Hot DuRen (Duda Keren)

Hot DuRen (Duda Keren)
Bab 48


__ADS_3

"Mbak bangun, subuhan dulu" Nuha menggoncang bahuku pelan.


Aku segera bangun dan mandi lalu melaksanakan sholat subuh.


Dddrrrrttt


Dddrrrrttt


Ponselku terus berdering di atas nakas, aku melepas mukena dan melipatnya lalu berjalan ke arah nakas untuk melihat siapa yang menelfon pagi-pagi sperti ini.


"Hallo"


"Hallo Nay, bibi mau ngabarin ini Desti udah sadar tadi juga sempet histeris karena dia sudah tahu kalau sedang hamil" ucap bibi dengan suara serak.


"Nanti Nay mampir kesana sebelum berangkat kerja bi"ucapku menenangkan Bi Denok.


"Yaudah bibi tunggu, bawain makanan juga ya, bibi laper" ucapnya.


"Iya iya" aku langsung mematikan sambungan telfon.


Aku keluar dari kamar Nuha bersamaan dengan Imran,Althaf dan Alan yang baru saja pulang dari Masjid.


Sejenak aku terpaku pada penampilan Alan yang memakai sarung warna navi dan baju koko warna putih, dia terlihat sangat tampan.


Aku menggelengkan kepalaku lalu memukulnya pelam membuat ketiga pria beda usia itu menatapku cengo.


"Ma, aku nanti ke rumahsakit dulu, Desri udah sadar. Dia juga lagi hamil Ma" ucapku saat sampai di dapur dan mendapati Mama dan Nuha sedang menata makanan di Meja makan.


"Hamil?" Ucap Nuha dan Mama bersamaan.


"Iya, makkanya nanti aku mau ke rumah sakit sekalian anterin sarapan buat bi Denok Ma" ucapku.


"Yaudah mama siapin dulu" mama berdiri lalu mengambil kotak makan dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk.


Aku membuat teh hijau sebelum duduk, aku memindai area dapur tapi tidak menemukan Ara.


"Ara mana Ma?" Tanyaku.

__ADS_1


"Masih tidur, semalem nggak bisa tidur, sempet demam juga" jawab Mama.


"Kok mama nggak bangunin Naya sih Ma" aku beediri dan menuju kamar Mama.


"Ada apa Nay?" Tanya Alan saat aku akan membuka pintu kamar mama.


"Mau liat Ara mas, kata Mama Ara semalem gak bisa tidur nyenyak sama sempet demam" aku bergegas masuk setelah menjawab pertanyaan Alan.


Aku duduk di ranjang dan menyentuh dahi Ara yang ternyata sudah tidak demam. Mungkin karena merasa terganggu karena ada yang menyentuhnya, Ara sedikit membuka matanya.


"Mami, Papi" panggilnya.


"Aku menoleh ke belakang ternyata Alan mengikutiku masuk ke dalam kamar Mama.


"Bangun sayang, sarapan dulu yuk" ucapku.


"Ara masih ngantuk mamii" ucapnya masih setengah sadar.


"Ini tante Nay sayang, bangun dulu yuk. Sarapan dulu nanti lanjut bobo lagi gapapa" aku masih merayunya agar mau bangun.


"Gendong ya tante" Ara mengangkat kedua tangannya.


"Biar papi aja yang gendong incesnya papi ini" Alan mendahuluiku untuk mengangkat Ara dalam gendongannya.


Kami bertiga keluar dan bergabung di meja makan.


Semua tatapan mengarah ke arah kami bertiga.


"Kenapa?" Tanyaku.


"Mbak Nay sama mas Alan kayak keluarga kecil yang lagi nginep di tempat mertua haha" jawab Althaf tertawa sementara yang lain mengulum senyum.


"Kamu nggak dapet uang saku dari Mbak hari ini" ucapku menghentikan tawa Althaf dan berganti rengekannya


****


Pagi ini aku di antar Alan ke rumah sakit, aku langsung masuk ke kamar rawat Desti di lantai 2.

__ADS_1


Tok tok tok


"Bi" panggilku setelah mengetuk pintu.


"Masuk Nay" ucap bi Denok.


"Ini buat bibi, bibi sarapan dulu aja" aku menyerahkan paper bag berisi makanan untuk bi Denok.


Aku melihat ke arah bi Denok yang langsung melahap sarapannya, lalu melihat ke arah Desti yang menggerakan tangannya tak lama Desti membuka mata.


"Loe ngapain disini? Mau ngetawain?" Tanyanya sinis.


Aku menyiilangkan tangan di depan dada lalu tersenyum miring.


"Tentu saja, loe jadi lemah gini. Oh iya kata bibi loe hamil? Loe kan lemah jadi gak bakalan bisa pertahanin tuh bayi kan, jadi mending langsung gugurin aja" sarkasku.


"Naya!" Teriak bi Denok dari sofa.


"Apa sih bi, kan emang bener., orang lemah nggak akan pernah bisa pertahanin anaknya" aku mengerling  ke arah bi Denok agar bi Denok mau mendukungku.


"Gue bakal buktiin sama loe kalau gue bisa lahirin ni bayi sialan" ucap Desti dengan nada tinggi.


Aku dan Bi Denok bernafas lega, lalu aku tersenyum meremehkan Desti


"Buktiin aja, nggak usah cuma  ngebacot doang" sinisku.


"Bi aku pulang dulu" aku berjalan keluar kamar Desti lalu mengusap dada dan bernafas lega karena aku yakin pasti Desti akan menepati ucapannya tadi.


Aku berjalan di koridor rumah sakit tapi netraku menangkap seseorang yang ku kenal sedang di dorong menggunakan brankar.


Di belakangnya ada bi Ningsih dan Tante Sekar yang mengikuti dengan wajah khawatir dan gelisah.


Aku mengikuti langkah bi Ningsih dan tante Sekar sampai di kamar rawat inap VIP .


Aku menutup mulutku karena ternyata seseorang yang ada di atas brankar itu adalah Rizwan.


"Rizwan, ya Allah Rizwan" aku memegang dadaku dan air mataku mengalir tanpa ku minta.

__ADS_1


__ADS_2