Hot DuRen (Duda Keren)

Hot DuRen (Duda Keren)
Bab 25


__ADS_3

Aku sampai di kantor melerakkan tas dan pergi ke pantri untuk menyeduh coklat panas.


Aku kembaki dan sudah ada Vivi dan Eri di meja.


"Geng ambil oleh-oleh di mejaku, tapi seadanya yaa" ucapku.


"Waah aku mau ini deh mbak, kayaknya enak" Vivi mengambil keripik salak.


"Aku ini aja mbak" Eri mengambil keripik apel.


"Okeeee" jawabku.


Klek


"Bagi-bagi apa lu Nay? Sembako?" Ledek Given yang baru tiba.


"Iyaaa, lu nggak boleh minta"sinisku.


"Yaelah pagi-pagi udah galak aja lu Nay"jawabnya.


"Ntar makan siang bareng gue, nggak ada penolakan!" Ucapku saat Given akan membuka ruangannya.


"Iyaa" jawabnya melihat wajahku yang datar.


Sampai pukul 10 Risa belum datang.


"Vi, si Risa kemana ?" Tanyaku


"Sakit mbak , udah ijin juga kok" jawabnya.


"Yaudah, ntar sore kita jenguk deh" ucapku.


*


"Jadi makan siang bareng nggak Nay" tanya Given di dekat mejaku.


"Jadi, gue save kerjjaan gue dulu" ucapku.


"Kita makan di cafee depan kantor aja,ada yang mau gue tanyain sama lu" ucapku menatap mata Given datar.


Aku berdiri setelah mengambil tas dan berlalu keluar mendahului Given.


Kami sampai di cafee dan memesan makanan, aku masih diam saja dan tidak mengeluarkan sepatah katapun sampai makanan kami di antarkan.

__ADS_1


"Ada apa sih Nay?" Tanyanya.


"Makan dulu aja" jawabku acuh.


"Gimana gue mau makan kalau lu kayak gini, gue ada salah sama lu Nay ? Ngomong dong. Gue nggak suka ku diem aja kayak gini"ujarnya mengiba.


Aku menundukan wajahku lalu mendongak menatap matanya.


"Jujur sama gue, lu tahu keadaan Rizwan kan ?" Mataku memerah menahan tangis.


"Kenapa sekarang diem aja, lu tahu kan da  ku diem aja Ven" seruku menangis.


"Gue kayak orang bego tahu nggak, gue di putusin gitu aja kemarin, gue tahu dia nggak bener-bener mau putus"tangisku mulai sesenggukan.


Given berdiri dan memelukku dari samping.


"Sorry Nay, Rizwan yang minta gue buat diem" jawabnya.


"Kenapa lu mau brengsek"raungku memukul lengannya.


"Sorry Nay sorry"lirihnya.


"Sekarang ceritain semuanya, jangan ada yang di tutupin lagi, please" aku mulai mekunak.


FLASHBACK


"lu ngapain ada disini, lu sakit apa?" Tanyaku.


"Jenguk temen gue" jawab Rizwan tersenyum.


"Jangan bohong, gue tadi liat ku keluar dari ruangan dokter Andi" ucapku.


Rizwan terdiam dan mengajak'ku duduk di taman Rumahsakit, aku sedang menjenguk sepupuku yang kecelakaan ketika melihat Rizwan masuk ke ruangan dr.Andi karena di dorong rasa penasaran akhirnya aku menunggu sampai Rizwan keluar dari ruangan itu.


"Gue didiagnosis dokter kena leukimia Ven"ucapnya sendu.


"Lu bercanda kan ?" Tanyaku tak percaya.


Rizwan terkekeh "kalau saja itu cuman candaan gue pasti seneng banget, tapii sayangnya itu serius"


"Stadium berapa?" Tanyaku


"3"jawabnya singkat

__ADS_1


Aku menoleh "kenapa nggak pernah bilang"


"Buat apa? Toh umur juga udah ada yang ngatur kan"jawabnya.


"Jangan kasib tahu Naya, gue nggak mau kihat dia sedih. Lu tahu kan secinta apa gue sama dia"lanjutnya. Aku hanya diam mendengarnya.


"Padahal rencananya tahun ini gue mau ngelamar dia, tapi karena penyakit sialan ini rencana dan impian gue buat bersanding dengan Naya harus pupus" aku melihat Rizwan menyeka airmatanya.


Aku tahu bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan cinta Naya.


"Seenggaknya Naya harus tahu keadaan lu Wan" ucapku membuat Rizwan terkekeh miris.


"Dan buat dia sedih, gue nggak mau melihat tatapan kesedihan dan kasihan di matanya Ven"ucapnya "gue perlahan-lahan bakal ninggalin dia, tolong lu jagain Naya ya, dampingin dia terus selama gue nggak ada"lanjutnya menepuk bahuku.


"Gue nggak mau, lu jaga sendiri aja"tolakku


"Gue tahu ku juga suka sama Naya kan"


Deg


"Dari cara lu natap dia , lu memperlakukan dia juga udah keliatan Ven, jadi nggak usah kaget gitu"kekeh Rizwan.


"Perjuangin cinta lu, gue bakal pergi"ucapnya menepuk bahuku lalu pergi.


FLASHBACK OFF


Setelah mendengar cerita Given tadi siang (skip tentang perasaan Given) aku  lebih sering melamun, pekerjaan banyak yang salah.


Pukul 3 aku berdiri dan pamit pada teman-teman kalau aku pukang duluan, aku juga menitipkan uang untuk Vivi dan Eri yang akan menjenguk Risa.


Aku mengendarai motorku ke taman dimana Rizwan menyatakan cintanya padaku.


Aku memilih duduk di bangku dan menatap Taman.


Aku mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan pada dr.Wanda yang sempat aku save nomernya kemarin malam.


Me [selamat sore dr.Wanda saya Naya yang bertemu anda kemarin di taman Sby, anda masih ingat saya] send.


Dr.Wanda [tentu saaja Naya ,salam kenal]


Aku menimbang-nimbang apa yang harus aku tanyakan pada Dr. Wanda.


"Boleh saya temani kamu duduk disini Nay"suara Alan menginterupsi membuatku menoleh.

__ADS_1


__ADS_2