Hot DuRen (Duda Keren)

Hot DuRen (Duda Keren)
Bab 53


__ADS_3

"Baba Giv kerja dulu ya boy" Given beranjak dari tempat tempat duduknya seraya mengusap puncak kepala Almeer.


"Oceee baba" jawab Almeer masih menikmati ice cream nya.


"Gue berangkat ya Nay" ucap Given padaku.


"Oceee baba" aku menirukan ucapan Almeer lalu kami tertawa.


Aku masih menatap Almeer yang masih menikmati ice creamnya, sesekali aku mengusap bibirnya yang belepotan.


"Pelan-pelan dong sayang, bajunya juga jadi kotorkan" aku mengusap ice cream yang terjatuh di bajunya.


Ddddrrrrttttt


Ddddrrrrttttt


Aku melihat ponselku yang bergetar dan berkedip-kedip pertanda ada telfon masuk.


Aku tersennyum saat mengetahui nama Mama yang tertera di layar ponsel.


[Hallo nenek, assalamualaikum]


[Walaikumsalam, ini mama udah selesai pengajiannya, kamu mau jemput mama atau mama yang ke tempat kamu] tanya mama.


[Nay sama Almeer aja yang jemput sekalian mampir ke Mall ma, beli baju sama nemenin Almeer mainan] jawabku.


[Yaudah, mama tunggu sekarang ya. Assalamulaikum]


[Walaikumsalam]


Aku memasukan ponselku ke dalam tas setelah panggilan terputus dan melihat Almeer yang juga melihat ke arahku.


"Ayo boy, kita jemput nenek terus kita mainan ke Mall" ucapku.


"Yyeeeeeeey, kita ke Mall" Almerr mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sembari bersorak senang.


Aku membersihkan wajahnya dengan tissue basah lalu menngendongnya ke kasir.


"Sita , saya tinggal dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi saya saja" ucapku pada Sita yang bertugas menjaga kasir.


"Siyaap Mbak" jawabnya.


"Saya duluan ya semua, assalamualaikum" aku berpamitan pada semua pegawai yg ada.


"Walaikumsalam" ucap mereka serentak.

__ADS_1


Aku berjalan ke mobil lalu membukanya dan meletakkan Almeer di carseat.


"Are you ready?" Tanyaku


"Leadyyy (ready) go" teriaknya.


Aku melajukan mobilku dan menyetel sholawatan untuk menemani perjalanan kami.


"Bunna" panggilnya.


"Ya honey" jawabku melihatnya sekilas lalu kembali fokus ke arah jalan.


"Al mau cekolah" ucapnya.


"Iya sayang, nanti kita cari tempat yang cocok buat Almeer ya, atau besok Al mau ikut Onty Nuha mengajar?" Tanyaku.


"Onty Nuha? Mau Bunna" jawabnya senang.


Aku membelikkan mobilku di Masjid Agung dan memarkirkan mobilku, lalu mengirim pesan pada Mama kalau aku sudah sampai.


Tak butuh waktu lama Mama keluar dan menghampiri mobilku.


"Cucu nenek" Mama menciumi wajah Almeer saat membuka pintu.


Aku hanya tersenyum melihat interaksi Mama dan Almeer.


"Ma" sapaku lalu mencium punggung tangannya.


"Kamu pulang ke rumah aja Nay, Mama kangen kumpul bareng" ucap Mama saat sudah berada di dalam mobil.


"Yakan sebulan sekali Nay pasti pulang Ma,  atau Mama mau ikut Nay tinggal di apartemen?" Tanyaku.


"Lalu gimana Nuha sama Althaf kalau Mama ikut kamu" jawab Mama.


"Nuha kan udah mau nikah juga Ma, nanti kalau Nuha udah Nikah. Mama sama Athaf tinggal sama Nay aja ya" ucapku sembari menjalankan mobil.


"Di rumah itu banyak kenangan sama Papamu Nay, mama nggak bakal nisa ninggalin rumah itu" ucap Mama sendu.


"Nay tau Ma. Nay janji akan sering-sering pulang ke rumah" ucapku menenangkan mama.


Aku menengok ke arah Almeer yang duduk di pangkuan Mama.


Aku tersenyum mengingat saat pertama kali menggendong anak itu ketika baru terlahir di dunia.


Kesedihanku kehilangan Rizwan memudar secara perlahan karena adanya Almeer.

__ADS_1


Aku juga masih ke rumah Rizwan sesekali untuk melihat keadaan tante Sekar.


Aku juga membawa Almeer, dan tante Sekar juga terhibur jika aku dan Almeer datang berkunjung. Tapi sayang, tante Sekar harus berpulang menyusul suami dan anaknya 3bulan yang lalu karena kecelakaan.


"Ayo kita turun" ucap Mama pada Almeer saat aku memarkirkan mobil.


"Kemoooonn nenek" teriaknya membuat mama langsung tertawa dan mengejar Almeer yang sudah berlari.


Aku mengunci mobil dan berjalan mengikuti Mama dan Almeer.


Aku sedang menunduk mencari-cari ponselku yang berada di dalam tas.


Brrruuuukkkk


"Maaf maaf" ucapku karena tak memperhatikan jalan.


"Naya" panggilnya membuatku langsung mendongak.


"Mas Alan" aku tersenyum ke arahnya karena tak menyangka akan bertemu lagi setelah 2 tahun lebih tak bertemu dan tak berkomunikasi setelah aku dengan tegas menolak perasaannya.


"Kamu sama siapa kesini?" Tanyanya melihat ke arahku tanpa berkedip membuatku risih.


"Itu samaa___"


"Bunna ayo, buna kenapa lama sekali" Almeer menghampiriku dan menarik tanganku.


"Sebentar sayang, ini ada temannya Buna. Kenalin dulu ini namanya uncle Alan" aku mengenalkannya pada Alan.


Alan mengernyitkan dahinya lalu menatap ke arah Almeer lalu menatapku dengan raut wajah yang tak bisa ku artikan.


"Papii" ucap Almeer membuatku dam Alan sama-sama tersentak.


"Bukan papi Al, tapi uncle Alan" aku membenarkan.


"Tapi Al mau papi Buna" ucapnya merajuk.


Aku melihat ke arah Alan yang hanya diam saja, lalu aku mengalihkan pandangan ke arah Mama yang menyusul Almeer ke arahku.


"Almeer sama nenek dulu ya" ucapku.


Tapi bukannya menuruti ucapanku, Almeer malah berjakan ke arah Alan dan memegang jari-jari Alan, saat aku akan melangkah mencegahnya Alan malah berjongkok dan menangkup wajah Almeer.


"Kamu boleh panggil uncle Papi boy" ucapnya tersenyum lembut. Tak sadar aku ikut tersenyum .


"Iyakan Buna Naya" ucapnya tiba-tiba melihat ke arahku membuatku salah tingkah.

__ADS_1


__ADS_2