okey" Alan memeluk dan mencium anaknya membuatku terharu, dulu aku juga anak kesayangan Pappa.


Aku menoleh ke samping saat Nuha memelukku dan menyandarkan kepalanya di bahuku.


"Jadi inget Papa ya Mbak" ucapnya lirih.


"Iyaaa" aku mengusap kepalanya.


*


Di perjalanan, Alan dan aku masih sama-sama diam.


"Salut kenapa?" Tanyaku.


"Dalam menyikapi permasalahan teman adik kamu tadi" jelasnya.


"Oohh, saya hanya tidak ingin mental anak itu lebih rusak , aku juga tidak habis pikir ,kok ada ya seorang Ayah yang tega memukul anaknya sendiri, apa dia tidak berpikir kalau di pukul itu sakit, sakit di badan itu bisa ilang tapi sakit di hati dan pikiran itu pasti akan berbekas" selalu berapi-api dan penuh emosi kalau ada mengingat orang tua yang menyiksa anaknya.


"Hahaaa, sudah-sudah kenapa malah emosi gini" Alan memberiku air minum kemasan yang belum di buka.


"Maaf maaf mas kelepasan" aku langsung meneguk air minum itu.


"Saya minta tolong kamu buat bukain air minumnya kenapa malah kamu minum"ucapnya membuatku tersedak.

__ADS_1


"Ukkhukkkkkk" hidung dan tenggorokanku terasa perih dan Alan malah tertawa. Dasar ya Duda satu ini.


"Hahahaaaaaa, sorry sorry" ucapnya mengusap kepalaku.


*


Kami akhirnya sampai di Bandara, aku ingin mengantar sampai ke dalam tapi di cegah Alan.


"Sampai sini aja" ucapnya aku mengangguk.


"Emh Nay" Alan tiba-tiba memelukku membuatku menegang.


"Makasih dan Maaf" Alan memegang wajahku dengan kedua tangannya dan mencium bibirku.


Aku ingin memberontak tapi tubuhku seakan menghianatiku. Aku malah memejamkan mata menikmati sentuhan lembut bibirnya.


Air mataku mengalir tanpa ku minta membuat Alan menghentikan ciumannya lalu menghapus air mataku.


"Maafkan saya Nay" ucapnya menyatukan kening kami lalu kembali memeluk'ku.


Aku mendorong tubuhnya dan menyuruhnya untuk masuk.


"Nay saya suka sama kamu!"ucapnya lantang saat aku membalikkan badan.


...Nah lo gimana, gimana nasib Riizwan Nay....


...Inget koe masih punya Rizwan....

__ADS_1


...Tapi kalau mau sama Mas Duda juga gapapa. 😆...


__ADS_2