Hot DuRen (Duda Keren)

Hot DuRen (Duda Keren)
Bab 34


__ADS_3

Aku langsung berlari keluar rumah tanpa mendengar Althaf melanjutkan ucapannya , karena beberapa hari ini aku tidak melihat Bi Denok, pikiran negatif langsung memenuhi pikiranku.


Sampai di depan rumah mulutku langsung menganga.


"Althaf, dasar adek durhaka ya kamu, tega ngerjain kakak" teriakku sambil masuk ke dalam rumah.


"Hahahaaaaaaa, gimana mbak?" Althaf tertawa sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Kamu tuh ya, kurang ajar dasar" aku memukul kepalanya gemas sekali dengan adiku satu ini.


"Ini kenapa sih, dari tadi malem berantem terus" Omel mama saat melihatku memukul kepala Althaf dan Althaf mengaduh.


"Adek tuh Ma, masak aku di suruh liat Bi Denok lagi ngelus-elus mobil Alan sambil bergaya di depan!" Sungutku.


"Hahahahahaa, lagian aku belum selesai ngomong Mbak Nay udah lari duluan" jawab Althaf tertawa


"Kamu tuh ya dek jangan gangguin kakak kamu terus dong, sana sarapan dulu ! Imran sama Nuha udah di meja makan" titah Mama yang langsung di jalankan putra satu-satunya itu.


"Ara belum bangun Nay?" Tanya Mama.


"Belum Ma, aku cek dulu deh. Sekalian aku mandiin aja" jawabku lalu masuk ke dalam kamar.


"Araa" panggilku karena tidak menemukan Ara di atas ranjang.


"Araa!" Aku mulai khawatir karena di dalam kamar mandipun Ara tidak ada.


Aku langsung keluar dan ke dapur, mungkin saja dia lapar atau haus jadi langsung pergi ke dapur.


"Dek liat Ara nggak ?" Tanyaku.


"Enggak" jawab Nuha dan Althaf bersamaan.

__ADS_1


Aku lamgsung mengacak acak rambutku fruatasi.


"Kata kamu tadi Ara belum bangun Nay" Tanya Mama.


"Tadi masih tidur Ma waktu aku keluar tadi, gimana dong Ma" aku mulai cemas dan panik.


"Kamu tenang dulu, kita cari sama-sama ya" ucap Mama lalu kami semua berdiri mencari Ara.


Di depan rumahku bi Denok juga sudah tak terlihat.


"Ma gimana dong" aku benar-benae cemas saat ini.


"Bentar mbak, mbak denger nggak suara bi Denok marah-marah, ada suara anak kecil cekikikan juga kayak suaranya Ara" Althaf yang kebetulan berdiri tepat di pagar pembatas antara rumahku dan bi Denok bersuara.


"Kita cek duku aja dek" ajakku melangkahkan kaki ke rumah bi Denok yang kebetulan pintunya juga terbuka lebar.


Dari luar suara bi Denok yang marah-marah terdengar semakin jelas.


"Iyaaaa kanjeng mami" jawab anak itu cekikikan.


Membuat aku, Althaf , Imran dana Nuha saling melempar pandangan lalu mengulum senyum.


"Assalamualaikum" salam kami .


"Walaikummsalam" sahut bi Denok dari dalam.


"Nah ini nih biang keroknya, bawa tuyul kamu pulang, bikin pusing aku ae" bi Denok langsung langsung mengomeliku.


"Tuyul apasih bi" jawabku santai lalu Ara muncul dari belakang badan bi Denok.


"Ara sayang, tante nyariin kamu tadi" aku langsung berjongkok dan memeluknya.

__ADS_1


"Ara nggak kemana mana, Ara cuma main ke tempat kanjeng mami kok tante" jawabnya polos.


"Kanjeng mami" dahiku berkerut lalu melirik ke arah bi Denok yang masih menatap interaksiku dengan Ara.


"Hahahaaaaaa, maaf maaf" aku langsung tertawa mendengar nama panggilan untuk Bi Denok dari Ada di tambah wajah bi Denok yang cemong terkena tepung.


Aku menahan tawaku laku melihat ke belakang.


"Dek bawa Ara pulang, tolong mandiin sekalian ya, abis itu kamu boleh berangkat kerja" ucapku sedikit mendorong Ara pada Nuha yang langsung di angguki Nuha.


"Althaf sama Imran tunggu mbak dulu, abis ini mbak anter kalian ke sekolah, mbak mau bersihin dapur bi Denok dulu"ucapku pada dua curut.


"Telat dong mbak nanti, kita ada kuis pagi soalnya. Kita naik angkot aja Mbak, kita berangkat abis ambil tas di rumah" jawab Althaf mencium tanganku dan di ikuti Imran  yang melakukan hal yang sama.


Setelah dua curut itu pulang, aku langsung menarik bi Denok ke dalam rumah.


"Biar Nay yang bersihin  dapur bibi" ucapku.


"Jangan anneh-aneh ya Nay" peringat bi Denok dengan telunjuk yang mengarah kepadaku.


"Heheee," cengirku.


"Bi Denok hari ini keren banget bajunya, abis senam ya bi" tanyaku sambil membersihkan dapur bi Denok yang sudah seperti kapal pecah ini.


"Iyalaahh, biar sehat, kulit juga kenceng. Kamu juga harusnya rajin senam, nggak males-malesan, makanya nggak laku-laku kan" ucap Bi Denok besar kepala sembari mengejekku.


"Aku juga suka olahraga kok bi, tapi bajunya nggak ada ventilasinya kayak punya bibi gitu" ucapku menahan tawa.


"Ventilasi opo, ndak jelas kamu itu" ucapnya tak terima.


"Itu di ketiak belakang sebelah kiri ada ventilasinya, gede lagi, makanya nggak kepanasan ya bi" aku langsung menyemburkan tawaku kala melihat wajah masam bi Denok.

__ADS_1


__ADS_2